Undaan, Jati, Mejobo, Jekulo Pelanggan Banjir di Kabupaten Kudus

Pintu Wilalung

Tirtanews.id - Kudus, (Minggu, 1/11/2020). Pemerintah kabupaten (Pemkab) Kudus dengan “ujung tombaknya” Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat TNI- Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), dinas instansi terkait sudah mencanangkan kesiapannya menyongsong kemungkinan terjadinya bencana alam. Khususnya banjir, tanah longsor dan angin ribut, yang menurut perkiraan Kementerian Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) akan terjadi antara November- Desember 2020.

Menurut peta banjir yang disodorkan BPBD Kudus meliputi wilayah Kabupaten Undaan, Jekulo, Mejobo dan Jati .Dalam kurun waktu enam tahun terakhir banjir yang lumayan besar terjadi pada awal 2014.

Komplek terminal induk dan tiga pedukuhan di Desa Jatiwetan , yaitu Tanggulangin, Gendok dan Barisan Desa tergenang banjir hingga selama 10 hari. Sedang lalulintas Semarang- Demak- Kudus (dari arah barat), Surabaya- Rembang- Pati – Kudus (dari arah timur)juga lumpuh total selama 10 hari. Sebab jalan di seputar jembatan Tanggul Angin, .terminal induk, hingga kawasan hotel Griptha tergenang air cukup dalam.

Penyebab utamanya curah hujan di seputar Kudus cukup tinggi , sejumlah sungai kecil meluap dan debit air di Kali Wulan tembus di atas 1.000 meter kubik/ detik. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum memutuskan untuk meninggikan jalan negara itu sejak dari seputar jembatan Tanggul Angin, depan komplek terminal induk, hingga perempatan jalan seputar perempatan jalan depan Hotel Griptha.

Menurut Pejabat Pembuat Komitmen Trengguli – Kudus – Pati dan batas kota Rembang pada Dinas Bina Marga Jawa Tengah, Suwito, khusus untuk peninggian tahap kedua terbagi menjadi tiga titik , yaitu depan Hotel Griptha – Terminal Induk sepanjang 700 meter. Jalan Lingkar yang mengarah ke Terminal Induk sepanjang 300 meter. Lalu depan Pondok Pesantren Al Muayyad hingga jembatan Tanggulangin sepanjang 100 meter. Total biayanya Rp 18 miliar..

Sedang pihak Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Kudus, juga ikut membantu mengatasi banjir di seputar lokasi tersebut dengan membangun satu stasiun pompa air yang terletak di Dukuh Tanggulangin Desa Jatiwetan, sekitar 100 meter sebelah barat Terminal Induk Jati Wetan.

Stasiun pompa air tepi sungai Wulan Jati wetan yang sudah lama tidak berfungsi

Stasiun pompa air ini didesain mampu menyedot air (banjir) sebanyak 450 meter kubik per detik yang berasal dari seputar pedukuhan setempat lalu dibuang ke Kali Wulan.. Untuk mengoperaswikan pompa tersebut dibutuhkan bahan bakar solar 20 liter/satu jam. Sedang total biaya pembangunannya mencapai sekitar Rp 850 juta.

Sebelumnya, yaitu sekitar tahun 2007, pihak Dinas Pekerjaan Umum setempat juga telah membangun satu stasiun pompa air yang terletak hanya beberapa meter dari jembatan Tanggulangin.

Pembangunan stasiun pompa tepi sungai Wulan Desa Jati Wetan 2014

Di bangun pada tahun 2007 dengan biaya lebih dari Rp 76 juta, baru dioperasikan dua kali dan selanjutnya dibiarkan mangkrak sampai sekarang. Adapun penyebabnya teknik pembangunannya tidak tepat.

Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang (PUPR) Kudus, Samani Intakoris (sekarang Sekretaris Daerah/ Sekda) untuk mengatasi genangan di tiga pedukuhan Desa Jati Wetan dan sebagian wilayah Desa Tanjungkarang dibutuhkan paling tidak 10-20 unit pompa air.

Namun menurut hasil penelusuran Tirtanews rencana membangun 10-20 unit pompa air di wilayah Desa Jati Wetan dan Desa Tanjungkarang, sampai sekarang (1/11/2020 ) tidak terwujud.

Selain itu juga tidak akan menjamin di dua desa itu terbebas banjir Mengingat penyebabnya tidak hanya curah hujan tinggi di seputar Kudus, tetapi juga banjir kiriman dari sungai Wulan.

Sungai ini berhulu di seputar pintu pembagi banjir Wilalung (Undaan, Kudus), bermuara di Laut Jawa wilayah Demak dengan panjang 48,62 kilometer. Pernah dinormalisir beberapa tahun lalu dengan daya tampun 1.100 meter kubik/detk, namun saat ini jika lebih dari 800 meter kubik/detik saja sungai Wulan sudah meluap.

Sedang pintu pembagi banjir Wilalung juga mendapat kiriman banjir dari wilayah Kabupaten Blora, melalui sungai besar Lusi yang panjangnya mencapai 166 , 23 kilometer. Ditambah gelontoran dari sungai Serang hulu dengan panjang 46,50 kilometer ( seputar Gunung Merbabu) menuju seputar Waduk Kedung Ombo (KDO), dan juga sungai Serang Hilir sepanajng 86,67 kilometer dari waduk Kdo sampai dengan pintu pembagi banjir Wilalung.


Selama ini banjir kiriman dari berbagai sungai besar beserta anak sungai tersebut rata-rata cukup tinggi. Selain curah hujan yang menjadi penyebabnya, juga tidak kalah pentingnya karena sungai-sungai besar, menengah dan kecil di daerah itu belum pernah dinormalisasi. Sebagian besar hutan di Blora, Grobogan hingga Pati belum pulih 100 persen akibat aksi penjarahan hasil hutan pada 1988-1999. (Grace)

0 Komentar

0 Komentar