Cagar Budaya : Omah Mode , Berganti Pemilik dan Penampakan

Handoko- Lisya di Omah Mode Juli 2011

Tirtanews.id - Kudus, (Jumat, 2/10/2020). Sudah beberapa tahun terakhir Omah Mode yang terletak di Jalan Achmad Yani nomor 38, sekitar 600 meter selatan alun alun Simpang Tujuh Kudus, berganti pemilik dan berubah jenis usaha serta (penampakannya).

Pada sekitar 2010/2011 di depan rumah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya terpasang papan nama besar Omah Mode. Kesehariannya dikenal sebagai toko sandang yang dilengkapi kolam renang, warung susu murni dan warung makan.

Namun akibat terganjal dalam bidang bisnis, Omah Mode itu beralih kepemilikan dari pasangan suami isteri Handoyo Wibowo- Lisya Santoso, kepada pengusaha rokok besar di Kudus. Akibatnya, Omah Mode itu ditutup dan bagian depannya dipagar tinggi, sehingga masyarakat hingga sekarang tidak tahu kegiatan di dalamnya.

Omah Mode menempati rumah besar yang dibangun pada tahun 1836, Pemiliknya Letnan Ong Thay Yang dan Lisya adalah keturunan/generasi ke-5, Aslinya rumah tersebut berada di atas areal tanah seluas 5.000 meter persegi dan menyatu dengan kandang dan pemerahan susu sapi, karena pemiliknya membuka usaha perusahaan susu segar yang diberi nama Ong Ing Biauw (OIB) pada 1925.

Warung susu murni OIB sejak 1925 di Omah Mode 2011

Setelah beberapa kali mengunjungi rumah-rumah kuno, rumah adat. gereja sampai makam di berbagai negara seperti Makao dan Hongkong, maupun di berbagai daerah di Indonesia, Handoko Wibowo dan Lisya Santoso, terinspirasi merenovasi rumah keluarganya menjadi rumah mode yang dilengkapi kolam renang.

Lalu rumah keluarga yang ditandai dengan banyak pintu, jendela berkuran besar dengan ketinggian rata- rata lebih dari dua meter, berbahan baku jati berkualitas tinggi, dengan bentuk dan ornamen khas ini, dan sekitar tahun 2010-011 dirubah fungsinya menjadi ”omah mode”. Tanpa samasekali merubah bentuk bangunan dan ornamennya.

Hanya menambah kolam renang dengan air jernih yang dipasok dari Gunung Muria sebanyak 100 truk tangki air, lantai dasar batu hitam, tempat pembilasan terbuka, tempat parkir dan ruang rapat. “Kami telah mengeluarkan biaya sekitar Rp 1,4 miliar” tutur Lisya .

Baca Juga : Melestarikan Omah Londo

Omah Mode yang berkembang menjadi salah satu pilihan bagi warga Kudus dan sekitarnya , menyediakan secara lengkap aneka jenis dan macam busana serta asesorisnya. Barang-barang tersebut di tempatkan pada bekas kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, hingga bekas kandang sapi Khusus untuk kandang sapi dan perusahaan OIB dipindah ke pinggiran kota sehingga tidak mengganggu lingkungan.

Meski telah berubah fungsi menjadi Omah Mode, tetapi pasangan suami isteri ini tetap membuka kedai susu sapi murni, ditambah makanan angkringan, hingga makanan minuman special, yang berada di ruang antara tembok kolam renang dengan rumah utama.

Menurut Handoko dan Lisya, meski investasi yang ditanamkan di rumah mode dan kolam renang ini lumayan banyak, tetapi samasekali bukan untuk meraih keuntungan meteriil (uang), tetapi lebih dititik-beratkan pada upaya pelestarian benda cagar budaya. “Kami lebih mengandalkan lewat usaha factory outlate yang tersebar di Semarang, Solo dan Malang. Kami akan merasa terpuaskan ketika banyak warga yang tertarik untuk ikut melestarikan bangunan kuno yang tergolong benda cagar budaya (BCB),” tuturnya.(Grace).

0 Komentar

0 Komentar