Pembangunan “Hutan Beton” di Lingkungan Sekolahan

Pemasangan paving bloc SD 2 Tanjungrejo Jekulo

Tirtanews.id - Kudus (Rabu, 21/10/2020). Disadari atau tidak, pembangunan “hutan beton” terus berlanjut di Kabupaten Kudus. Antara lain melalui pembangunan lapangan upacara, halaman sekolah tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas (SMA)/sekolah menengah kejuruan (SMK). Dengan bahan utama semen atau yang sudah dalam bentuk jadi paving block.

Padahal paving block berbahan baku semen yang dikenal sebagai bahan kedap air, sehingga air hujan tidak dapat terserap tanah, sehingga menjadi salah satu penyebab banjir.

Paving block adalah salah satu produk beton pracetak yang memiliki bentuk blok-blok bata beton kecil. Fungsinya digunakan sebagai material penutup perkerasan tanah atau jalan pengganti aspal dan cor beton.

Penggunaan beton pracetak tersebut tidak diikuti pembangunan biopori atau sumur resapan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap lingkungan- terutama dalam musim penghujan. Apalagi Kementerian Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) telah memperingatkan kemungkinan terjadinya cuaca ekstrim (curah hujan tinggi ) akibat La Nina.


Salah satu diantara puluhan Sekolah Dasar (SD) yang memperoleh Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun anggaran 2020 untuk pembangunan tempat upacara adalah SD 2 Tanjungrejo Desa Tanjungrejo Kecamatan Jekulo.

Seluruh halaman sekolah ( tidak hanya tempat/lapangan upacara), tetapi semua halaman sekolah “dipaving”. Tapi tidak nampak adanya pembangunan biopori atau sumur resapan. Padahal biaya pembangunannya cukup besar, yaitu Rp 192 juta.


Menurut Kepala Dinas Perumahan Kawasan dan Lingkungan Hidup (PKLH) Kudus, Agung Karyanto yang dihubungi Tirtanews, Rabu malam (21/10/2020), pembangunan biopori diwajibkan kepada pihak peminta izin bangunan. “Khusus untuk tahun anggaran 2020 kami tidak ada pembangunan biopori maupun sumur resapan. Kami juga tidak ada anggaran untuk membantu pengadaan biopori maupun sumur resapan. Kalau lingkungan sekolah sebenarnya untuk program Adiwiyata sudah ada” ujarnya.

Sedang Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Keolahragaan (Disdikpora) Kudus, Harjuno Widada menyatakan tidak tahu menahu tentang pembangunan lapangan upacara atau halaman sekolah yang dibangun dengan beton pracetak. “Namun demikian informasi tentang pentingnya biopori dan sumur resapan. Khususnya di lingkungan sekolah akan kami tindak lanjuti. “ tuturnya.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar