Mending Merokok Nganti Matek, Kebangkitan Sigaret Kretek Tangan

Merokok itu sehar 

Tirtanews.id - Kudus (Jumat, 16/10/2020). Selembar spanduk bertuliskan Merokok Itu Sehat. Merokok Ya Matek. Tidak Merokok Ya Matek. Mending Merokok Nganti Matek. Terpasang di dinding perusahaan: pabrik rokok (PR) Putra Seroja, komplek Lingkungan Industri Kecil (LIK) Industri Hasil Tembakau (IHT) Desa Megawon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus.

Tulisan itu bertolak belakang dengan tulisan yang ada pada setiap bungkus rokok yang diproduksi masing masing PR. “ Saya sempat diingatkan, tapi tidak ada yang mengharuskan agar spanduk itu diturunkan- diganti. Jadi spanduk itu tetap terpasang di sana,” ujar Sutrishono, pemilik PR Putra Seroja, yang ditemui Tirtanews pertengahan Juli 2020.

Tulisan di spanduk tersebut jika diartikan lebih luas adalah salah satu upaya agar rokok sigaret kretek yang diproduksi tetap laku di pasaran. Dengan demikian Sutrishono mampu memberikan lapangan kerja, mampu membiayai produksi.membayar pajak dan sekaligus melestarikan produk-budaya lokal. “Tentu saja saya sebagai pengusaha juga memperoleh keuntungan. Berikan kesempatan kepada kami- pengusaha rokok skala kecil tetap “hidup” tegasnya.

Nikmatnya rokok kretek

Harapannya itu terwujud. Setelah dalam beberapa bulan terakhir permintaan pasar dalam negeri- khususnya SKT melonjak drastis. Perusahaan rokok Djarum bahkan sudah membuka lapangan kerja baru untuk sekitar 10.000 – 12.000 orang.Khususnya para perempuian usia produktif untuk bekerja di SKT. Sedang sejumlah perusahaan rokok lainnya saat ini juga berebutan untuk mencari tenaga kerja baru.


Padahal gempuran bertubi tubi terhadap industri rokok nasional, melalui pemerintah, melalui lembaga non pemerintah hingga badan kesehatan internasional, nyaris membuat ambyar industri padat tenaga kerja ini.

Sudah puluhan bahkan ratusan pabrik rokok skala kecil dan menengah gulung tikar. Tinggal menyisakan sejumlah perusahaan rokok skala besar , menengah dan kecil. Itu pun jenis produksnya lebih banyak pada sigaret kretek mesin (SKM). Memproduksi rokok dengan mesin. Sedang sigaret kretek tangan (SKT) tanpa mesin dan banyak meyerap tenaga kerja nyaris ambruk.

Covid-19 yang banyak sisi sangat sangat nggerisi, sebaliknya bagi SKT menjadi berkah. Rokok konon sejarahnya dimulai dari kisah rakyat yang cukup populer Roro Mendhut- Pronocitro pada tahun 1627.

Kemudian Djamhari atau Djamahri warga Kudus yang menemukan kali pertama rokok kretek pada sekitar tahun 1870 – 1880. Kemudian Nitisemito yang juga tetangga Djamhari sebagai cikal bakal berdirinya industri rokok pada sekitar 1914. Ia dinobatkan sebagai Raja Kretek, dengan perusahaan rokok bermerek Bal Tiga (Bola Tiga).(Grace)

0 Komentar

0 Komentar