Benarkah Rogomoyo, Arsitek Pendopo Kabupaten Kudus

Pengeret tumpang sanga Rogomoyo

Tirtanews.id - Kudus, (Selasa, 29/9/2020). Sampai menjelang akhir September 2020 belum diketahui secara pasti- berdasarkan hasil kajian, tentang sosok Rogomoyo sebagai arsitek- pelaksana pembangunan pendopo Kabupaten Kudus.

Para guru sejarah hingga Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) yang ditetapkan Dinas Kebudayaan Pariwisata (Dibudpar) Kabupaten Kudus nampaknya juga belum tergerak untuk menelitinya.

Buku tentang Data Arsitektur Tradisional Kudus yang disusun berdasarkan penugasan dan pengawasan Ir Wibowo selaku pimpinan proyek dan Ketua Tim Studi/ Penanggung Jawab Ir Andi Siswanto Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Tengah, awal Januari 1986 tidak/belum menyebut nama Rogomoyo.

Menurut mantan Kepala Bidang Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dibudpar) Kudus, Sancaka Dwi Supani, Rogomoyo, diduga adalah arsitek sekaligus pelaksana pembangunan pendopo Kabupaten Kudus pada abad ke XV.

Hal ini berdasarkan cerita rakyat dan diperkuat dengan ditemukannya sebuah siku dari besi berukuran 20 x 34 centimeter dan jangka ukuran tinggi 15 centimeter.Ditambah sebuah kitab dengan sejumlah gambar wayang kulit, semacam denah dan berbahasa Jawa Kawi dan Arab Paragon, yang sebagian diantaranya sudah dimakan rengat, sehingga hilang tak berbekas.”Sayangnya sampai sekarang kami belum mampu menterjemahkan kitab tersebut.

Meski sempat minta bantuan ke Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah. Jika ada perorangan atau lembaga yang mampu menterjemahkan kitab tersebut kami sangat berterimakasih, sehingga bakal terkuak apakah benar Rogomoyo tersebut memang arsitek dan pelaksana pembangunan pendopo Kabupaten Kudus,” tegas Sancaka yang kini menjabat sebagai Sekretaris Kecamatan Kota Kudus, sekaligus anggota Ketua Lembaga Penjaga dan Penyelamat Karya Budaya Bangsa (LPPKBB) Kabupaten Kudus

Buku, jongko, siku Rogomoyo

Barang bernilai sejarah ini sempat diperlihatkan jurukunci Makam Ragamoyo, Miran (54) kepada Tirtanews yang disaksikan sejumlah penduduk dan perangkat desa Kaliwungu..

Sedang Munasri warga setempat mengaku , sebagian rumahnya yang berasal peninggalan orang tua dan tinggal menyisakan empat saka papat dan tumpangsari adalah buatan Rogomoyo..

Rumah keturunan Rogomoyo

Sedang peninggalan lain yang ditunjukkan perangkat desa, berupa sebuah wuwungan dan tumpukan batu bata bermotif ukir-ukiran yang ditempatkan di dalam mushola pedukuhan setempat.

Mantan Kepala Desa Kaliwungu, Martoyo menambahkan, untuk menghormati karya dan mengenang sosok Rogomoyo tersebut, sejak sekitar tujuh-delapan tahun terakhir pihaknya menggelar kirab budaya yang berlangsung setiap bulan Muharam .” Sekitar 20 persen penduduk kami memang dikenal sebagai tukang kayu, sekaligus pengrajin ukir yang mumpuni. Ini juga berkat keahlian Rogomoyo tempo dulu yang disebar luaskan ke penduduk desa setempat,” tuturnya.

Cerita rakyat

Sedang menurut buku yang ditulis Zunahah, kelahiran , Kudus, 1 Februari 1968 , sarjana agama (IAIN Walisongo 1996), mantan guru Mts Miftahul Ma’arif (1995 – 2004) dan sekretaris Desa Kaliwungu :Rogomoyo seorang ulama dan arsitek rumah joglo pencu tunpang songo serta serta gebyok ukir rogo moyo . Dalam perjalan dakwahnya dibantu shahabat-sahabatnya yaitu Mbah Rogo Perti, Mbah, Rogo Joyo, Mbah Rogo Dadi serta juru masak mbok Sumi dan mbok Rasemi. Sampai sekarang belum diketahui silsilah keturunannya..Ada yang menyatakan berasal dari Solo..

kenong kemung Rogomoyo

Pada tahun 1830 Rogomoyo pergi ke Kediri meminta petunjuk seorang ulama yang bernama Agus Burhan menantu Bupati Kediri yang dikenal Empu Ronggo Warsito.. Dia diminta berdakwah ke arah barat dan akhirnya tiba Dukuh Prokowinong Desa Kaliwungu Kecamatan Kaliwungu Kabupaten Kudus. Rogomoyo juga dikenal sebagai ahli pertukangan dibidang ukir kayu

Hal itu menjadikan Kanjeng Kyai Adipati Ario Condronegoro III Bupati Kudus periode 1812 – 1837 mengutus seseorang untuk menemui Rogomoyo agar bersedia hadir di rumah dinas bupati,

Setelah bertemu dengan bupati, Rogomoyo diminta untuk membangun pendopo Kabupaten Kudus . Disanggupi dan mampu diwujudkan. Sebagai tanda terimakasih Kanjeng Kyai Adipati Ario Condronegoro III memberi gelar dengan sebutan Rogomoyo yang mulia.

Rogomoyo meninggal pada Rabu Legi, namun tidak diketahui tanggal dan bulannnya. Ia dimakamkan di pekuburan desa setempat, bersama sahabat karibnya Rogo Perti, Rogo Joyo, Rogo Dadi dan abdinya Sumi serta Rasemi . Setiap tanggal 13 bulan Syuro, digelar prosesi mengganti kain luwur di komplek makam tersebut . Diiringi dengan berbagai kegiatan religi: khataman al-Qur’an, pengajian umum, tahlil umum, pembagian nasi berkah hingga kirab budaya .(Grace)

0 Komentar

0 Komentar