Sisi Keindahan dan Keunikan Dibalik Pusaka Keris (Tosan Aji)


Tirtanews.id - Perjalanan Keris sebagai salah satu puncak kebudayaan bangsa setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya sampai pada Keris Indonesia telah diakui oleh UNESCO sebagai Karya Agung Budaya Dunia Warisan Kemanusiaan pada tanggal 25 November 2005, penilaian UNESCO tersebut didasarkan pada aspek non bendawi yang melingkupi sebilah Keris, yang meliputi aspek Sejarah, Seni, Tradisi,  Falsafah,  Simbolisme dan Mistik.

Pengakuan UNESCO telah menjadikan perkembangan dunia perkerisan beserta budaya yang melingkupinya semakin pesat, hingga saat ini beragam rencana aksi dan telah disusun dan dilaksanakan sebagai tindak lanjut pengakuan dari UNESCO. Untuk itu persoalan pelestarian budaya perkerisan menjadi tanggung jawab kita bersama baik pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, maupun perseorangan.

Istilah Keris berasal dari kata "kres" yang mengacu pada suara atau bunyi senjata tikam ketika digunakan untuk menusuk atau mengiris, pada perkembangan zaman selanjutnya kata "kres" berubah menjadi "Keris" yang tetap mengacu pada suara atau bunyi ketika senjata tikam digunakan.

Keris tidak sekedar hasil kriya logam atau senjata tikam untuk jarak dekat, dua aspek meliputi Keris baik bendawi maupun non bendawi membuat Keris berbeda dengan seni kriya logam lain yang berbentuk senjata, dari sifat bendawinya Keris terbuat dari material terpilih ditempa lipat yang rumit, dibentuk serta pahat diukir dengan keahlian yang tinggi dan secara tradisional.

Misal untuk mendapatkan material baja, besi wasuhan serta meteorit, emas, kuningan serta perunggu, sang empu perlu memasak dengan suhu yang sangat tinggi bahan pasir atau batuan serta batuan meteor yang jatuh ke bumi yang kemudian menghasilkan murni biji baja, besi wasuhan serta meteorit, meteor adalah benda angkasa yang jatuh kebumi yang kemudian dimasak sehingga menghasilkan biji meteorit, 

Sedangkan pasir dan batuan yang dimasak menghasilkan biji baja dan biji besi yang disebut besi wasuhan,  luar biasa pada zaman masih sangat tradisional, empu sudah bisa memilih dan membedakan serta memisah hasil pasir batuan yang dimasak sehingga menghasilkan biji murni baja, besi wasuhan,  meteorit, emas, kuningan juga perunggu, dimana saat itu ilmu metalurgi belum berkembang pesat seperti saat modern ini.

Dalam proses pembuatan Keris, material baja ditempatkan ditengah bilah berfungsi sebagai mata tajam ( slorog),  sedangkan besi wasuhan berfungsi sebagai kelenturan sehingga tidak mudah patah ( saton), Sedangkan meteorit  berfungsi sebagai penguat besi wasuhan yang menambah bilah menjadi lebih kuat dan kokoh, penggabungan besi wasuhan dengan meteorit juga memberikan nilai tambah yaitu keindahan pada bilah yang membentuk guratan atau garis bergambar yang disebut pamor, 

Seiring kemajuan zaman semakin maju juga seni penciptaan pamor pada bilah Keris, misal di era yang lebih tua yang cenderung berpamor tiban atau sejadinya,  sedang kan dikemajuan zaman pamor bisa direkayasa sehingga membentuk pola gambar sesuai rencana sang empu yang umum disebut pamor rekan.

Bahkan di Keris milik bangsawan kerajaan ada yang ditambahi material emas yang ditatah menyerupai misal bentuk hewan, dedaunan juga bunga,  semakin tinggi jabatan di kerajaan semakin tinggi pula tingkat kelas kinatah emas nya, tingkatan kelas kinatah emas pada Keris disebut wedono, semakin tinggi wedono nya semakin tinggi pula jabatan dan kasta nya di kerajaan.

Keris selain sebagai senjata, pusaka juga simbol status sosial,  contoh di masyarakat para pemilik Keris sabuk inten ( Luk 11 ) beliau umumnya memiliki tingkat perekonomian menengah ke atas secara logika dari tingkat pembuatan yang sulit dan rumit karena lekukan  sampai 11 dan tentunya menambah nilai keindahan juga tinggi nilai seninya otomatis semakin lama proses pembuatan dan semakin mahal pula nominal harga untuk memilikinya.

Makanya rata rata pemiliknya yang memiliki Keris sabuk inten tingkat ekonomi menengah ke atas, contoh lainya Keris nogo sosro dimana pada bilah ditatah diukir membentuk motif naga yang jelas sangat indah dipandang dan sangat tinggi nilai seninya, dan biasanya ditambahkan material kinatah emas, Keris nogo sosro pada zamannya diperuntukkan  kepada bangsawan atau pejabat berpangkat di kerajaan, 

Tak heran juga sampai saat ini pula Keris nogo sosro dimiliki oleh para pejabat negara, secara logika karena nominal yang mahal untuk mendapatkanya, dan masih banyak contoh lain yang terjadi di masyarakat.

Detail detail bagian yang diletakkan pada bilah Keris disebut dengan ricikan, anatomi ricikan pada bilah Keris akan mempengaruhi penamaan Keris yang disebut Dhapur, secara garis besar Keris Jawa dibedakan dengan bentuk lurus ( lajer)  dan berkelok ( Luk).

Keris yang dibuat pada zaman yang berbeda dan ditempat yang berbeda tentunya akan menghasilkan tampilan fisik bilah Keris yang berbeda pula, penampilan bilah Keris dengan gaya zaman dan gaya kedaerahan tertentu  disebut dengan istilah tangguh.

Mengenal era atau tangguh pembuatan Keris :

1. Kabudhan ( abad 6 - 9 )
2. Kahuripan ( abad 11 )
3. Jenggala ( pertengahan abad 11 )
4. Singosari ( pertengahan abad 11 )
5. Madura sepuh ( abad 12 - 14 )
6. Pajajaran ( abad 12 - 14 )
7. Segaluh ( abad 13 )
8. Tuban ( abad 12 - 18 )
9. Blambangan ( abad 12 - 13 )
10. Mojopahit ( abad 13 - 14 )
11. Pengging Witaraydya ( abad 13 an)
12. Demak ( abad 14 )
13. Pajang ( abad 14 an )
14. Mataram Senopaten ( abad 14 an - 15 an)
15. Mataram Sultan Agung ( abad 16 )
16. Mataram Amangkurat  ( abad 17 )
17. Kartosuro ( abad 18 )
18. Surokarto ( 1726 - 1945 )
19. Yogyakarta ( 1755 - 1945 )
20. Kamardikan ( 1945 - sekarang)

Pengakuan dunia atas budaya kita khusus nya Keris pada 25 November 2005 membuat kita bangga sekaligus bersiap diri untuk melaksanakan amanat dunia. Untuk mempertahankan budaya Keris Indonesia kita bersama perlu tindakan pelestarian,  diantaranya :

1. Ada upaya pelestarian yang melibatkan komunitas
2. Ada tindakan pelestarian yang diusulkan untuk pelestarian skala prioritas, penanggung jawab dll.
3. Komitmen dari komunitas, kelompok atau pun perseorangan
4. Komitmen Pihak Negara untuk mendukung upaya pelestarian Keris Indonesia.

Maka demi kemajuan bersama kita perlu meluruskan kesalah fahaman seputar Keris,  kebanyakan orang awam sering mengaitkan dengan hal yang berkaitan dengan mistik, dianggap berlawanan dengan agama,  ketinggalan zaman,  benda yang berbahaya yang tidak perlu dilestarikan.

Atas kesalahpahaman tentang Keris menunjukkan betapa ilmu pengetahuan sangat penting untuk menyadarkan masyarakat Indonesia, peran aktif diri pribadi, para pemuka agama juga para pejabat Negara diharapkan juga dapat menjembatani kesalahpahaman dengan Keris dalam masyarakat.

Harapan besar kepada para generasi muda untuk selalu melestarikan Keris Indonesia.

0 Komentar

0 Komentar