Museum Jenang, Pertama di Indonesia dan Dunia Tambah Ruang Baru Trilogi Ukhuwah

Ruang ukhuah, ruang baru museum jenang kudus

Tirtanews.id - Kudus, (Senin, 12/10/2020). Perjalanan sejarah tentang usaha di bidang jenang yang dirintis generasi pertama pasangan suami isteri H Mabruri- Hj Alawiyah (1910 – 1940). Kemudian dilanjutkan generasi kedua H Shochib Mabruri – Hj Istifaiyah dan generasi ketiga H Muhammad Hilmy – Hj Nujumullaily ( 1992- sampai sekarang), ditandai dengan pembangunan sentra bisnis dan budaya.

Bangunan berlantai dua yang berada di Jalan Sunan Muria Kudus, komplek perusahaan jenang Mubarokfood, telah diresmikan dan selanjutnya dibuka untuk umum pada menjelang akhir Mei 2017. Kini setiap hari dipadati pengunjung yang berasal dari Kudus sendiri maupun daerah lain. “Ide awal pendirian museum ini berasal dari Bapak Suprapto yang saat itu masih aktif sebagai wartawan Kompas.

Kemudian kami diskusikan dengan keluarga dan banyak pihak. Akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan gedung sentra bisnis dan budaya, yang di dalamnya antara lain berupa museum jenang. Ini merupakan museum jenang pertama di Indonesia, mungkin malah dunia,” ujar Hilmy, sapaan akrab untuk Muhammad Hilmy, selaku motor penggerak generasi ketiga Mubarokfood,

Ide pembuatan museum jenang, antara lain didasari atas arti museum itu sendiri , yaitu gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum. Seperti peninggalan sejarah, seni dan ilmu, tempat untuk menyimpan barang kuno.

Apalah artinya ketika sejarah panjang jenang kudus yang diawali sejak tahun 1910, menjadi sia-sia jika pada suatu saat terhenti di tengah jalan (bangkrut) dan tidak memiliki secuil peninggalan dalam bentuk apapun. Benda yang berhubungan erat dengan proses produksi dan umumnya tradisional, justru menjadi semakin tinggi dan ternilai harganya ketika dirawat dan dilestarikan dari generasi ke generasi.

Menurut Hilmy, gedung sentra bisnis dan budaya ini menyuguhkan kolaborasi yang unik dan cantik. Antara ruang pamer produk Mubarok dengan gambaran kearifan lokal, sejarah dan juga informasi tentang destinasi wisata yang ada di Kudus.

diorama produk jenang kudus (foto suprapto)

Hal ini merupakan upaya globalisasi yang dilakukan Mubarokfood ditengah maraknya persaingan global yang semakin ketat. Upaya global ini bertujuan untuk membumikan berbagai potensi lokal Kudus ke kancah global. “Ini merupakan bukti nyata dari kami dalam upaya mengangkat potensi dan kearifan lokal di Kudus menjadi lebih dikenal. 

Selain itu, gedung ini juga akan memudahkan bagi wisatawan yang datang untuk mendapatkan informasi tentang kota Kudus dan juga destinasi wisatanya. Glocalization atau globalisasi merupakan perpaduan dari kata globalisasi dan lokalisasi yang kali pertama dicetuskan sosiolog Roland Robetson” tambah Hilmy.

Di gedung sentra bisnis dan budaya tersaji ruang pamer jenang dan produk usaha kecil dan menengah.Museum jenang, rumah adat kudus, kudus information center, miniatur menara kudus, maket komplek menara kudus dan makam sunan kudus, pustaka menara kudus dan walisanga, mushaf Al Qur’an jumbo, diorama pasar bubar menara, dokumen koedoes tempo doeloe, batik dan bordir kudus, serta coffe corner.

Salah satu diorama di museum jenang (foto suprapto)

Manajer Marketing Mubarok Food Muhammad Kirom yang ditemui Tirtanews, Senin (12/10/2020) menambahkan museum mulai membuka ruang pamer baru- ruang trilogi ukhuwah, yang diharapkan dapat menjadi wadah edukasi untuk masyarakat dan para wisatawan,

Ruang Trilogi Ukhuwah, mengangkat tentang ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan basyariyah dengan slogan fondasi pembangunan negeri menguatkan NKRI dan jadilah perekat umat.

Ruangan itu menggambarkan kerekatan yang diwakili oleh ormas keagamaan terbesar di Indonesia, yakni Nhadlatul Ulama dan Muhammadiyah. Di dalam ruangan itu juga terdapat foto berukuran besar pendiri NU dan Muhammadiyah, serta foto-foto ketua PBNU dan PP Muhammadiyah dari masa ke masa. “Sebenarnya kami bersiap menambah koleksi berupa replika stasiun kereta api Wergu, ruang auditorium atau ruang audio visual, dan ruang praktik manasik haji. Namun karena Covid-19, kami tunda lebih dahulu. Posisi perusahaan belum memungkinkan.( Grace/Tim)

0 Komentar

0 Komentar