Parit Raksasa Ngemplak Dipenuhi Enceng Gondok Dinas PUPR Setengah Hati, Lebih Memilih Membangun Citywalk

Enceng gondok memenuhi  parit raksasa Desa Ngemplak Undaan Kudus - Foto Grace

Tirtanews.id - Kudus (Kamis, 22/10/2020). Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus nampaknya setengah hati dalam menangani parit raksasa di Desa Ngemplak Kecamatan Undaan. Namun justru lebih mementingkan pembangunan Citywalk ( jalur pejalan kaki di dalam kota-dalam hal ini di Jalan Sunan Kudus). Padahal dari banyak sisi, parit raksasa itu lebih banyak manfaatnya.


Pada posisi Kamis (22/10/2020), parit raksasa dengan panjang lima kilometer, lebar 30 meter dan kedalaman lima meter, nyaris 100 persen permukaannya dipenuhi tanaman enceng gondok.

Di sisi kanan parit sebagian besar telah dibangun jalan usaha tani (JUT) dari pihak Dinas Pertanian. Sebagian besar kondisinya retak di bagian tengah. Namun masih cukup layak untuk dilalui sepeda motor.

Jalan di tepi parit raksasa Ngemplak yang belum tersenuth JUT (foto Grace)

Bila program JUT ini terus dijalankan- dilanjutakan- termasuk sisi kiri dan kualitasnya ditingkatkan, sangat menunjang mobilitas angkutan pertanian. Mengingat JUT itu cukup leluasa untuk dilalui mobil/truk, meski hanya satu jalur.

Parit raksasa ini dibangun pada tahun 2007 dengan dana Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2007 sebesar Rp 7 miliar. Saat itu Kepala Dinas Pekerjaan Umunnya Arumdiyah. Dan sebenarnya tergolong embung skala menengah, hanya saja bentuknya memanjang seperti parit. Sedang embung pada umumnya berbentuk empat persegi sama panjang

Dalam kurun waktu 13 tahun terakhir, parit raksasa ini nyaris tidak berfungsi secara maksimal. Sebab, tujuan pembangunannya adalah untuk tempat menampung air dalam jumlah banyak dan digunakan sebagai sumber irigasi. Sawah di Desa Ngemplak khususnya dan desa sekitarnya akan memperoleh pasokan air yang cukup. Dengan demikian menjamin kelangsungan hidup tanaman dan itu identik dengan peningkatan kesejahteraan petani.

Saluran air dari parit raksasa Ngemplak (Foto Grace)

Namun perjalanan selama 13 tahun terakhir Dinas PUPR tidak lagi sepenuhnya menangani parit raksasa ini. Lumpur yang seharusnya dikeruk pada setiap tahun sekali atau pada periode tertentu, belum sekalipun dilakukan. Padahal tingkat sedimentasinya sangat tinggi. Termasuk pembersihan tanaman enceng gondok.

Selain itu juga tidak ditindak lanjuti dengan pembangunan pintu pintu air dan pengadaan mesin mesin pompa air. Pada pertengahan tahun 2017, Kepala PUPR Kudus Samani Intakoris pernah menyatakan pada tahun tersebut telah dianggarkan untuk pembangunan pintu air di empat titik.

Pentingnya pintu air

Menurut Ulu-Ulu (Kepala Urusan) Pengairan Desa Ngemplak, Arif Rahman untuk mengembalikan tujuan pembangunan parit raksasa mengairi sawah dan penanggulangan bencana banjir, pihaknya sangat berharap kepada Pemkab Kudus untuk secepatnya membenahi. Terutama membangun delapan pintu air di wilayah Desa Ngemplak dan paling tidak lima pintu serupa di Desa Karangrowo.

Dengan dibangunnya pintu-pintu air tersebut, maka air parit yang berasal dari sungai Juwana dan dari curah hujan bisa “dikendalikan” sesuai kebutuhan. “Namun karena tidak (belum) adanya pintu-pintu yang dimaksud, maka kedua desa masih dilanda banjir maupun kekeringan. Meski dalam kondisi tertentu (tidak dilanda banjir) maka kami mampu panen dengan baik., karena kelompok tani Desa Ngemplak sudah mampu membeli 32 unit pompa air dengan ukuran rata-rata 8 inchi” ujar Arif Rahman.

Selain itu , larangan pihak desa yang dipasang dekat “pintu parit” dengan bahasa Jawa njala iwak, njaring, maret, nembak, ngobat dan nyetrum (menjala , menembak, obat, aliran listrik melalui accu) sudah tidak digubris lagi. Baik warga Desa Ngemplak, Karangrowo dan warga dari desa lain. “Pernah memperoleh bantuan benih ikan dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kudus. Termasuk untuk proyek keramba yang berada di seberang parit raksasa, namun semuanya bablas-ambyar tidak berbekas. Kami sebenarnya kecewa berat,” tambahnya.


Ngatijo (45) petani Desa Ngemplak dan Abdulah (52) petani Desa Karangrowo yang ditemui pada Kamis (22/10/2020), menambahkan parit raksasa yang menempati bekas sungai Larik Luar ( zaman pemerintahan Belanda), jika ditangani secara profesional serta ditunjang dengan sarana-parasarana yang memadai sangat besar manfaatnya bagi dua desa yang berpenduduk lebih dari 7.000 jiwa.

Seperti pintu-pintu air yang berfungsi ganda. Saat musim hujan tiba dan air sungai Juwana tumpah ke persawahan, pintu ditutup agar air tidak bisa masuk ke dalam parit. Sebaliknya saat musim kemarau, pintu di buka secara berkala disesuaikan dengan isi parit untuk menggelontorkan air untuk irigasi.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar