Puasa Apit Weton Penyelaras Kehidupan Pribadhi Seorang Jawa


Tirtanews.id - Jawa dwipa, sebutan lain untuk suatu wilayah di negara kita tercinta Indonesia. Beragam tradisi unik yang syarat akan makna yang terkadang membuat kaum kaum tertentu penuh tanya dan menduga duga apa fungsi atau manfaatnya.

Puasa apit weton, sebuah tradisi yang sering dilakukan kalangan spiritualis jawa. yang pada dekade terakhir ini sudah mulai terlupa dan bergeser makna.

Sejatinya, Puasa apit weton adalah puasa yang dilakukan saat hari kelahiran sendiri. Misalnya apabila kita lahir pada hari Senin, maka setiap hari minggu mengapit Senin dan ditutup dengan selasa kita diperbolehkan melakukan puasa apit weton. Dalam ajaran Islam, puasa hari kelahiran atau puasa weton memang tidak ada.

Jenis puasa ini merupakan tradisi masyarakat jawa pada masa lalu, konon menurut masyarakat yang mempercayai ajaran kejawen, puasa apit weton adalah momen dimana kita memperhatiakan kembaran ghaib kita atau sering disebut roh sedulur.

Yang mana seorang penganut kejawen, pada hakekatnya manusia di lahirkan di dunia tidak sendiri tapi komplit dengan 'sedulur gaib nya' sedulur papat nya yaitu :

1. Kakang kawah adalah air ketuban yang membantu kita lahir ke alam dunia ini. 

2. Adhi Ari-ari atau ari-ari. Setelah jabang lahir ari-ari inilah yang kemudian keluar, sehingga masyarakat kejawen menyebutnya dengan adi ari-ari atau adik ari-ari

3. Getih atau darah. Getih atau darah adalah zat utama yang terdapat pada bayi dan sang ibu. Darah jugalah menjadi pelindung pada saat bayi masih ada dalam kandungan.

4. Puser atau pusar. Pusar merupakan penghubung antara ibu dan anak, dengan adanya tali puser sang ibu mampu memberikan nutrisi kepada sang bayi. Puser juga merupakan saluran bernafas sang bayi. Dengan adanya puser inilah seorang ibu memiliki hubungan batin yang erat dengan bayi.

Pada tradisi ini biasanya menyajikan sesajen berupa segelas kopi hitam, nasi putih dan telur, lilin, kembang 7 rupa dan rokok kretek. 

Atau bisa juga jadah pasar maupun bubur sengkolo 7 rupa. diceritakan apabila semua sajen tersebut dimakan oleh yang puasa maka rasanya akan hambar karena dipercaya sarinya sudah dimakan oleh roh sedulur.

Puasa weton ini menjadi sarana pemberian perhatian kepada roh sedulur papat dan menjadi sarana memperkuat kesatuan antara seseorang dengan roh sedulur papat dan para leluhurnya.

Puasa weton (Laku Wetonan) adalah salah satu laku budaya kebatinan yang sudah umum dilakukan dalam masyarakat jawa. Tetapi sehubungan dengan adanya pengaruh budaya Islam dalam masyarakat jawa, orang-orang jawa yang masih melakukan puasa weton ini tidak lagi melakukannya sesuai aslinya dalam ajaran jawa, yaitu dengan puasa ngebleng, tetapi melakukan puasanya sama dengan puasa biasa, yaitu puasa dari subuh sampai mahgrib.

Puasa apit weton juga diyakini mampu mengantarkan pelakonnya menuju gerbang kesejahteraan dan dijauhkan dari marabahaya serta selalu dalam kebahagiaan.

Puasa Apit Weton Untuk Kesehatan Kembaran Ghaib 

Sekalipun bentuk laku puasa itu masih memberikan keghaiban, tetapi sudah tidak lagi besar seperti seharusnya, bahkan karenanya banyak juga yang tidak lagi dapat merasakan keghaibannya sehingga kemudian tidak lagi melakukannya, dan kemudian digantikan dengan puasa Senin – Kamis, puasa mutih, atau puasa ngrowot.

Khasanah budaya ini akan selalu ada di tengah tengah kehidupan kita di era yang seba digital meskipun kian hari makin sedikit yang melakukan.

(KRT Edy Kurniawan Suryo Pramono,s.pd)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar

BERITA LAINYA