Waspadai Dampak La Nina Memicu Banjir , Tanah Longsor, Produksi Pangan

Ilustrasi Peta cuaca BMKG

Tirtanews.id - Kudus (Minggu 18/10/2020). Sejumlah lembaga layanan iklim memperkirakan La Nina dapat berkembang terus hingga mencapai intensitas moderat pada akhir 2020 dan mulai meluruh pada Januari-Februari 2021. Selain itu memicu banjir, tanah longsor dan mengganggu produksi pangan Pemerintah dan pemangku ke-pentingan perlu mengantisipasi dampak negatifnya di berbagai sektor, termasuk terkait produksi pangan dan pertanian.

Profesor Meteorologi dan Klimatologi Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Edvin Aldrian, Jumat (16/10/2020), mengatakan, se-iring dengan kenaikan curahhujan, La Nina berpotensi meningkatkan risiko banjir dan membuat lahan pertanian terendam. Untuk mengatasinya,saluran air di lahan pertanian mesti diperlebar. Selain itu, perlu dipastikan salurannya mengalirkan air dan jangan ada hambatan. ”La Nina juga cenderung menyebabkan waktu penanaman menjadi di atas dua kali,khususnya padi,” ujarnya saatdihubungi dari Jakarta.

KepalaBadan Pu-sat Statistik (BPS) Suhariyanto mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan terkait mewaspadai dampak La Nina.Curah hujan yang tinggi yang disebabkan La Nina bisa berdampak pada produksi padi nasional yang diperkirakan meningkat tahun ini.

BPS mencatat, luas panen padi pada tahun ini diperkirakan10,79 juta hektar atau naik 1,02persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 10,68 juta hektar.

Dengan luas panen mencapai 10,79 juta hektar, produksi beras sepanjang 2020 diperkirakan bisa mencapai 31,67 ju-ta ton atau naik 1,1 persen dibandingkan produksi tahun2019.

Kepala Badan Meteorologi,Klimatologi, dan Geofisika(BMKG) Dwikorita Karnawati meminta pemangku kepentingan terkait juga mengantisipasi dampak La Nina di sektor pertanian.

Banjir akibat curah hujan yang tinggi juga bisa merendam areal persawahan.Koordinasi antarpemerintahdaerah, baik tingkat kabupaten/kota maupun provinsi, yang wilayahnya dilintasi sungai menjadi penting.

Kerja sama diperlukan untuk mengoptima-lisasi tata kelola air terintegrasi dari hulu hingga hilir. ”Waspadai pula potensi terjadinya cuaca ekstrem dalam mengelola lahan pertanian. Petani bisa mengantisipasi pola tanam dengan informasi iklim dan cuaca,serta memperhatikan KalenderTanam (Katam) Terpadu Nasional Indonesia,” katanya.

Penanggulangan banjir Kementerian PekerjaanUmum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan berupaya semaksimal mungkin menyiapkan infrastruktur sumber daya air menghadapi musim hujan pada 2020-2021.

Direktur Jenderal SumberDaya Air (SDA) Kementerian PUPR Jarot Widyoko, Jumat,menyatakan, Kementerian PU-PR telah mengalokasikan dana penanggulangan banjir pada tahun ini sebesar Rp 4,5 triliun.

Dana itu akan digunakan untuk normalisasi sungai, pemeliharaan sungai, perkuatan drainase, perkuatan tebing sungai,pembangunan kolam retensi, dan perencanaan teknis.

Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal SDA Ke-menterian PUPR Bob A Lombogia mengatakan, ada beberapa daerah yang harus mendapat perhatian khusus pada Oktober-November 2020.

La Nina akan sangat berpengaruh di bagian utara dan selatan Sumatera, sebagian besar Jawa, Kalimantan, serta Sulawesi bagian selatan dan utara.

Kementerian PUPR sudah menginstruksikan semua balai di seluruh Indonesia agar waspada dan menyiapkan personel,peralatan, serta bahan-bahanl ain yang diperlukan. ”Menurut kami, daerah yang sering mengalami banjir perlu mendapat perhatian. Misalnya saja, dae rah cekungan Bandung dan hilir atau muara sungai di Jakarta,Semarang, Demak, dan Pekalongan,” ujarnya.

Direktur Bendungan dan Danau Direktorat Jenderal SDA Kementerian PUPR Airlangga Mardjono mengatakan, seba-nyak 15 bendungan sudah selesai dibangun pada tahun 2019. Hal ini menambah tampungan air sebanyak 1,24 miliar meter kubik.

Pada tahun204 nanti ketika program 61 bendungan selesai semua, maka akan ada tambahan tampungan air sekitar 2, 59 miliar meter kubik.

Program Penanggulangan Banjir Tahun2020 Kementerian PekerjaanUmum dan Perumahan Rakyat menganggarkanRp 4,5 triliun untuk program pengendalian banjir tahun ini.

Dana itu akan digunakanuntuk:- normalisasi sungai Rp 2,9 triliun- pemeliharaan sungai Rp 500 miliar- pembenahan drainase Rp 100 miliar- perkuatan tebing sungai Rp 600 miliar- kolam retensi Rp 200 miliar- perencanaan teknis Rp 200 miliar.

(Sumber: Kementerian PUPR/Kompas/ Grace)

0 Komentar

0 Komentar