Mencicipi Iwak Manuk Sawah Goreng

Iwak manuk plus petai

Tirtanews.id - Kudus, (Rabu, 18/11/2020). Rasanya belum lengkap ketika belum menyantap Iwak Manuk Sawah Goreng (IMSG) di Desa Kalirejo Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus. Tepi jalan raya Kudus-Purwodadi, beberapa puluh meter dari Pintu Pembagi Banjir Wilalung yang dibangun pada tahun 1916-1918.

IMSG termasuk salah satu makanan khas Kota Kretek. Seperti soto daging ayam dan soto daging kerbau, sate daging kerbau, nasi atau lontong tahu telor, nasi pindang daging ayam dan daging kerbau.

IMSG disajikan di dua warung yang sudah cukup dikenal. yaitu Rumah Makan Bu Mun (Muntikah) dan Rumah Makan  Handayani.

Bu handayani

Rumah makan Bu Mun, yang cukup terjaga kebersihan ini, menjadi jujukan bagi penggemar IMSG yang terdiri dari kalangan pejabat, pengusaha hingga warga masyarakat lain.” Saya memang meneruskan usaha dari kedua orang tua, namun saya coba untuk mengembangkan agar jumlah pembeli dan pelanggan terus meningkat. Antara lain dengan menambah lalapan yang semula hanya kol (kobis) dan daun semanggi, dengan pete. Lalu saya juga menggoreng manuk gemak (burung puyuh)” ujar Ny Muntikah atau lebih akrab dipanggil Bu Mun.

Lalu ia mengungkapkan proses penyajian IGMS, yang diawali dengan mencabuti seluruh bulu burung hingga bersih. Kemudian dibelah dari pangkal leher, dada, perut dan dikeluarkan kotorannya. Dilipat sedemikian rupa, selanjutnya diungkep(dimasukkan dalam kuali selama beberapa jam) sembari diberi bumbu tumbar, miri, merica, bawang putih, garam, daun jeruk purut dan kecap , setelah itu baru digoreng. “Dagingnya menjadi empuk sekali, dan rasanya gurih. Apalagi dibarengi dengan nasi putih, lalapan kobis, daun kemangi, atau pete dan sambal terasi atau sambal tomat,” ujar Bu Mun.

iwak manuk sawah goreng

Ia menambahkan, jenis burung yang digoreng tersebut adalah manuk peruk yang dibeli dari sejumlah penangkap burung. “ Jenis burung ini hanya dijumpai di seputar rawa-rawa, persawahan daerah aliran sungai (DAS) Juwana wilayah kecamatan Undaan. Kami setiap hari dipasok dari para penangkap burung itu , dengan harga bervariasi sesuai besar kecilnya, Adapun harga satu porsi ( seekor) burung peruk goreng beserta nasi dan lalapannya, hanya Rp 20.000. “ tuturnya.

Sedang warung makan Handayani, tidak hanya menyediakan burung peruk saja, tapi juga menjajakan berbagai jenis burung sawah lainnya. Seperti Wliwis, dan Bontot. “Saya juga menjual pepes wader, bothok ikan kuthuk dan ikan mujaer. Dengan sayur bening maupun sayur lompong. Rata-rata sehari bisa menjual puluhan ekor burung sawah. ” ujarnya.

Handayani adalah anak ke-7 dari 8 anak pasangan suami-isteri Suroto- Jasirah, yang sejak kelas IV SD sudah bisa mbuboni manuk goreng dan selepas kelas VI ia menggantikan peran ibunya yang meninggal pada tanggal 8 Agustus 1979 untuk meneruskan berjualan iwak manuk goreng sampai sekarang.

Dua rumah makan yang juga melayani pesanan dari para pelanggannya ini menjadi jujugan- ampiran banyak kalangan. Tidak hanya dari Kudus . Dari luar kota pun berdatangan ke sini untuk mencicipi IMSG hari, karena kesulitan membeli burung peruk maupun jenis burung sawah lainnya,” ujarnya.

Karjo, salah satu pemasok burung pada warung Bu Mun memaparkan, untuk menangkap burung peruk, sribombok dan jenis burung sawah lainnya, dilakukan dengan cara menjaring dengan jaring nilon atau dengan getah.. “Jika sedang “musim panen” saya bisa menjaring 20 – 50 ekor./hari. Lalu saya jual dengan harga Rp 3.000 – Rp 8.000/ekor, sesuai jenis burungnya. Memang yang paling mahal burung peruk, karena dagingnya konon lebih enak dari daging ayam kampung,” tuturnya.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar