Koni, Askab, Manejemen, Ora Becus

ora becus.

Tirtanews.id - Kudus, (Senin, 5/10/2020). Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), Asosiasi kabupaten (Askab/PSS), Manajemen Ora Becus. Tertulis dalam huruf huruf besar pada sebuah spanduk sederhana dari bahan semacam bagor. Dibentangkan dan diikat di dua pohon, di bawah papan nama proyek pembangunan yang ada di kota Kudus.

Lalu spanduk yang dipasang di lokasi yang berbeda : Koni, Askab, Manajemen tingkatkan prestasi, bati/ prestasi. Di lokasi lain ditemukan lagi spanduk : Koni, Askab, Manajer kapan akur untuk mengurus Persiku. Sejumlah spanduk tersebut ditemukan di lokasi yang berbeda di wilayah Kabupaten Kudus, sepanjang Minggu malam (4/10/2020).

Kapan akur lur

Berdasarkan pelacakan Tirtanews, Koni, Askab, Manajemen ( yang dimaksud kemungkinan besar manajer Persiku Liga tiga ) yang dianggap tidak becus lebih terkait dengan spanduk Sepakbola hampir mati di kota industri.

Koni Kudus dengan ketua baru Anton beberapa bulan yang lalu sempat digoyang sebagian pengurus cabang olahraga (pengkab), menyangkut dana pembinaaan dan dana bagi atlet berprestasi. Pelaksana tugas (Plt) Bupati Kudus sempat turun tangan dan berhasil meredamnya.

Baca Juga : Sepakbola Hampir Mati di Kota Industri

Kemudian Askab di bawah kepemimpinan Sutrisno selama dua periode dianggap lemah- mudah diajak kompromi- terutama kompromi 86 (delapan enam). Salah satu angka sandi di kepolisian yang juga cukup popular di kalangan orang awam.

Bati/Prestasi

Manajer Persiku Liga tiga, Sutrisno yang baru beberapa bulan dikukuhkan. Ia sebelumnya juga dikenal sebagai wakil manajer Persiku Liga tiga periode 2019.

Dalam aliran dana , Koni selaku induk organisasi yang menerima dana ( termasuk dana hibah) dari APBD Kudus. Pada tahun 2020, melalui Koni, Askab menerima kucuran dana Rp 2,5 miliar. Rinciannya untuk Persiku Liga tiga Rp 1,7 miliar, untuk Persiku Yunior Rp 300 juta dan selebihnya untuk lain lain.

Baca Juga : Liga Dibatalkan, Uang APBD Untuk Apa Ya

Dari “angka” yang sudah disebar luaskan melalui media sosial ini, tercium ketidak keterbukaan pihak Koni, Askab dan Persiku Liga tiga. Apalagi muncul “siluman” bernilai Rp 780 juta yang seharusnya ketua Koni, ketua Askab dan manajer “buka kartu”.

Akibatnya Komisi D DPRD dan Hartopo turun tangan bersama. Konon hal itu bisa diselesaikan. Meski banyak pihak yang ingin hal itu dibuka kepada publik. Bukan untuk “menghakimi”, tetapi lebih bersifat koreksi yang membangun.

Koni, Askab dan Manajemen Persiku Liga tiga dalam banyak hal memang masih lemah. Terutama dalam sisi keuangan yang seharusnya sudah mentrapkan sistem elektronik yang bisa diakses semua pihak. Atau paling tidak menggunakan jasa akuntan publik. Mengingat uang rakyat yang harus dipertanggung-jawabkan cukup besar. Wajar jika semalam muncul puluhan spanduk yang “menghujat” Koni, Askab dan Manejemen Persiku Liga tiga. Jika ketiganya tidak segera menyikapi, sangat mungkin”bara kecil” ini akan membesar tanpa terkendali. (Grace)

0 Komentar

0 Komentar