Citywalk Jalan Sunan Kudus Ditanami Tabebuya Asal Brazil Warna Pink, Kuning, Putih Merah

Foto - gambar rekayasan pohon tabebuya Jalan Sunan Kudus konsultan teknik

Tirtanews.id, KUDUS - Memasuki akhir November 2020, Proyek pembangunan Citywalk Jalan Sunan Kudus (CJSK) kota Kudus terus dikebut untuk mengejar batas waktu akhir Desember.

Meski di sana sini ditemukan banyak penyimpangan, namun wakil rakyat yang duduk di komisi yang membawahi proyek “wah” ini cukup duduk manis. Begitu pula pengawas proyeknya.


Pada posisi Senin (30/11/2020), antara lain sudah terlihat penanaman pohon dan pemasangan calon tiang lampu hias. Terutama di jalur sebelah selatan.

Setiap pohon yang rata rata setinggi sekitar satu setengah meter ini sudah tertanam di dalam sebuah “pot” bergambar. Lengkap dengan “tiang tiang” penyangga. Belum/ tidak diketahui secara pasti jenis pohon tersebut.

Citywalk Jalan Sunan Kudus mulai ditanami pohon penghijauan (foto Grace)

Dari buku Pembangunan CJSK 2020, jalan sepanjang 562 meter di sisi kanan kiri bakal ditanami pohon Tabebuya warna pink, kuning, putih dan merah. Menurut berbagai sumber yang dihimpun Bemoe, pohon ini bahasa latinnya Handroanthus chrysotrichus dari Brazil. Pohon ini sudah “merajai” – tumbuh- berkembang di jalan jalan utama di Kota Surabaya sejak menjelang akhir 2018. Dan menjadi terkenal di mana mana.

Sedang pilihan Vasa Sarwahita, selaku konsultan teknik CJSK terhadap tanaman Tabebuya tidak salah. Namun justru Pemkab Kudus nampaknya lupa “bumi Sunan Kudus-Sunan Muria” sudah memiliki aneka jenis tanaman dan tanaman berbunga yang tidak kalah dengan Tabebuya.

Buku Penyuluhan Penghijauan Pertamanan Kota Industri Kudus, dengan kata sambutan Bupati Kudus Wimpie Hardono, 26 Maret 1979, dengan sangat jelas dan rinci menuliskan tentang penghijuan dari segala aspek hingga penataan tempat.

Meski akhirnya buku setebal 44 halaman hitam putih dan hanya sampul depan berwarna ini bagai tidak ada artinya, ketika Pemkab Kudus tidak menindak lanjuti membangun penghijauan sendiri.

Namun masih beruntung dan ucapan terimakasih kepada perusahaan di Kudus, khususnya PT Djarum Kudus yang justru tanpa putus melanjutkan, mengembangkan program penghijauan dengan biaya sendiri hingga sekarang

Bahkan memiliki tokoh, sosok penghijauan, yang bernama Goei Ing Liat Ia adalah satu “bos” PT Djarum, yang setiap kali bertugas ke luar negeri, selalu membawa oleh-oleh berupa aneka jenis bibit tanaman. Lalu ditumbuh-kembangkan di lahan milik perusahaan.

Lahan itu akhirnya “disempurnakan” dengan dinaungi dalam sebuah divisi penghijauan. Lengkap dengan lahan, aneka jenis bibit, hingga sumber daya manusia. Sudah tiga kali berganti tempat dan sat ini berada di komplek Oasis yang lahannya sangat luas.

Program penghijuan di Kudus sebenarnya dimulai sejak awal 1980. Seluruh ruas jalan, khususnya di dalam kota sudah ditetapkan jenis pohon yang tidak berbunga maupun jenis pohon yang berbunga Dalam kurun waktu 10 tahun (akhir 1990) sebagian besar program tersebut berjalan sesuai rencana dan sebagian besar ditopang PT Djarum (dalam pengadaan bibit hingga pemeliharaannya)

Namun karena situasi dan kondisi terus berubah berubah-termasuk dalam tata kota dan tata tanaman penghijuan, Kudus seperti sekarang ini. Sebagian besar ruas jalan di dalam kota, hanya dominan ditanami satu jenis tanaman- nyaris tidak ada tanaman berbunga.

Walikota Surabaya, Risma sekitar dua-tiga tahun lalu pernah mengunjungi Oasis- terlebih untuk melihat secara langsung program dan aneka jenis tanaman yang dimiliki Dvisi Penghijauan PT Djarum.

Dan ketika kota Surabaya mampu menyulap dirinya menjadi kota yang penuh taman, penuh tanaman, penuh tanaman berbunga aneka warna- yang tentu saja indah mempesona – Kudus hanya terpana. Padahal sejarahnya, Kudus adalah salah satu diantara sedikit kota di Inonesia yang memiliki paling banyak aneka jenis tumbuhan penghijauan. Banyak kota/kabupaten di Indonesia yang meminta bibit penghijauan ke Kudus (bukan ke Pemkab Kudus, melainkan ke Divisi Penghijauan PT Djarum).

Bunga tabebuya di kota Surabaya

Di buku Penyuluhan Penghijauan Pertamanan dan Industri Kudus, juga dituliskan tentang 9 (sembilan) fungsi penghijauan : kesehatan, iklim, perlindungan, persediaan air tanah, pencegah erosi, menjamin keseimbangan alam-kehidupan-lingkungan, keindahan, pendidikan dan social-politik-ekonomi.(Grace)

BERITA LAINYA