16 Hektar Sawah di Desa Jojo Terlantar Tidak Ada Jalan Usaha Tani, Tidak Ada Jembatan

Sungai Jratun di wilayah desa Jojo dan di seberang sungai ini ada 16 hektar sawah petani yang terlantar

Tirtanews.id - Kudus, (Rabu, 11/11/2020). Sawah seluas 16 hektar milik puluhan petani di Desa Jojo Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus sudah puluhan tahun terlantar. Setahun sekali belum tentu bisa panen. Jika toh bisa dipanen, hasilnya pasti tidak maksimal.

Menurut Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jojo, Anton, penyebab utama terlantarnya sawah seluas 16 hektar tersebut, karena letaknya di seberang sungai Jratun . Tidak ada jembatan yang menghubungkan lahan itu dengan warga/petani. Juga tidak ada jalan usaha tani (JUT), hingga terjadinya pendangkalan sejumlah sungai dan anak sungai. “ Kami pernah mengajukan usulan untuk dibuatkan jembatan sederhana dan JUT, tapi sampai sekarang tidak/belum ditanggapi Dinas Pertanian Kabupaten Kudus” tegasnya.

Anton Ketua BPD Jojo Kecamatan Mejobo di jalan yang disulkan jadi jalan usaha tani- JUT

Sebagian besar sawah di Desa Jojo berada di selatan desa. Luasnya lebih dari 150 hektar dan 16 hektar diantaranya berada di seberang sungai Jratun yang berjarak sekitar satu kilometer dari batas perumahan penduduk.

Salah satu anak sungai yang melintas di Desa Jojo Kecamatan Mejobo Kudus

Sebelum mencapai lokasi sawah 16 hektar tersebut, petani harus berjalan kaki atau naik sepeda motor, melewati jalan selebar sekitar 2,50 meter. Sebagian besar masih berupa tanah. Sebagian kecil sudah diperkeras dengan batu. Lalu ada pemilik usaha arang bathok kelapa yang mengurug sebagian ruas jalan dengan sejenis batu warna putih ke kuningan. Dengan tujuan agar angkutan menuju ke lokasi pembakaran gamping lancer.

Di sebelah kiri jalan adalah anak sungai yang sebagian berhulu dari sungai Piji di Desa Kesambi dan sebagian yang menyatu dari Desa Hadiwarno. Ada dua jembatan beton. Satu diantaranya sumbangan warga setempat, lebarnya hanya sekitar satu meter. Berada sekitar 500 meter dari jalan desa terdekat. Lalu sebuah jembatan beton yang berada di tepi sungai Jratun. “Jembatan yang disebut terakhir ini dimaksudkan sebagai upaya jalan agar pihak pemerintah membangun jembatan yang melewati sungai Jratun dan menuju lokasi 16 hektar sawah yang nyaris terlantar setiap tahunnya ini,” tambah Anton.

Masih menurut Ketua BPD Jojo, untuk menggarap sawah atau memetik hasilnya, petani terpaksa menempuh jalan memutar melewati Desa Kesambi. Jika kebetulan air di sungai Jratun ini surut , petani menggunakan perahu (jukung).

Jika dirunut lebih jauh, maka 16 hektar lahan tersebut, merupakan bagian dari lahan “tidur” yang di Kecamatan Mejobo dan Kecamatan Jekulo yang luasnya lebih dari 1.500 hektar. Lahan itu dipastikan bisa dirombak menjadi lahan produktif, jika salah satu kuncinya dibuka. Yaitu dengan menormalisir sungai dan anak sungai yang menuju-melintas lahan tersebut.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar