Teuku Faisal Fathani Peneliti dan Penemu Alat Deteksi Tanah Longsor Dipakai Di dalam negeri dan Mancanegara

Teuku Faisal Fathani, peneliti, penemu alat deteksi tanah longsor dari UGM

Tirtanews.id - Kudus, (Selasa, 27/10/2020). Teuku Faisal Fathani, seorang peneliti sekaligus penemu alat pendeteksi longsor dari Universitas Gadjah Mada. (UGM) Jogja . Ia terinspirasi dari alat-alat pendeteksi gempa asal Jepang yang dibawa Japan International Coorporation Agency (JICA) saat menanggulangi bencana longsor di Indonesia pada 1999.

Alat pendeteksi longsor yang terdiri dari penakar hujan, ekstensiometer, tiltmeter, dan alat untuk memantau fluktuasi muka air tanah tersebut dibawa ke Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta untuk memantau pergerakan tanah.

Sayangnya setelah dipasang, ada peralatan yang mengalami kerusakan dan hanya bisa diperbaiki di negara asalnya (Jepang).Mengingat perbaikan alat itu butuh banyak biaya, maka pada awal 2006, Faisal mencoba menciptakan alat pendeteksi tanah longsor yang diberi nama GAMA-EWS.

Sempat mengalami kesulitan dari sisi elektroniknya, sehingga ia mengajak sejumlah mahasiswa jurusan Teknik Elektro UGM untuk ikut membantu.

Sebagai hasilnya, pada 2007 Faisal dan tim berhasil membuat alat deteksi dini tanah longsor generasi pertama yang pembacaan pergerakan tanahnya masih manual.

Namun dosen Teknik Sipil UGM ini belum merasa puas, lalu terus mengembangkan dan menyempurnakan alat deteksi tanah longsor.secara dini.

sejumlah peralatan pada deteksi tanah longsor  buatan UGM

Akhirnya ia mampu menciptakan alat serupa generasi kedua, yang diberi nama GAMA-EWS .dan telah dilengkapi dengan kertas, sehingga setiap ada pergerakan tanah, alat tersebut akan mengeluarkan catatan yang segera bisa terbaca.

Ketika alat dipasang di daerah rawan longsor, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Syamsul Maarif memberikan masukan bahwa pencatatan dengan kertas mengharuskan masyarakat datang ke lokasi longsor untuk mengecek hasil deteksi.

Hal ini dianggap membahayakan, sehingga alat pendeteksi longsor disempurnakan kembali dengan menggunakan kartu memori. Dengan demikian, pemantauan dapat dilakukan tanpa harus mendekati alat.

Terus Berinovasi

Kemudian Faisal juga menciptakan alat deteksi dini longsor generasi ketiga menggunakan teknologi telemetri atau wireless., sehingga peringatan tanah longsor bisa didapatkan melalui pesan singkat (SMS), modem internet, serta radio frekuensi...

Kehadiran teknologi ini memungkinkan data bisa dikirim dari lokasi longsor ke lokasi pemantauan dengan jarak maksimal 100 kilometer. Dengan menggunakan dua ekstensiometer, dua tiltmeter, dan satu penakar hujan, yang seluruhnya digabungkan dalam satu repeater. Kemudian, data-data yang terekam di seluruh alat ini dikirimkan ke kantor pemantau longsor.,

Setelah dianalisis tim pemantau dan diputuskan bahwa masyarakat perlu informasi lebih lanjut, BPBD kemudian akan mendapatkan alarm berupa sinyal sirene saat akan terjadi longsor, sehingga warga di sekitar lokasi rawan bencana bisa segera dievakuasi..

Ia menyebutkan, pada generasi ketiga, sistem pendeteksi tanah longsor jadi lebih tangguh, mudah dijalankan, kuat, kokoh, dan tahan terhadap cuaca.

Lebih lanjut, pria yang sering menjadi pembicara tentang sistem deteksi tanah longsor di berbagai negara ini mengatakan, sistem pendeteksi tanah longsor ini kini telah dipasang di 20 provinsi di Indonesia.

Bukan hanya digunakan di komunitas dalam negeri, sistem pendeteksi dini longsor ini pun dipakai Pertamina Geothermal Energy di tujuh provinsi, di situs Freeport di Timika, Papua, serta di perusahaan tambang Medco.

Sementara di luar negeri, sistem pendeteksi ini digunakan di perusahaan tambang di Myanmar dan akan segera dipakai di Laos, Timor Leste, dan Selandia Baru. Tidak hanya itu, saking banyaknya kebutuhan akan sistem pendeteksi tanah longsor ini, Faisal dan mahasiswa UGM melatih industri kecil di wilayah yang membutuhkan untuk membuat alat pemantau tanah longsor GAMA-EMS. "Sampai sekarang saya sudah tidak menghitung berapa banyak alat yang sudah dibuat," ujar Faisal..

Selain berguna, lima alat deteksi dini longsor ini juga sudah dipatenkan. Di antaranya adalah ekstensiometer generasi satu manual, ekstensiometer generasi satu dengan pembacaan kertas, dan ekstensiometer digital dengan kartu memori. Lantas, berapa harga sistem pendeteksi tanah longsor ini? Faisal mengatakan, satu sistem lengkap terdiri dari sembilan alat pendeteksi tanah longsor seharga Rp 300 jutaan( pada posisi empat tahun lalu) Sedang pendeteksi buatan manca negara seharga Rp 300 juta per alatnya.

Atas inovasi ini, UNESCO menetapkan UGM sebagai Pusat Unggulan Dunia dalam pengurangan Risiko Bencana Tanah Longsor 2011-2014 dan 2014- 2017. .Yang juga membanggakan, alat pendeteksi dini tanah longsor ini juga telah mendapat pengakuan dunia pada saat pertemuan para pakar tanah longsor yang dihadiri 80 negara di Jepang (2008, Italia (2011) dan Tiongkok (2014).(Grace)

0 Komentar

0 Komentar