Sepakbola Hampir Mati di Kota Industri

Sepakbola Hampir Mati di Kota Industri

Tirtanews.id - Kudus, (Senin, 5/10/2020). Sungguh mrinding bulu kuduk ketika di tengah malam melihat sebuah spanduk bertuliskan Sepakbola hampir mati di kota industri. Di sebuah tepi taman di kota Kudus, Sebuah kota kecil berpenduduk hanya sekitar 800.000 jiwa, namun padat industri. Khususnya industri rokok yang menyerap hampir 100.000 warga, sehingga dikenal dengan kota kretek.

Kota industri ini memiliki Persatuan Sepakbola Kudus (Persiku) yang lahir pada 1 Januari 1934, sehingga “umurnya” saat ini sudah 86 tahun- sudah cukup tua bagi umur manusia. Prestasi puncak diraih pada 1994, ketika kesebelasan (saat itu) berjuluk Macan Muria dengan kepala pelatih Riono Asnan lolos ke Divisi Utama- kasta tertinggi PSSI periode itu.

Setelah itu, atau hingga 26 tahun kemudian nyaris tidak ada yang dibanggakan untuk Persiku. Sang “arsitek” prestasi Riono Asnan didatangkan hingga pelatih Subangkit pun diminta untuk menangani, namun Persiku masih saja “tidak bertaring”. Malah terpuruk di Liga tiga- liga terendah dalam jajaran liga PSSI.

Baca Juga : Koni, Askab, Manejemen, Ora Becus

Menurut para pengamat bola di kota Kudus, “jebloknya” Persiku, karena lebih disebabkan lemahnya manejemen – terutama menyangkut mental korupsi. Sepakbola butuh dana besar- butuh “beliau beliau” yang profesional. Butuh “beliau beliau” yang tak mengenal pamrih (dalam pengertian negatif.

Butuh pula uluran tangan pengusaha-perusahaan. Butuh keiklasan menyerahkan dengan sepenuh hati- mongso borong- demi Persiku ke depan, yang kini ditengarai hampir mati. Persiku punya anggota sekitar 30-34 klub yang tersebar di sembilan kecamatan.

Baca Juga : Liga Dibatalkan, Uang APBD Untuk Apa Ya

Askab Kudus harus berani merubah langkah sesuai amanat peraturan yang dianutnya dari PSSI. Lebih kepada upaya pembinaan, melalui kelompok kelompok umur dan menyiapkan Persiku yunior sebagai “bank” sepakbola .Harus menelorkan “peta jalan” yang berkualitas dan menghadirkan sumber daya manusia (SDM) muda berkualitas. Semoga sepakbola di Kudus yang hampir mati ini tegak berdiri- berprestasi. Stadion Wergu Wetan yang dalam beberapa tahun terakhir direhab dengan dana besar yang kini berkapasitas sekitar 15.000 orang lebih ini kembali dipenuhi “lautan” suporter dengan kaus kebesaran biru muda.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar