Bayi Meninggal di Kudus Terkena Covid-19

Ilustrasi bayi

Tirtanews.id - Kudus, (Jumat, 13/11/2020). Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, Abdul Aziz Achyar membenarkan jika salah satu diantara tiga orang yang meninggal karena Covid-19 adalah seorang bayi.

Namun Aziz yang dihubungi via telepon Jumat malam (13/11/2020) tidak menjawab pertanyaan yang diajukan Tirtanews tentang “riwayat” hingga penyebab kematian bayi dari Desa Bulung Kulon Kecamatan Jekulo tersebut.

Namun pada posisi saat ini, Kabupaten Kudus melonjak dalam jumlah kasus Covid-19 tingkat Provinsi Jawa Tengah setelah kota Semarang. Sedang prosentasi kematian mencapai 14,2 persen, atau nomor lima di tingkat provinsi.

Menurut data Gugus Tugas Percepatan Penamganan Covid-19.per 2 Juli 2020, lebih dari 40 anak Indonesia meninggal akibat virus corona. Sebagian adalah bawah lima tahun (balita). Angka itu setara 1,7% total kematian akibat Covid-19, yang menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, salah satu yang tertinggi di Asia dan dunia. 'Sangat mengkhawatirkan'.

Selain lebih dari 40 anak yang meninggal , Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mencatat lebih dari 200 kematian anak dalam status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di akhir Juni. Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Aman Bhakti mengatakan keadaan ini "sangat mengkhawatirkan".

Negara tetangga Malaysia misalnya, belum mencatat kematian akibat Covid untuk anak di bawah 12 tahun. Sementara di Amerika Serikat , negara dengan kasus kematian tertinggi di dunia, angka kematian untuk warganya yang berusia di bawah 5 tahun hanya 0,15 persen.

Kantor Staf Presiden (KSP) mengatakan angka kematian anak Indonesia termasuk tertinggi di dunia jika hanya dilihat dari angka absolut karena jumlah balita di Indonesia yang besar. "Jika akan dibandingkan dengan negara lain, idealnya menggunakan parameter yang tepat, misalnya dalam ratio per 1.000 balita atau persentase terhadap total kematian akibat Covid," ujar tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Brian Sriprahastuti.

Meski begitu, ia mengatakan bagi pemerintah, satu kematian tetap jadi masalah yang harus diatasi, apalagi kematian itu seharusnya dapat dicegah sesuai perkembangan bidang kedokteran.

Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dokter Aman Bhakti mengatakan kematian anak di Indonesia, yang disebutnya salah satu yang tertinggi di dunia, disebabkan faktor yang kompleks. Salah satunya adalah komorbiditas di Indonesia yang berbeda. "Kesehatan anak kita tidak baik. Ada gizi buruk, pneumonia tinggi, diare, anemia, demam berdarah," ujar Aman. (Grace)

0 Komentar

0 Komentar