Indonesia Kini Tambah 3 Biosfer Baru Satu Diantaranya Karimunjawa Jepara Muria

Taman Nasional Bunaken (Dok. Balai TN Bunaken) - Kompas

Tirtanews.id - Kudus, (Minggu, 15/11/2020). Penetapan tiga cagar biosfer baru Indonesia resmi diumumkan dalam sidang ke-32 International Coordinating Council (ICC) Man and the Biosphere (MAB) UNESCO tahun 2020, pada Rabu (28/10). Ketiga Cagar Biosfer baru Indonesia seluas total 2.237.373,26 hektar adalah Cagar Biosfer Bunaken Tangkoko Minahasa (746.412,54 hektar), Cagar Biosfer Karimunjawa Jepara Muria (1.236.083,97 hektar) dan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh (254.876,75 hektar).

Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Surya Rosa Putra menjelaskan, ketiga cagar biosfir Indonesia yang diakui UNESCO tersebut memiliki keunikannya masing-masing.

Cagar Bunaken Tangkoko Minahasa misalnya, merupakan ekosistem vulkanik yang memiliki keanekaragaman hayati bawah laut yang sangat kaya.

Sedangkan Karimunjawa-Jepara-Muria adalah ekosistem unik yang merupakan gabungan kepulauan, dataran rendah dan pegunungan.


Sedangkan, Cagar Merapi Merbabu Menoreh merupakan ekosistem hutan pegunungan yang menjadi rumah bagi flora dan fauna khas Jawa.

Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB Indonesia – Lembaga Ilmu pengetahuan Indonesia (LIPI), Y. Purwanto mengatakan, kini Indonesia memiliki 19 Cagar Biosfer seluas 29.901.729,259 ha yang menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserves (WNBR). “Dari total luas kawasan Cagar Biosfer yang dimiliki Indonesia tersebut, luas kawasan konservasi yang menjadi core area/area inti Cagar Biosfer adalah 5.261.133,42 ha atau sebesar > 20% dari total luas kawasan Cagar Biosfer yang ada,” kata Purwanto

Menurut Purwanto, konsep Cagar Biosfer telah digagas oleh UNESCO sejak tahun 1971. Konsep Cagar Biosfer ini adalah mengelola suatu kawasan yang ditujukan untuk mengharmonisasikan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati - sosial - ekonomi yang berkelanjutan dan dukungan logistik yang cukup, dimana kawasan konservasi merupakan inti area.

Saat ini jumlah Cagar Biosfer telah mencapai jumlah 714 yang tersebar di 129 negara di dunia. “Pembangunan dan pengembangan Cagar Biosfer Indonesia dapat menjadi sarana untuk melaksanakan komitmen bangsa Indonesia dalam melaksanakan berbagai konvensi terkait dengan lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim,” ujar Purwanto.

Lebih lanjut Purwanto mengatakan, capaian penambahan tiga cagar biosfer baru tersebut merupakan prestasi Indonesia yang dimotori Komite Nasional MAB UNESCO Indonesia yang didukung LIPI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan enam Pemerintah Kabupaten/Kota.

Senada dengan Purwanto, Direktur Program dan Pengembangan, Komite Nasional MAB Indonesia sekaligus Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Nugroho mengatakan, keberadaan 19 Cagar Biosfer Indonesia membuat Indonesia memiliki peluang besar untuk mendemonstrasikan pembangunan berkelanjutan.

Sidang yang sedianya dilaksanakan di Abuja Nigeria ini, karena pandemi Covid-19 maka dilakukan secara daring Sekretariat MAB UNESCO, Paris dipimpin Mr Adepoju Adeshola dari Nigeria dan diikuti 34 negara anggota ICC-MAB.

Saat ini, Indonesia menjabat sebagai negara anggota ICC-MAB UNESCO untuk periode 2019 – 2023. Selain menetapkan tiga cagar Biosfer di Indonesia, sidang tersebut juga menetapkan 24 Cagar Biosfer lainnya dari berbagai belahan dunia.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar