50 Hektar Untuk Penggembalaan Lebah Madu di Logung

Peternak lebah madu di kandangmas

Tirtanews.id - Kudus, (Minggu, 27/9/2020). Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Pati (Jawa Tengah) memberikan lahan seluas 50 hektar untuk lokasi penggembalaan petani lebah madu klaster Kabupaten Kudus. Lokasinya berada di kawasan waduk Logung yang berada di wilayah perbatasan wilayah Kecamatan Dawe dengan Kecamatan Jekulo Kabupaten Kudus.

Sejumlah petani lebah madu klaster Kudus, bersama dengan Administratur KPH Pati, Akhmad Taufik, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Kudus), Catur Sulistiyanto dan kalangan proyek waduk Logung melakukan penanaman tahap pertama sekitar 200 bibit tanaman. Diantaranya kapuk randu dan kaliandra.

Ketua Persatuan Perlebahan Jawa Tengah (PPJT) klaster Kudus, Muskan menyatakan terimakasihnya atas pemberian lahan untuk “angon” (gembala) lebah. “Ini suatu perhatian yang luar biasa. Untuk langkah pertama, lahan seluas itu sudah bagus. Meski idealnya kami ingin lahan terbuka hijau mencapai 350 hektar di wilayah Kudus. Mengingat total jumlah koloni/stup/sarang lebah kami mencapai sekitar 3.000 unit.,” ujarnya.

Ia menambahkan, dengan diberikannnya lahan untuk penggembalaan ternak lebah madu tersebut, cukup lumayan untuk mengurangi biaya transportasi. Sebab sejak terjadinya penebangan pohon kapuk randu secara besar-besaran di wilayah Gunung Muria ( masuk wilayah Kabupaten Kudus, Jepara, Pati), maka mengakibatkan lahan penggembalaan berkurang drastis. Peternak terpaksa harus mencari lokasi penggembalaan baru di luar daerah .

Bahkan menurut, Suyono, salah satu anggota PPJT Desa Kandangmas Kecamatan Dawe(Kudus), dia dan sejumlah temannya terpaksa menggemabala kea rah timur, yaitu sampai ke Banyuwangi ( Jawa Timur). Sedang yang kea rah barat hingga Subang,(Jawa Barat).. Butuh waktu berminggu-minggu.

Diungkapkan juga untuk mengangkut sarang lebah yang umumnya setiap unit terbuat dari bahan kayu , bambu, berbentuk kotak panjang 50 centimeter , lebar 40 centimeter, tinggi 20 centimeter , diangkut dengan truk.

Truk berangkat pada sore hari, dan harus tiba di tujuan sebelum siang. Sebab jika berangkat siang kemungkinan besar ratu lebah maupun maupun lebah pekerjanya mati."Bisa dibayangkan, berapa besar biaya yang harus kami keluarkan,” tuturnya.

Hasil penelitian

Menurut hasil penelitian Asmanah Widiarti dan Kuntadi dari Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Bogor (2012) di Kecamatan Gembong Kabupaten Pati (berbatasan dengan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus) yang tergolong pusat budidaya lebah madu nasional, bersama Jawa Barat dan Jawa Timur., ada enam permasalahan pokok dalam budidaya lebah madu (apis mellifera).

Budidaya Lebah Madu

Penurunan sumber pakan dan kekurangan dana merupakan dua masalah utama. Kemudian menyusul kurangnya penyuluhan manfaat perlebahan , pembinaan teknis, penurunan kualitas ratu dan hama .

Adapun jenis tanaman sumber pakan yang paling diandalkan sebagai penghasil madu adalah kapuk randu (Ceiba pentandra). Tanaman ini banyak terdapat di Kabupaten Pati, Batang, Jepara, dan Kudus ( Jawa Tengah) serta Kabupaten Pasuruan dan Probolinggo ( Jawa Timur).

Tanaman lainnya yang termasuk dalam kelompok utama penghasil madu adalah karet (Hevea braziliensis) dan rambutan (Nephelium lapaceum). Dua jenis tanaman ini banyak terdapat di Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta, ( Jawa Barat.)

Selain jenis-jenis tersebut masih ada beberapa jenis tanaman penghasil madu lainnya, namun tidak termasuk dalam kelompok utama karena jumlah tegakannya yang relatif sedikit dan sebarannya terbatas. Misalnya kopi (Coffea sp.), kaliandra (Caliandra callothyrsus), dan sonobrit (Dalbergia sp.).

Pohon kapuk randu yang menjadi andalan utama penghasil madu makin menurun jumlah dan kualitas tegakannya. Hal ini diduga berkaitan dengan semakin banyaknya masyarakat yang beralih dari penggunaan kapuk untuk bahan dasar kasur dengan dacron dan busa, sehingga pohon randu banyak yang ditebang karena menurunnya permintaan dan kebutuhan kapuk.

Data statistik perkebunan dari Kementerian Pertanian (2011) mengkonfirmasikan penurunan areal kebun randu tersebut. Di Provinsi Jawa Tengah, angka penurunan luas areal kebun randu antara tahun 2000- 2009 mencapai 44%, yaitu dari 79.779 ha pada tahun 2000 menjadi tinggal hanya 44.666 ha pada tahun 2009.

Penebangan tidak hanya pada tanaman randu yang sudah tua tetapi juga yang masih produktif. Oleh karena itu banyak perusahaan pengodol kapuk randu yang gulung tikar, demikian juga pabrik minyak klentheng (biji kapuk) berhenti sejak lima tahun terakhir akibat kelangkaan bahan baku.

Penyusutan luas tegakan pohon randu tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, wilayah Jawa Timur juga mengalami hal yang sama. Hal ini menambah kesulitan bagi para peternak lebah mengingat kebun- kebun randu di Jawa Timur termasuk wilayah penggembalaan koloni A. mellifera dari berbagai daerah

Data statistik pertanian untuk komoditi perkebunan mencatat terjadinya penurunan luas areal kebun randu di Jawa Timur sebesar 10% antara tahun 2000-2009, yaitu dari total luasan sebesar 89.028 ha pada tahun 2000 menjadi tinggal 79.955 ha pada tahun 2009 (Kementerian Pertanian, 2011).

Bahkan selain merosotnya berkurangnya jumlah dan kualitas tegakan tanaman sumber pakan, ternyata masih adanya penolakan kedatangan koloni lebah oleh sebagian petani/pekebun.

Mereka mengganggap lebah menyebabkan rontok bunga sehingga potensi pembuahan berkurang. Beberapa peternak lebah menginformasikan bahwa penolakan para petani/pekebun tidak jarang bersifat sangat ekstrim dengan mengancam membakar stup-stup lebah atau menjungkir-balikkannya.

Penolakan dan pengusiran kedatangan koloni lebah antara lain terjadi di Purwodadi (Jawa Tengah) oleh petani jagung dan Subang (Jawa Barat) oleh pemilik kebun rambutan. Ini merupakan hal yang sangat ironis mengingat di negara lain lebah madu justru sangat dibutuhkan para petani/pekebun untuk meningkatkan produksi pertanian/perkebunan.

Nilai produk pertanian/perkebunan yang memanfaatkan jasa penyerbukan oleh lebah madu di berbagai negara mencapai US$ 14,6 milyar di Amerika Serikat (Morse & Calderon, 2000), $A 0,97 milyar di Australia (Gordon & Davis, 2003), $Can 0,4 milyar di Kanada (Scott-Dupree et al., 1995), € 4,3 milyar di Eropa (Bornek & Merle, 1989).

Burgett (2011) menginformasikan bahwa penghasilan utama mayoritas peternak lebah di wilayah barat Amerika Serikat berasal dari jasa penyewaan koloni, dengan biaya sewa tahun 2010 berkisar dari yang termurah sebesar US$ 3225 untuk penyerbukan buah strawberry dan yang termahal sebesar US$ 13720 untuk buah almond (biaya sewa rata-rata keseluruhan jenis buah sebesar US$ 7085)

Solusi yang ditawarkan

Guna mengatasi berbagai masalah tersebut, sebagian besar peternak lebah madu menghendaki perlunya pengembangan areal tanaman sumber pakan di kawasan hutan.. Seperti sonokeling (Dalbergia sp.), akasia (Acacia sp.), kaliandra (Caliandra callothyrsus), sengon (Paraserianthes falcataria), dan kapuk randu (Ceiba pentandra).

Peternak memandang penting adanya aturan angon (areal penggembalaan) agar tidak  terjadi rebutan , seperti yang selama ini sering terjadi, di mana peternak Pati sendiri kesulitan mendapatkan lokasi karena sudah diserbu oleh peternak dari luar daerah. Disarankan jarak angon antar peternak berkisar 300-500 meter.

Untuk perlindungan tanaman pakan yang ada, khususnya tegakan kapuk randu, disarankan agar aturan penebangan pohon randu diterapkan kembali dengan sangsi yang tegas. Pada tahun 2001 pernah terbit peraturan daerah yang mengatur soal penebangan pohon randu, yaitu bila menebang satu pohon kapuk randu maka punya kewajiban menanam kembali sebanyak tiga pohon, namun aturan ini dalam pelaksanaannya mengalami kesulitan, karena tidak adanya sangsi yang tegas.

Bagi peternak yang umumnya memiliki keterbatasan modal, diharapkan sekali adanya subsidi harga gula, karena komponen biaya ini sangat berat. Selain itu juga adanya bantuan peralatan untuk memproduksi polen dan royal jeli karena selama ini hanya beberapa peternak saja yang sudah memproduksinya.

Saran berikutnya adalah adanya standar harga jual madu curah dengan besaran sekurang- kurangnya tiga kali harga gula pasir. Selama ini, peternak seringkali terpaksa menjual hasil madunya dengan harga murah saat panen karena harus segera melunasi utang pembelian gula

Peternak juga mengharapkan adanya subsidi bantuan bibit ratu unggul agar dapat meningkatkan produksi madu. Meskipun para peternak memiliki kemampuan menangkarkan ratu, namun mereka menyadari bahwa penangkaran yang berulang-ulang dari sumber bibit yang sama akan menghasilkan ratu yang semakin merosot kualitasnya. Subsidi diperlukan mengingat harga bibit unggul cukup mahal sehingga tidak terjangkau oleh para peternak.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar