Ormawa IAIN Kudus Laksanakan Tradisi Manakib Yang Telah Ada Sejak Dulu


Tirtanews.id, KUDUS - Tradisi membaca manakib ini sudah bertahun-tahun, dari orang zaman dulu. Bahkan di daerah biasanya kalau ada orang sehabis membangun rumah mereka mengundang orang-orang kemudian dibacakan manaqib Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Tuan rumah pun menyuguhkan berbagai aneka makan kepada para undangan.

Manfaat Manaqib menurut kamus Munjib dan Kamus Lisanul ‘Arab, Manaqib adalah ungkapan kata jama’ yang berasal dari kata Manqibah artinya Atthoriqu fi al jabal jalan menuju gunung atau dapat diartikan dengan sebuah pengetahuan tentang akhlaq yang terpuji, akhlaqul karimah. 

Dari pengertian ini manaqib dapat diartikan sebuah upaya untuk mendapatkan limpahan kebaikan dari Allah SWT dengan cara memahami kebaikan-kebaikan para kekasih Allah yaitu para Aulia. Sebab Para wali dicintai oleh Allah dan para wali sangat cinta kepada Allah. (Yuhibbuunallah wayubibbuhum).

Sebagaimana ditulis dalam quran:

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Al Maidah (5): 54).

Manakib juga menjadi salah satu wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rezeki yang lebih. Tradisi ini sering juga dikaitkan dengan tradisi jawa yaitu dengan pemotong ayam jago yang dipanggang secara utuh serta membaca bacaan Manakib dan juga mengundang warga terdekat untuk menikmatinya.

Tradisi ini sering dilakukan masyarakat maupun instansi baik pemerintah maupun pendidikan, karena dalam hal ini mereka masih menjaga tradisi yang telah ada sejak dahulu. Salah satu contohnya yang diterapkan oleh organisasi mahasiswa (Ormawa) kampus yaitu DEMA fakultas tarbiyah IAIN Kudus di Di Gedung Muslimat NU Tanjungkaranh Jati Kudus pada Jum'at, 27/11/2020 dini hari.

Manakib yang dilakukan DEMA lantaran untuk ucapan syukur kepada yang maha pemberi sehingga kegiatan yang laksanakan bisa berjalan dengan lancar tanpa suatu halangan. Kegiatan ini juga merupakan bentuk rutinan ketika mau membuat acara maupun selesainya acara.

"Kami adakan manaqib ini adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan kelancaran kegiatan kami yang telah dilaksanakan maupun yang belum kami lakukan nantinya," ucap Rovik Hidayat (21) selaku ketua Dema Fakultas Tarbiyah kepada redaksi.

Tradisi manakib disajikan dengan makanan yang seadanya anatara lain panggang ayam utuh, nasi, dan olahan kacang, kentang, maupun olahan mie yang di desain sedemikian rupa.

"Manaqib ini kami sajikan dengan menu seadanya yaitu olahan kentang, mie, kacang panjang, tempe, tahu yang diolah sedemikian rupa ditambah ayam panggang utuh berserta nasi secukupnya," tambah rovik.

Tidak hanya itu Silva Syihabuddin (22) salah seorang yang notabennya mahasiswa IAIN Kudus yang hadir sangat salut dan bangga melihat organisasi mahasiswa yang melakukan sekaligus menjaga tradisi yang telah ada dan juga menjaga tradisi jawa pada umumnya.

"Saya sangat bangga dan salut melihat hal ini, tidak hanya menjaga tradisi yang telah ada yang dilakukan oleh masyarakat dahulu, salah satu contohnya yang dilakukan organisasi mahasiswa ini karena keluarga mereka tak hanya menjaga tradisi juga memberikan sedikit rezekinya tamu undangan lainnya," ucapnya.

"Tak hanya itu saja, tradisi ini sudah melekat seluruh warga Nahdlatul Ulama karena mereka beranggapan Tradisi Mangan Akib ini selain bersifat shodaqoh juga menghormati syekh Abdul Qadir Jailani," pungkasnya. (Teguh)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar

BERITA LAINYA