Bangun Tanggul Bambu Dengan Metode Bioengineering (Rekayasa hayati)

Bambu digunakan sebagai tanggul untuk mengatasi masalah banjir di Sungai Cijangkelok, Kabupaten Kuningan

Tirtanews.id - Kudus, (Jumat, 13/11/2020). Pembangunan tanggul sungai di wilayah bekas Karesidenan Pati (terdiri dari Kabupaten Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara) masih menggunakan bahan semen berkerangka besi.

Padahal ada metode yang lebih sederhana, biaya lebih murah, tapi tetap berkualitas. Yaitu Bioeneering atau rekayasa hayati dengan bahan utama dari bambu. Yaitu menurut Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan disiplin ilmu yang diaplikasikan dalam perekayasaan berbasis biosistem ( gabungan ilmu biologi, lingkungan dan pertanian) untuk meningkatkan efisiensi fungsi dan manfaat biosistem itu sendiri.

Bambu yang ditanam ini berfungsi untuk menahan air sungai yang meluap dan menyebabkan banjir di Desa Citenjo, Kab. Kuningan

Rekayasa hayati itu sudah ditrapkan Balai besar wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk – Cisanggurung Jawa Barat pada Februari 2017 . Pengaplikasian ilmu rekayasa hayati memang jarang terlihat keberadaannya secara kasatmata. Namun ternyata, bidang ilmu tersebut membawa banyak manfaat bagi masyarakat. “Pada Februari 2017, kami menanam bambu sepanjang 300 meter di bantaran Sungai Cijangkelok untuk pembuatan tanggul alami. 

Bambukami pilih karena tanaman ini cocok dengan unsur tanah di sini dan dapat menahan erosi air sungai yang meluap,” kata petugas pembuat komitmen (PPK) OP III BBWS Cimanuk Cisangarung, I Gusti Ngurah Antariza.

Selain itu, metode bioengineering ini dipilih untuk mengembalikan fungsi vegetasi lahan sungai dan secara otomatis dapat merestorasi agar tanggul sungai kembali hijau. “Metode ini juga dipakai untuk meminimalkan dana. Proyek yang berjalan selama 3 bulan ini hanya menghabiskan dana APBN Rp 200 juta,” ujarnya. Saat ini, proyek bioengineering di Desa Citenjo sudah selesai 100 persen. Bambu yang tertanam semakin rapat dan lebat sehingga diharapkan bisa menahan air sungai yang meluap.

Menanggulangi tanah longsor :

Selain bisa mengatasi masalah banjir di Desa Citenjo, Kabupaten Kuningan, ternyata metode bioengineering bambu ini juga digunakan untuk menanggulangi tanah longsor di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari, Kabupaten Brebes (Jateng).

Pembangunan tanggul di bantaran Sungai Cigora, Desa Bandungsari, Kabupaten Brebes saat dibangun.(BBWS Cimanuk Cisanggarung)

Pada awal tahun 2017, bantaran sungai yang juga berbatasan dengan jalan antar-provinsi ini longsor sehingga jalan yang menghubungkan Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah terputus sementara.

Setelah jalan diperbaiki, BBWS Cimanuk Cisanggarung kembali menerapkan metode bioengineering dengan tanaman bambu untuk menahan tanah yang longsor. 

“Meski metode yang digunakan sama dengan yang di Kuningan, pembuatan tanggul di sini melalui dua tahap. Pertama, pembangunan tanggul tepat di pinggir sungai. Kedua, pembuatan tanggul di batas sungai dengan jalan raya,” ujar pelaksana teknis PPK OP III BBWS Cimanuk Cisanggarung, Muhammad Cucu Sudiyan.

Untuk tanggul di pinggir sungai, konstruksi yang digunakan adalah pemasangan batu dan karung berisi pasir serta penanaman cerucuk bambu di antaranya. “Kemudian untuk tahap keduanya kami menanam bambu dengan jarak beberapa sentimeter. Lalu pada jarak yang kosong tersebut, kami tanami rumput vetiver (akar wangi) yang berfungsi untuk mencengkeram tanah sampai kedalaman 3 meter,” tambah Sudiyan.

Selain itu, ditanami pula tumbuhan kaliandra yang berguna menyedot air dan menahan butir-butir tanah yang tergerus. Terakhir, terdapat tanaman pandan laut yang bisa menahan longsoran tanah. 

Bambu yang sudah ditanami pandan laut, rumput vertiver, dan kaliandra diharapkan dapat mengatasi tanah longsor di Kabupaten Brebes.(BBWS Cimanuk Cisanggarung)

Direktorat jendral (Ditjen) Sumber Daya Alam ( SDA) juga berharap bisa menerapkan metode bioengineering bambu ini di seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, manfaatnya dapat dirasakan semua kalangan (sumber Kompas.com/ Grace)

0 Komentar

0 Komentar