Kisah sukses Petani Muda, Trendi, Tampan dan Terkenal

Persawahan

Tirtanews.id - Kudus (Rabu, 14/10/2020). Wajah dunia pertanian menjadi segar dengan masuknya anak-anak muda sebagai petani dan peternak. Mereka bergelut dengan tanah dan kandang. Pada saat bersamaan mereka memanfaatkan internet untuk membuat terobosan bisnis. Inilah kisah petani muda Indonesia era digital.

Seorang di antara mereka adalah Rayndra Syahdan Mahmudin (24), petani muda lulusan Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Magelang yang kini sedang menempuh pendidikan S-2 di Yogyakarta.

Ia bangga dengan identitasnya sebagai petani. Kebanggaan itu tecermin dari tulisan-tulisan di kausnya. Ada kaus bertuliskan ”Peternak, Pemuda Terkenal dan Kece”, ”Petani, Pemuda Tampan Masa Kini”, ”Yo Ngarit, Yo Ngopi”.”Aku punya 22 kaus dengan beragam slogan. Ini supaya percaya diri jadi peternak dan petani milenial. Sekalian mengajak anak muda lain melirik usaha pertanian dan peternakan di desa yang potensi eko-nominya besar,” ujar Rayndra,Minggu (11/10/2020).

Sebagai petani, penampilan Rayndra tergolong keren. Kausnya cenderung melekat di tubuh,.Pakai jam tangan modis,dan celana panjang yang tidak lusuh. Ia jauh dari citra petani yang kotor dengan tanah dan kulitnya terbakar matahari.

Rayndra mulai terjun sebagai peternak saat masih kuliah S-1bersama temannya pada 2016.Ia memelihara sapi, domba, dan kambing lantaran permintaan pasar nyaris tak pernah putus.

Kini, ia memelihara 700 ekor kambing dan 20 ekor sapi di Desa Sidorejo, Desa Ngadirejo,dan Desa Pangarengan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.Ia juga memiliki usaha peng-gilingan pencacah sampah plastik dengan kapasitas 5 ton perminggu. Aset perusahaannya berkisar Rp 3 miliar.

Tidak seperti peternak konvensional, ia berusaha memanfaatkan internet untuk menawarkan konsep peternakan sederhana dan murah. Dari situ,ia bertemu dengan sejumlah investor. Ia bercerita ada investor dari Papua yang tidak pernah bertemu secara fisik,tetapi bersedia memercayakan modal Rp 100 juta kepadanya.

Di Desa Penggung, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, ada peternak muda yang tak kalah keren. Dialah Muhammad Jafar Khoerudin (26). Lulusan Ilmu Pangan dan Tek-nologi Pangan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Dua tahun terakhir, ia membudidayakan magot atau black soldier fly/BSF (Hermetia illucens) dengan skala industri lewat perusahaan BSF Boyolali. Budidaya magot, semacam lalat, masih aneh di Boyolali.Keluarga Jafar sempat mem-pertanyakan pilihan usahamagot yang dianggap tidak sepadan dengan gelar sarjana dan pengalaman kerjanya di Jepang.

Mereka menginginkan Jafar bekerja di perusahaan ternama atau jadi pegawai negeri sipil. Namun, Jafar bersikukuh dengan pilihannya beternak magot. Sejak saat itu, ia berkutat dengan bak-bak plastik berisitelur magot dan cacahan sam-pah organik. Setiap pagi, ia menggiling sampah untuk pakan magot. Setelah itu, waktunya habis untuk merawat magot. ”Aku harus membuk-tikan bahwa pilihanku berhasil. Aku belajar otodidak,” ujarJafar yang memakai uang hasil magang di Jepang sekitar Rp100 juta dan lahan 100 meter persegi untuk memulai usaha. Faktanya, usaha itu memberi hasil.

Magot yang mirip belatung punya nilai tinggi sebagai pakan ternak. Dari situ,ia menghasilkan banyak rupiah sekaligus menyelesaikan persoalan sampah. Ia juga bisa merekrut 10 karyawan.

Sementara itu, pilihan hidup sebagai petani diambil tiga anak muda dari Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang,yakni Handoko (23), Dani ZakiFauzan (20), dan Andra HasanAsrofi (20).

Awalnya, mereka mengumpulkan kotoran luwak pada 2016. Dengan panduan teman dan beberapa akun Youtube. Ia mengolah 1 kilogram kotoran itu menjadi kopi luwak seberat 800 gram. Ketika dijual, lakuRp 200.000.

Pembeli mengatakan kopi luwak mereka enak.Dari situlah mereka terlecut untuk menjadi petani kopi. Pa-da 2017, mereka benar-benar terjun sebagai petani dengan memanfaatkan 50 batang tanaman kopi peninggalan kakek Dani dan seorang petani lain.

Setahun kemudian, mereka mengembangkan ke-mampuan bertani melalui pelatihan dan pengembangan program petani binaan. Kini,di areal masing-masing, mereka membudidayakan 200 tanaman kopi arabika dan menjadi pembeli kopi hasil panen lima petani binaan.

Bagi ilmu kesuksesan petani dan peternak muda itu membuktikan pertanian di desa punya potensi ekonomi besar yang bisa digali. Pemahaman itulahyang coba ditularkan Rayndra, Jafar, Andra, Dani,dan Handoko lewat aneka ke-giatan dan pelatihan.

Rayndra, misalnya, rajin membagikan pengetahuan dan pengalaman beternak lewatakun Youtube miliknya yang kini memiliki 72.000-an sub-cribers. Ia juga mengajak anak-anak muda di desanya dan di mana saja untuk terjun sebagai peternak.

Di sela-sela kesibukan beternak magot, Jafar rajin memberi pelatihan untuk mahasiswa, kalangan industri,hingga pemerintah daerah terkait potensi magot. Pesertanya tidak hanya datang dari Boyolali, tetapi juga Yogyakarta,Tangerang, Klaten, dan daerah lain.”(Kini) anak muda mulai tertarik dengan magot. Aku masuk dengan keilmuan. Magot punya potensi untuk bahan kosmetik dan makanan bergizi. Ini butuh riset dan bisnisnya menjanjikan,” ujar Ja-far meyakinkan.

Sementara itu, Andra, Dani,dan Handoko berusaha me-libatkan lebih bayak orang untuk menanam dan merintis usaha kopi. Sejak 2018, mereka mengembangkan bibit kopi dan membagikan bibit itu secara gratis kepada siapa pun yang ingin membudidayakan kopi. Terutama warga sekitar yang mayoritas petani sayur.

Mereka juga membuat kafe kecil bernama Omah Kopi di kampung halaman mereka di Desa Gondangsari, Kecamatan Pakis, September lalu. Mereka berharap warung itu bisa jadi pemantik semangat bagi siapapun yang melihat, terutamakalangan pemuda setempat.Siapa yang mau bertani danbeternak? Kalian bisa, kok, jadi petani muda yang trendi, tampan dan terkenal.(Kompas, 14/10/2020) (Grace)

0 Komentar

0 Komentar