Ampyang Maulid 2020 Tanpa Kirab Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Peserta kirab ampyang maulid sebelum dibreangkatkan dari lapangan sepak bola loram wetan

Tirtanews.id - Kudus, (Kamis, 29/10/2020). Kirab budaya ampyang maulid (AM) di Desa Loram Kulon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus tahun ini (Kamis, 29/10/2020) ditiadakan, karena situasi Kota Kretek tengah dilanda pagebluk Covid-19. Bahkan termasuk zona merah diantara beberapa kota/kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. “ Tahun ini digelar terbatas , sederhana , singkat dan mentrapkan protocol kesehatan secara ketat di serambi Masjid Wali At-Taqwa.” ujar Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Loram kulon, Ahmad Abhar .

Dalam buku berjudul Pesona Ampyang Maulid Masjid Wali Loram Kulon edisi pertama 2006 yang ditulis tim dengan ketuanya KH Alif Syarofi, ampyang maulid terdiri dari dua kata. Ampyang dan Maulid .

Ampyang maulud

Ampyang adalah sejenis krupuk. Terbuat dari tepung, berbentuk bulat, berwarna aneka macam. Krupuk tersebut dijadikan hiasan pada nasi dan lauk pauk yang diletakkan pada anyaman bambu berbentuk segi empat. Sedangkan kata maulid berasal dari bahasa Arab Walada,menjadi bentuk masdar maulidan yang artinya kelahiran.

AM adalah tradisi memperingati hari lahirnya Nabi Muhammad SAW. 

Masjid At-Taqwa atau lebih dikenal dengan masjid Wali itu sendiri, berada di atas tanah seluas 959 meter persegi. Didirikan Tjie Wie Gwan (Sultan Hadirin) pada tahun 1596-1597 atau abad ke 15. dan sudah beberapa kali dipugar sejak tahun 1990 an.

Sejak tiga tahun terakhir kirab budaya Ampyang Maulid (AM) diberangkatkan dari lapangan sepakbola Desa Loram Wetan menuju komplek Masjid Wali At Taqwa Desa Loram Kulon. Rute baru ini ruas jalannya lebih lebar, lurus dan hanya sekali berbelok dan masyarakat lebih leluasa untuk menyaksikannya.

Salah satu opeserta kirab ampyang mmaulid 2016

Acara ritual itu sendiri dimulai dengan sajian terbangan, pembacaan ayat suci Al Qur’an, pembacaan sholawat dan Al Barjanji, pembagian nasi kepel dari Bupati Kudus kepada Kepala Desa Loram Kulon, Loram Wetan, Ketua BPD Loram Kulon, Pengurus Masjid At Taqwa, ketua panitia dan diakhiri dengan rebutan nasi kepel antar anggota masyarakat.

Menurut Pemerintahan Desa Loram Kulon dan Pengurus Masjid At Taqwa Loram Kulonm Ikhwanuddin , fungsi AM antara lain sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, menumbuhkan rasa muhabbah kepada Nabi Muhammad SAW, media dakwah islamiyah, komunikasi kehidupan bermasyarakat dan pembinaan mental maupun perilaku islami.

Sedang tujuannya dari aspek agama, untuk mendorong masyarakat memiliki kepedulian terhadap peringatan hari-hari besar Islam. Mendorong masyarakat agar mempunyai kebisaan gemar memberikan sebagian hartanya di jalan Allah dan merangsang kepada masyarakat agar memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan syiar Islam.

Lalu dari aspek budaya , melestarikan budaya -AM sebagai media dakwah islamiyah, memperkaya budaya bangsa dan melestarikan budaya AM sebagai warisan nenek moyang.

Pada masa kolonial hingga masa menjelang penjajahan Jepang , tradisi AM berlangsung dengan baik tanpa adanya tekanan dari penguasa. Namun pada masa pemerintahan Jepang (1942-1945) tradisi AM berhenti total, karena tengah dilanda krisis ekonomi, bahan makanan dan sandang.

Baru bangkit lagi pada tahun 1947 – 1959, kemudian ambles lagi, dan bangkit lagi pada 1995 hingga sekarang . Bahkan sejak lima tahun terakhir sebelum AM lebih dahulu digelar Loram Expo (Pameran hasil produksi UMKM Desa Loram Kulon), (Grace)

0 Komentar

0 Komentar