Sego Tewel Godhong Jati, Menggugah Sensasi

Sega tewwel godong jati aroma dan sensasinya menggunagh rasa

Tirtanews.id - Kudus, (Jumat, 2/10/2020). Kini di Kudus bermunculan penjual sego tewel godhong jati. Penggemarnya tidak hanya dari kalangan wong cilik tapi sudah mampu menembus kalangan menengah ke atas. Bukan karena harganya yang relative murah, tetapi mampu menggugah sensasi dan rasa yang berbeda.

Tidak hanya warga Kudus, tetapi warga seputarnya juga mulai penasaran. Sebagian pembeli langsung ke lokasi, atau cukup pesan melalui telepon dan diantar sampai rumah/tujuan.

Salah satu diantara penjual sego tewel godhong jati adalah Lika,seorang ibu muda yang membuka warung di halaman depan rumahnya. Jalan Wachid Hasyim 35 A Kudus. Berdekatan dengan komplek SD/SMP Masehi Panjunan Beberapa puluh meter brak Djarum.

Menurut Lika sebelum menjual sego tewel godhong jati,bersama suami mendirikan Warung Wedangan Tata. Tapi tidak begitu laku. “Setelah banting stir berjualan sego tewel godhong jati, berbalik laris manis. Sehingga kami “berani” membuka layanan dalam jaringan. Tidak hanya warga Kudus, tetapi warga Jepara, Pati dan Demak menyukai menu kami. Kata mereka masakan kami tidak akan berbau hingga sore/petang hari. Tetap enak disantap “ ujar perempuan berkerudung ini.

Lika, penjual sego tewel godhong jati panjunan kudus

Sego tewel godhong jati, adalah menu makanan sederhana. Berupa nasi putih, tewel/nangka, tahu, krecek/rambak yang telah dimasak, empuk. Ditambah satu butir telor ayam rebus dan sambal. Dihidangkan dalam sebuah piring dengan alas daun jati. Jika dibawa pulang dibungkus dengan daun jati. “Aroma daun jati yang memunculkan selera dan sensasi. Sebenarnya mirip gudheg jogja/solo.Bedanya kami tidak menambah dengan daging ayam.” tambah Lika.

Daun jati dibeli dari pasar terdekat dengan harga Rp 50.000 per satu ikat besar. Daun ini hanya mampu bertahan 2-3 hari saja, sehingga ketika tumpukan daun jati tidak habis dalam waktu 2-3 hari ya harus dibuang. Sedang kebutuhan tewel dan nangka cukup tersedia. Meski sebenarnya Kudus terpaksa harus mendatangkan tewel/nangka dari pasar induk Bandungan Ambarawa. Bahkan untuk skala besar ( kota besar di Jateng), harus mendatangkan dari Lampung dan sebagian Jawa Barat.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar