Peringatan Hari Santri Nasional Kudus Kota Santri. Memiliki 114 Pesantren

Hari Santri Nasional

Tirtanews.id - Kudus (Kamis, 22/10/2020). Kudus memang lebih dikenal sebagai Kota Kretek. Sedang sebutan Kota Santri atau Kota Al-Qur’an jarang mengemuka. Meski secara empiris Kudus, memiliki tradisi dan budaya religius warisan Sunan Kudus dan Sunan Muria.Terlebih lagi Kudus memiliki pesantren yang karakteristiknya sangat spesifik serta lebih menonjol dibanding pesantren di kota lain.

Hal itu terungkap dalam “ kata pembukaan” dari sebuah kitab berjudul Profil Pesantren Kudus, yang digagas dan diterbitkan atas kerjasama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus dengan Central Riset dan Manajemen Informasi (Cermin) .

Buku setebal 206 halaman ini, ditangani tim penyusun yang terdiri tenaga ahli peneliti, seperti EM Nadjib Hassan, Ulil Albab Arwani, Hasyim Asyari, Ihsan, Saekhan Muchit, Abdul Jalil, dan 11 asisten peneliti.

Meski dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional, tetapi pesantren selalu memiliki pemikiran future orinted,karenanya pesantren tetap kokok di tengah modernisasi pendidikan. Bahkan sejak era 1980 an, pesantren di Indonesia semakin menarik dan mendapatkan perhatian kian signifikan. Khususnya di Jawa.

Kudus sebagai kota kecil yang memiliki 86 pesantren ( data tahun 2016 dan tahun 2020 meningkat menjadi 114) yang kesemuanya adalah pesantren produktif, sangat beralasan untuk diberdayakan sebagai sarana pengembangan dan pembangunan daerah. Produktivitas tersebut dapat dilihat secara manajerial, kurikulum, kepemimpinan, alih generasi, rekrutmen guru dan santri, secara proses pendidikan dan pembelanjaran di dalamnya.

Pesantren di Kudus memiliki dua pola khas yang menonjol. Pertama : pesantren terbuka, ditandai dengan adanya kiai yang tidak memiliki pesantren, tetapi memiliki kualifikasi sebagai pengasuh pesantren dengan berbagai kemampuan dan kharisma.

Kedua : pesantren alternatif, dengan ciri adanya sejumlah lembaga pendidikan yang potensial di sekitar pondokan dan diselenggarakannya pengajian kitab salaf oleh kiai yang belum tentu bermukim di pondokan tersebut.

Selama ini , pesantren dengan spesifikasinya hanya disosialisasikan secara lisan, belum tersosialisasikan melalui media tulis yang cukup memadai. Oleh karena itu, penelitian tentang profil pesantren menjadi jawaban riil terhadap kebutuhan tersebut.

Dalam kerangka konseptual, persoalan pendidikan menjadi salah satu bidang yang diotonomikan, namun dengan otonomi tersebut, madrasah dan pesantren menghadapi masalah pelik. Status pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berada di bawah Departemen Agama baru terakomodasi secara jelas pada tahun 1989 dengan dibentuknya Sub Bagian Pondok Pesantren.

Kenyataan tersebut adalah respon yang serius dari pemerintah untuk bersama-sama dengan masyarakat memberdayakan pesantren. Hal yang pasti , pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki urgensi yang sama dengan pendidikan nasional. 

Artinya, pesantren sebagai sub sistem pendidikan nasional juga bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur. Memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Asumsi ini didasarkan atas kecenderungan masyarakat yang mulai kritis dalam memilih lembaga pendidikan. Oleh karena itu, kualitas pendidikan menjadi alasan utama dalam memilih lembaga pendidikan.

Logika ini tentunya dapat dimengerti, karena pendidikan bagi siapapun merupakan human investment. Bila pesantren dikelola secara profesional, dalam arti mampu memberikan apa yang diinginkan masyarakat, maka menjadi keinginan kita bersama lembaga pendidikan ini menjadi lembaga pendidikan alternatif bagi orang tua yang selalu dihantui kenakalan dan dekadensi moral di kalangan remaja serta masa depan mereka.

Jika semula pendidikan dan pengajaran di pesantren hanya ditekankan pada pengusaaan yang cukup untuk kebutuhan taqarrub ila Allah semata, maka pada masa berikutnya pendidikan dan pengajaran pesantren memiliki fungsi kemasyarakatan yang lebih luas dan dipergunakan untuk melakukan transformasi sosiokultural secara menyeluruh.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan lembaga sosial , tumbuh subur, terutama di sudut-sudut pedesaan. Berkembangnya pesantren di pedesaan adalah sebagai akibat dari marjinalisasi dan tekanan penguasa pada saat itu.

Setelah sekian lama dikuasai penjajah, pesantren tersisih ke pelosok pedesaan dan bahkan pedesaan menjadi mind set pesantren. Oleh karena itu pesantren berakar dan menjadi bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat desa. Dengan demikian pesantren menjadi lembaga pendidikan yang efektif untuk melaksanakan proses pembangunan yang berbasis masyarakat (Kuntowijono, 1991 :246) (Grace)

0 Komentar

0 Komentar