Rokok Kretek Kini “Berkibar” Kembali Puluhan Ribu Buruh di Kudus Tersenyum

buruh rokok sigaret kretek tangan (SKT)

Tirtanews.id - Kudus (Jumat, 16/10/2020). Di tengah pagebluk Covid-19 yang menjadikan ambyarnya perekonomian, ternyata sektor industri rokok kretek . Khususnya sigaret kretek tangan (SKT) malah mampu “berkibar”. Bahkan salah satu perusahaan rokok terkemuka di Kudus telah menambah buruh rokok baru hingga ribuan orang.

Kondisi inilah yang membuat sebagian besar warga Kudus tidak begitu “menderita: di banding kabupaten/kota lain yang tidak memiliki sumber penghasilan yang memadai.

Puluhan ribu buruh baru tersebut ditempatkan di brak-brak (tempat buruh bekerja) yang lama . Tidak hanya tersebar di Kudus, tetapi melebar hingga Rembang, Pati, Jepara. Maupun bangunan baru. Kecuali itu harus pula menambah peralatan giling manual secara bertahap.

Purwono Nugroho, salah satu “petinggi” perusahaan rokok (PR) Djarum Kudus, yang ditemui Tirtanews di ruang kerjanya menyatakan tidak tahu persis penyebab SKT ini produksinya meningkat tajam. “Mungkin karena harganya lebih murah. Atau karena “bengong” gegara Covid-19, atau karena yan lain. Terus terang saya tidak tahu,” ujarnya sembari tertawa.

Purwono Nugroho

Namun yang pasti menurut dia, itu berkah dari “yang di atas”, sehingga puluhan ribu buruh rokok yang ada di Kudus ( sebagian besar bekerja di PR Djarum) setiap harinya tetap bisa bekerja dengan menerima upah yang lumayan. “Itu belum termasuk pekerja lain yang saling terkait. Misalnya agen, penjual rokok, angkutan, warung, hingga penerimaan cukai. Mata rantainya bisa tembus hingga dua tiga lipat dari jumlah buruh rokok itu sendiri,” tegas Purwono Nugroho yang akrab dipanggil Ipung.

Dari sisi buruh yang sebagian besar perempuan dan sekarang banyak yang berpendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat ini, setiap harinya mampu membawa pulang uang tunai puluhan ribu.

Baca JugaMending Merokok Nganti Matek Kebangkitan Sigaret Kretek Tangan

Dengan dasar perhitungan, setiap memproduksi 1.000 batang, upahnya Rp 35.700,-. Setiap hari bekerja sekitar delapan jam kerja dan rata rata mampu membuat 4.000 batang. Atau besaran upah yang diterima Rp 35.700 x 4.000 batang = Rp 142.800. Jumlah tersebut dibagi dua antara tukang giling/nglinting (membuat rokok) dan tukang bathil (merapikan setiap batang rokok di bagian ujung, pangkal dan “tubuhnya”). Atau rata rata Rp 71.600 per orang.

Lalu untuk pekerja khusus untuk bagian pembungkusan (setelah jadi rokok kemudian dibungkus dalam kemasan yang telah disiapkan lebih dahulu), pihak PR memberikan upah Rp 116.090,- per 1.000 pack. Setiap hari/ jam kerja mampu memproduksi 4.400 pack. Atau Rp 116.090 x 4.000 pack = Rp 464.360. Jumlah tersebut dibagi untuk enam orang /buruh atau sekitar Rp 76.000/orang/buruh.

Dengan uang tersebut, para buruh harus menyisihkan untuk biaya transpor ( bagi buruh yang naik angkutan umum), membeli bahan bakar minyak (BBM/ bensin), titipan sepeda motor hingga makan. Selebihnya untuk membeli sembilan bahan pokok (sembako).(Grace)

0 Komentar

0 Komentar