Ayam Geprek Inuk Rp 8.000,- Cukup Orang Serumah

Warung makan ayam geoprek Inuk (foto grace).

Tirtanews.id, KUDUS - Judul tulisan/berita ini, nyaris sama dengan tulisan yang tertera dalam salah satu ruangan dalam warung makan milik Abdul Aziz Zuhdi. Terletak di tepi jalan raya Mejobo – Pasar Brayung Kudus. Atau seputar perempatan jalan menuju arah Desa Kirig, beberapa meter dekat jembatan/masjid menuju gerbang Desa Temulus. 

“Butuh waktu cukup lama untuk menemukan kata-kalimat yang tepat agar menarik perhatian konsumen. Tapi saya tidak “ngecap” dan asal bunyi. Nyata dan monggo dibuktikan,” ujar Aziz yang semula lebih menekuni bidang permesinan. Selain itu ide untuk membuka warung ayam geprek berasal dari salah satu anaknya yang masih sekolah .

Potongan ayam yang telah digoreng dengan tepung siap untuk digeprek - (foto grace)

Pemilik warung yang tercatat sebagai anggota Kamar dagang Indonesia (Kadin) Provinsi Jawa Tengah ini menjelaskan, kenapa satu porsi cukup orang serumah, karena bumbu dibuat sedemikian rupa sehingga merata. Dimakan sendiri juga habis, tapi bila saat “di bagi bagi” semuanya masih keduman dengan rasa yang tetap sama enak.

Selain itu dengan menggunakan ayam ras pedaging (broiler), maka harganya lebih murah dibanding dengan harga ayam kampong. Meski dari sisi rasa tidak terlalu berbeda jauh.. Lalu menyangkut usahanya yang dirintis sejak beberapa tahun terakhir sudah terbilang mantap. Dengan omzet lumayan, keuntungan di atas 20 persen dan sudah membuka empat cabang. “Khusus untuk saat ini kami memiliki sembilan karyawan dan ke depannya juga masih cukup optimis”.

Menjelang petang hari akhir pekan lalu, saat Tirtanews ke warung ayam geprek Inuk, terlihat silih berganti warga untuk makan di dalam warung dan sebagian lagi memilih untuk membeli dalam bentuk bungkusan untuk di bawa pulang. “Saya dan anak anak sudah sering kali ke sini. Enak , murah dan terjaga kebersihannya” ujar Sawitri, ibu muda asal Desa Tenggeles beberapa kilometer dari warung ini.

Aziz kemudian mengajak ke dalam dapur untuk melihat proses pengolahan ayam geprek. Ia sengaja membeli ayam dalam bentuk kiloan- sudah terpotong tanpa kepala dan jerohannya,

Setelah dibersihkan kemudian digoreng dengan tepung di dalam wajan besar dengan menggunakan kompor gas. Lalu “dientas” dimasukkan dalam tempat “tampah”. Kemudian digeprek (dikepruk/dipukul agar “hancur”/lembut) dengan munthu di dalam layah (keduanya terbuat dari bahan batu atau kayu), bersama bumbu yang telah disiapkan. “Bumbunya memang saya rahasiakan. Pada umumnya memang sama dengan bumbu ayam geprek lainnya” ujar Aziz sembari tertawa. Tukang gepreknya terlihat tiga perempuan muda dan tukang gorengnya pria.

Proses menggeprek dan membuat sambal (Foto Grace)

Saking digemari, ayam geprek masuk dalam daftar pencarian populer Google 2017.. Ayam geprek memang menarik. Secara rasa, ia adalah perpaduan rasa yang digemari banyak orang Indonesia: gurih dan pedas. Meski demikian, sejatinya, ayam geprek bukanlah varian kuliner yang benar-benar baru..

Proses terakhir ayam geprek yang kemudian siap saji (Foto Grace)

Di Indonesia, daging ayam jadi lauk yang cukup mewah. Apalagi jika dibandingkan dengan, tempe atau tahu. Meski begitu, harganya cukup terjangkau, apalagi jika dibandingkan dengan daging sapi dan kambing, atau sesama bangsa unggas lain seperti bebek.

Jika merujuk data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (2016), konsumsi daging ayam broiler merupakan konsumsi produk peternakan tertinggi. Pada 2015, konsumsi daging ayam broiler orang Indonesia adalah 4,797 kilogram per kapita.

Pada 2016, angkanya meningkat jadi 5,110 kilogram per kapita. Angka itu amat besar. Bandingkan dengan konsumsi daging sapi, yang stagnan di angka 0,417 kilogram per kapita.(Grace)

BERITA LAINYA