Jenazah Sang Ibu Diangkut Dengan Motor Alasannya Agar Tidak Merepotkan Warga

Video pemotor membawa jenazah yang diletakkan di atas bronjong viral di media sosial kamis-29/10/2020

Tirtanews.id - Boyolali, (Jumat, 30/10/2020). “Aksi” yang dilakukan Sutejo (60)  warga Dukuh Bantulan Desa Jembungan Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali. Kamis lalu (29/10/2020) bikin “geger”. Setelah muncul video yang memperlihatkan Sutejo mengangkut jenazah ibunya Ginem Suharti (80) dengan sepeda motor butut AD xx 41.

Motor ini di bagian belakangnya ditempatkan sepasang bronjong warna biru hijau. Lalu di atasnya ditaruh papan berukuran sekitar 1, 60 meter, lebar sekitar 40 centimeter. Di sinilah jenazah sang ibu diletakkan secara membujur, Bagian kepala berada di sebelah bronjong kiri dan kaki di sebelah bronjong kanan. Terlebih dahulu di bungkus dengan kain batik.

Agar tidak mudah terjatuh di bagian leher dan kaki diikatkan tali ukuran kecil. Sedang di bagian tengah diikatkan lagi dengan tali ukuran lebih besar dan dikaitkan dengan badan motor.

Sutejopun lalu dengan tenang melaju menuju rumah orang tuanya di Dukuh Selorejo Desa Kedunglengkong Kecamatan Simo. Jaraknya puluhan kilometer dan ditempuh melalui jalan raya yang cukup ramai lalulintasnya. Dalam video yang sempat viral tersebut sempat terdengar suara perempuan yang mempertanyakan “bungkusan” di bagian belakang motor nampaknya seperti mayat. Sutejo pun tak menjawab,

Ketika tiba di rumah ibunya, sempat Sutejo ini mengambil cangkul menuju makam setempar dan sempat menggali untuk liang lahat. Namun akhirnya dibatalkan setelah diketahui sejumlah keluarga. "Saya ya kaget, astaghfirullah hal adzim. Adik saya kok tega segitu, kok dinaikkan sepeda motor gitu, yang nggak tahu kan dikira diapa-apain. Itu sebenarnya kan sakit tua," kata Sri Suyamti (60) saat ditemui di rumah duka, Dukuh Selorejo, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo, Boyolali, Jumat (30/10/2020). 

Rumah duka jenaza yang dibawa di atas bronjong di boyolali

"Kemarin itu kalau nggak dibawa adik saya itu, ya saya carikan mobil (ambulans). Bilang sama tetangga kan pasti dibantu. Nggak mau adik saya itu ngrepotke tetangga (adik saya nggak mau merepotkan tetangga)," terang Sri Suyamti.

Ia menambahkan ibunya meninggal dunia Kamis (29/10) saat dia tak ada di rumah. Kala itu dia tengah bekerja dan ada adiknya Sutejo yang berada di rumah.

Ibunya itu baru seminggu tinggal di rumahnya di Dukuh Bantulan, Jembungan, Banyudono. Sebelumnya tinggal di rumahnya di Dukuh Selorejo, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Simo. "Saya ajak pulang ke rumah saya tidak mau. Sudah sakit itu baru diajak pulang. (Baru) Satu minggu di rumah saya, sudah sakit, kakinya sudah bengkak-bengkak," jelas Sri Suyamti.

Ketua RT 003/001 Dukuh Bantulan, Desa Jembungan, Widodo Basuki mengaku tidak tahu saat Ginem meninggal dunia pukul 08.00 WIB kemarin. Sebab, Sutejo tidak memberitahukan kepada warga setempat. Warga di sini memang banyak yang nggak tahu, kalau ibunya itu meninggal dunia dan dibawa ke Simo. Pak Tejo ini memang kurang bergaul dengan masyarakat," kata Widodo kepada para wartawan. (Detiknews/ Grace)

0 Komentar

0 Komentar