Menyusuri Sebagian Sungai Piji Penuh Sampah, Enceng Gondok, Dangkal

Depan pitu air di sungai Piji desa Kesambi masih dipenuhi sampah

Tirtanews.id - Kudus, (Senin, 9/11/2020). Langkah yang dilakukan ratusan anggota Kodim 0722 Kudus , Polres Kudus, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan warga untuk resik resik sungai Bakinah dan sungai Piji pekan lalu layak untuk diacungi jempol.


Namun menurut pengamatan Tirtanews sepanjang Senin (9/11/2020), perlu diteruskan- perlu ditindak lanjuti. Sebab, saat menyusuri sebagian sungai Piji, sejumlah “anak sungainya” hingga sungai Jratun (sebutan umum warga setempat), kondisi di lapangan masih lebih banyak yang belum terjamah. Apalagi diprediksi dalam bulan November – Desember hingga awal Januari 2021, terjadi curah hujan ekstrim (intensitas tinggi)


Sebagian sungai dan anak sungai Piji yang berada di Desa Hadiwarno, Desa Kesambi, sebagian Desa Temulus, Lalu sungai Dawe dan anak sungai di Desa Temulus dan Desa Kirig, kondisi secara umum memang compang camping.

Pertemuan sejumah anak sungai di npetrbatasan Desa Jojo dengan Desa Kesambi Kecamatan Mejobo menjadiakan air tidak bisa mengalir. Selain dangkal, penuh lumpur dan belum pernah dikeruk

Persis di depan seberang Kantor-Balai Desa Kesambi, hingga kea rah aliran sungai sejauh lebih dari 100 meter memang terlihat “bersih”. Namun di dekat masjid- yang terlihat ada pintu air, sampah masih terlihat menumpuk di depan pintu air hingga beberapa meter ke arah hulu.

Lalu ketika ditelusuri hingga batas desa, hampir semua jembatan yang ada di alur sungai ini masih terlihat tumpukan sampah. Bahkan ada di salah satu jembatan yang bagian ujungnya sudah terlihat “berongga”. Sedang di seberangnya tumpukan sampahnya malah sudah mendekati “badan” jembatan.

Berlobang- salah satu  gaian tanggul Suyngai Piji Desa Kesambi Mejobo. Jika tidak segera diberbaiki  rentan jebol

Lalu hampir semua bagian tepi kanan kiri sungai bagian dalam terlihat tumpukan tanah yang memanjang. Sebagian diantaranya banyak ditanami pohon pisang. Padahal seharusnya itu menjadi larangan keras untuk ditanami atau untuk urugan. Akibatnya badan sungai menyempit lagi. Begitu pula sungai kembali mendangkal.

Sedang anak sungai yang masih berada di wilayah Desa Kesambi, lalu menyatu ke anak sungai di wilayah Desa Jojo hingga ke sungai Jratun jauh lebih parah. Air dari anak anak sungai tersebut ternyata tidak bisa larut masuk ke sungai Jratun, sehingga anak anak sungai tersebut saat ini kondisinya penuh air.

Air anak anak sungai itu sendiri berasal dari kiriman hujan dari bagian atas maupun dari wilayah desa setempat.”Kami sudah mengusulkan berkali-kali agar anak anak sungai itu dinormalisir. Atau minimal dikeruk, tapi nyatanya sampai sekarang belum pernah dilakukan oleh pihak/dinas instansi terkait,” ujar Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Jojo, Anton yang menunjukkan anak anak sungai itu.

Dengan masih ngendhoknya air di sebagian besar anak anak sungai . Lalu diperparah dengan kondisi sungai Piji dan sungai Jratun, maka sangat mungkin wilayah Desa Hadiwarno, Kesambi, Jojo dan Temulus akan diterjang banjir lagi seperti yang terjadi pada Minggu 12 Januari 2020. Pada saat itu tanggul sungai Piji di Desa Kesambi Kecamatan Mejobo jebol sepanjang 30 meter.(Grace)

0 Komentar

0 Komentar