Kuping Gajah Kembali “Naik Daun”

Tanaman kuping gajah

Tirtanews.id - Kudus (Rabu, 21/10/2020). Memelihara tanaman hias saat ini bukan lagi sekedar hobi. Di tengah pandemi Covid-19, kini makin banyak penggemar tanaman hias, banyak masyarakat yang terjun ke bisnis ini. Bahkan pangsa pasar tanaman hias terus mengalami tren peningkatan yang sangat baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Kebijakan pembatasan kegiatan berkumpul di luar rumah menjadikan masyarakat yang tinggal di rumah mencari alternatif baru untuk mengisi waktu senggang di rumah. Salah satu adalah memanfaatkan halaman untuk bertanam.

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto mengatakan, dengan banyaknya masyarakat berada di rumah semasa pandemi, terkuak bahwa bukan hanya kebutuhan bahan pangan untuk fisik yang diperlukan namun juga "asupan" jiwa. “Banyaknya orang yang nyaman dengan menikmati keindahan tanaman di dalam rumahnya, semacam healing, merelaksasi jiwa. Ini menjadi peluang mendorong usaha tanaman florikultura. Usaha florikultura ini mulai menjadi alternatif bisnis, terlebih akibat pengurangan karyawan di beberapa perusahaan," katanya.

Salah satu tanaman yang banyak diminati masyarakat adalah anthurium atau lebih populer dengan sebutan tanaman kuping gajah. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian bahwa tanaman anthurium merupakan salah satu komoditas binaan Direktorat Jenderal Hortikultura.

Kuping gajah merah

Tanaman anthurium memiliki potensi ekspor dan peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Karena itu, pemerintah berharap dapat mendukung target capaian Gerakan Peningkatan Ekspor Tiga Kali Ekspor Pertanian (GraTiEks) sesuai program yang dicanangkan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo.

Direktur Jenderal Hortikultura yang akrab dipanggil Anton ini, selalu mengingatkan kepada petani dan pelaku usaha hortikultura agar menerapkan budidaya hortikultura selaras Gerakan Dorong Produksi, Daya Saing dan Ramah Lingkungan (Gedor Horti). Diharapkan melalui upaya Gedor Horti, petani mampu menghasilkan produk hortikultura yang bermutu dan mampu bersaing di kancah internasional.

Kenali penyakit busuk akar :

Bagi pencinta tanaman anthurium, perlu mengenal secara dini gejala hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman tersebut, seperti busuk akar dan nematoda. Dengan mengenali ciri-ciri penyebab penyakit tanaman kesayangannya dapat terhindar dari kerusakan, bahkan kematian akibat yang ditimbulkan ke dua Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) tersebut.

Perlu diketahuti, penyakit busuk akar pada tanaman anthurium disebabkan cendawan Pythium sp. Serangan penyakit ini baru terdeteksi setelah kondisi tanaman cukup parah. Tandanya bagian tepi daun menguning dan tunas daun makin mengecil.

Jika tanaman dibongkar, tampak sebagian besar akar sudah membusuk dan mudah putus. Bagi pencinta anthurium, pembongkaran media tanam sebenarnya tidak perlu dilakukan. Cukup mendeteksi secara dini dengan cara mencermati bagian tepi daun secara berkala. Nah, jika pada bagian tepi daun muncul warna kuning seperti gejala terbakar matahari, pertanda tanaman sudah terserang penyakit busuk akar.

Untuk mengantisipasi terjadinya serangan penyakit tular tanah tersebut yang disebabkan cendawan Pythium sp, dapat dilakukan pemberian agens pengendali hayati (APH), yaitu Plant Growth Promoting Rhizhobacteria (PGPR) dan Trichoderma. Caranya, campurkan Trichoderma dalam kompos pada media tanam dan secara berkala tanaman diberi tambahan APH.

Namun jika serangan penyakit penyakit busuk akar sudah meluas dan tidak terkendali dengan APH, maka penyakit tersebut dapat dikendalikan dengan menggunakan fungisida yang sudah terdaftar di Kementerian Pertanian. Ingat sesuai dosis anjuran.

Jika sudah tidak muncul lagi warna kuning di bagian lain pada daun yang sama, maka berarti serangan busuk akar telah berhenti. Perlu diingat, meskipun serangan busuk akar telah dapat diatasi.

Pertanyaannya, bagaimana jika serangan busuk akar tersebut sudah parah? Satu-satunya upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membongkar tanaman dari media tanam.

Selanjutnya akar tanaman dibersihkan. Jika ada akar yang busuk segera dipotong dengan gunting steril, kemudian akar direndam dalam fungisida minimal 1 jam. Setelah proses perendaman selesai, tanaman segera ditanam kembali pada media baru dan diletakkan ditempat teduh. Setelah muncul akar baru, tanaman dapat diletakkan di tempat yang cukup mendapat cahaya matahari.(Sintani/Grace)

0 Komentar

0 Komentar