Darsono Dipungli Rp 60 Juta Untuk “Memperoleh” Kios Ukuran 4x2 Meter di Pasar Brayung Kudus

Warung pojok milik Darsono di pasar brayung Mejobo kudus - foto Grace

Tirtanews.id, KUDUS - Darsono terpaksa membayar tunai Rp 60 juta kepada Kepala Pasar Brayung L agar memperoleh kembali tempat asal mula berjualan. Yaitu di pojok kiri depan komplek Pasar Brayung Desa/Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus. “ Jika tidak saya beli dengan harga yang ditawarkan, kemungkinan besar akan dibeli pedagang lain. Tanpa diberikan kuitansi sebagai bukti pembayaran” ujarnya kepada Tirtanews.

Selain dia, ada sejumlah pedagang- terutama yang menempati kios satu deret dengan kios Darsono juga diharuskan membayar kepada L. Namun besarannya tidak sama antara Rp 40 – Rp 50 juta/kios

Dengan membayar Rp 60 juta, maka pria berkumis dan ramah senyum ini, berhak menempati kios ukuran 4x 2 meter. Kios ini dijadikan tempat berjualan ayam, bebek enthok, lele goreng nasi uduk-nasi biasa dan aneka jenis minuman,

Lalu membayar lagi Rp 7 juta untuk membayar kios yang berada persis di samping kiri kios tersebut. Ukurannya hanya sekitar 1,5 x 2 meter saja. “Tempat itu sebenarnya akan digunakan untuk pos penjagaan. Namun mengingat letaknya berdampingan dengan los yang sudah saya beli dan ternyata memang ditawarkan untuk dijual- maka saya beli” tambahnya sembari tertawa.

Darsono, pedagang Pasar Brayung yang dipungli Rp 60 juta

Namun setelah itu Darsono yang tinggal di Desa Kirig Kecamatan Mejobo- sekitar dua kilometer dari Pasar Brayung sempat menghela nafas- ketika harus bekerja ekstra keras, untuk membayar angsuran bank Rp 3.300.000/bulan. “Sebab uang untuk membayar kios itu saya pinjam bank sebesar Rp 100 juta. Dengan jangka waktu tiga tahun, ” ujarnya . Tanpa memikirkan untung ruginya, yang penting “dapat” kios dulu. Padahal seharusnya kios yang dibangun dengan APBD Kudus 2017 yang konon mencapai Rp 1,7 miliar tidak untuk diperjual belikan.

Deretan kios di Pasar Brayung Mejobo Kudus yang diduga dijual belikan seharga Rp 45 - Rp 60 juta per kios - foto Grace

“Kisah” untuk menempati kios 2x 4 meter dan 1,5 x 2 meter ini masih berlanjut- Darsono juga harus mengeluarkan uang untuk membeli “pintu” penutup kios yang bisa dinaik-turunkan dengan barang berkualitas seharga Rp 10 juta. “ Masih ada lagi Pak, saya harus mengeluarkan Rp 5 juta kepada kepala Pasar Brayung untuk memperoleh surat ijin pendasaran (SIP). Sampai sekarang pun juga belum saya terima. ” ujarnya.

Sebelum Darsono menempati kios ini di belakang kiosnya adalah warung makan minum milik orang tuanya. Menempati tanah milik “pengairan “ (Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang). Mengingat kedua orang tuanya sudah lanjut usia, maka tempat itu “diambil alih” Darsono dan di jadikan satu dengan kiosnya. “Bagian depan untuk “lesehan” para pembeli dan di belakang untuk dapur. Jadi kami bukan pedagang baru di Pasar Brayung” tambahnya.

Sekretaris Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus yang ditemui Tirtanews, tidak memberikan komentar tentang “kasus” Darsono dan kawan kawannya yang diduga dikenakan pungutan liar (pungli) Kepala Pasar Brayung yang sejak setahun lebih alih tugas sebagai Kepala Pasar Piji Kecamatan Dawe (Kudus).(Grace)

BERITA LAINYA