Tangis, Ratusan Pengojek Di Terminal Wisata Bakalan Krapyak

Menunggu calon penumpang ojek

Tirtanews.id - Kudus, (Minggu, 27/9/2020). Tangis ratusan tukang becak, pengojek, tukang dokar dan pedagang kaki lima yang sehari harinya mangkal di komplek terminal wisata Bakalan Krapyak nampaknya tidak dilihat dan disaksikan para “penggedhe” di Kabupaten Kudus. Setelah terminal wisata ini dibuka – dioperasikan kembali sejak sekitar sebulan lalu.

Tangis artinya menurut kamus Bahasa Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa : ungkapan perasaan sedih (kecewa, menyesal dan sebagainya) dengan mengucurkan air mata dan mengeluarkan suara tersendat-sendat.

Hal ini disebabkan, bus bus yang menaik-turunkan penumpang di terminal dan terletak hanya sekitar dua kilometer dari kantor pusat pemerintahan kabupaten (Pemkab) Kudus, hanya sekitar 10 – 15 bus . Itu pun hanya setiap Sabtu, Minggu atau hari libur. Sedang setiap hari hanya satu dua bus saja.

Menurut karyawan Dinas Perhubungan (Dishub) yang bertugas di Terminal Wisata Bakalan Krapyak dan tidak bersedia disebut identitasnya, setiap bus rata rata mengangkut penumpang 30- 40 orang saja.

Baca JugaDi Terminal Wisata Bakalan Krapyak Latihan Stir Mobil dan Sepeda

Dengan demikian bisa diperhitungkan setiap Sabtu dan Minggu (khususnya) dan hari libur lainnya, jumlah penumpangnya ( baca peziarah/wisatawan) hanya 300-400 hingga 450 – 600 orang saja. Lalu untuk setiap harinya 40 – 80 orang.

Para penumpang tersebut selanjutnya berziarah menuju ke komplek Masjid Menara- Makam Sunan Kudus. Mereka bisa memilih becak, dokar, ojek/motor atau mobil angkutan umum. Dengan mengeluarkan biaya antara Rp 16.000 – Rp 20.000/orang. Sebagian kecil memilih jalan kaki. Lebih ngirit sembari olahraga, karena jaraknya hanya beberapa ratus meter saja.

Jika memilih naik ojek motor biayanya Rp 8.000/ jalan. Jumlah pengojeknya tercatat 250 orang saja. Jika semua pengojek “turun ke lapangan”, pada hari Sabtu dan Minggu atau hari besar, hanya akan mampu menarik dua kali saja. Atau maksimal tiga kali, dengan memperoleh upah Rp 32.000- Rp 48.000/hari. Belum dihitung untuk biaya makan, minum, bahan bakar minyak (bensin) dan biaya lain- lain. Di luar Sabtu, Minggu atau hari besar, sebagian besar diantara mereka samasekali tidak memperoleh penghasilan, karena tidak ada penumpang.. “Bagaimana nasib kami ini Pak. Pemerintah apakah tidak turun tangan membantu . Pak Hartopo ( pelaksana tugas bupati Kudus) bantu kami,” ujar tiga orang perwakilan pengojek yang ditemui Tirtanews.

Puluhan becak diparkir di termonal wisata Bakalanb Kraoytak

Kondisi serupa juga dialami para tukang becak yang mengkhus uskan diri pada jalur wisata Bakalan Krapyak – Masjid Menara Makam Sunan Kudus. Puluhan becak nampak terlihat di lokasi parkir bagian barat terminal tanpa ada penunpang maupun “abang becaknya”.

Seorang ibu penjual aneka jenis makanan

Lalu seorang ibu “setengah” umur, terpaksa menawarkan ke lokasi pembelian tiket ojek,dokar, becak, yang saat tirtanews berkunjung ke sana kondisinya begitu sepi. “Setiap hari ( sejak pagi hingga sore) saya hanya memperoleh penghasilan Rp 10.000 – Rp 20.000 saja. Sebenar tidak cucuk Pak, tapi kami harus makan, jadi harus bekerja keras,” ujarnya. Komplek terminal wisata Bakalan Krapyak yang sudah beberapa kali direhab dengan biaya puluhan miliar rupiah ini sekarang kondisinya merana. Para penghuninya kecewa, menyesal, sedih dan tinggal berharap para penggedhe di Kudus sudi turun tangan. Serta pagebluk Covid-19 segera berakhir.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar