Ceritera Rakyat Pohon Jati di Makam Masin Jelmaan Manusia Sudah Berumur Ratusan Tahun

Dua pohon jati berdiamteter cukup besar berada di dalam komplek makam masin (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Sejumlah pohon jati yang berada di komplek makam Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus konon jelmaan manusia. Akibat terkena sabda (kutuk) Sunan Muria Ada yang masih hidup (tumbuh subur). Ada yang telah mengering. Ada pula yang tumbang. Semuanya dibiarkan begitu saja. Tidak ada seorang pun warga yang berani untuk mengusiknya.

Sebuah pohon jati yang tumbang dan tergelatak di atas sungai kecil di komplek makam Masin (Foto Grace)

Selain pohon jati, di komplek makam Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku juga ditumbuhi beragam jenis pohon besar, tinggi dengan daun yang cukup lebat Antara lain pohon beringin, pohon aren, pohon palem-paleman, sehingga seakan sinar matahari tidak mampu menembusnya.

Pohon aren salah satu diantara tanaman besar di komplek makam Masin (Foto Grace)

Lokasinya agak jauh dari pemukiman warga. Berada di atas sebuah bukit kecil dengan luas sekitar satu hektar. Dipisahkan dengan sebuah sungai, namun sudah dibangun jembatan permanen. Setiap hari dikunjungi peziarah dan paling ramai saat malam Jumat Wage.


Umar Hasyim, penulis buku Sunan Muria Antara Fakta dan Legenda (penerbi CV Tawang Alun Kudus, 5 Mei  1983) pada halaman 80 antara lain menulis “ Ah bagai pohon jati saja engkau semua. Berdiri terpaku tak bergerak di bukit” ujar Sunan Muria kepada warga yang tengah mengikuti proses pemakaman Raden Ayu Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku.

Begitu  sabda Sunan Muria diucapkan, semua manusia manusia yang berdiri terpaku di atas bukit kecil itu tiba tiba berubah menjadi pohon jati semua. Pohon jati tersebut dikeramatkan warga yang percaya akan kesaktiannya.

Raden Ayu Nawangsih adalah putri Sunan Muria. Sedang Rinangku salah satu murid Sunan Muria  yang cerdas, cakap dan berwajah tampan. Keduanya sepakat akan hidup bersama, meski apa saja yang terjadi.

Sunan Muria sudah tahu hal tersebut. Namun putrinya akan dijodohkan dengan Cebolek, juga salah satu muridnya. Nama ini adalah nama paraban dari kata cebol- pendek- kerdil dan jelek. Cebolek seorang kiai asal Kajen Pati.

Raden Ayu Nawangsih menolak dan memilih Rinangku. Agar kedua tidak terus menerus berhubungan, maka Sunan Muria mengambil langkah memberikan tugas tugas berat kepada Rinangku.

Pertama membasmi perusuh yang dipimpin Kiai Mashudi, dengan harapan Rinangku tewas . Namun Rinangku mampu membasmi perusuh tersebut. Kemudian Sunan Muria menugaskan  menjaga burung (dalam bahasa Jawa nunggu manuk) di persawahan pedukuhan Masin yang ditanami padi dan dalam kondisi menguning.

Pada suatu hari Sunan Muria men-cek ke lokasi. Ternyata padi yang telah menguning itu dipenuhi banyak burung yang dengan leluasa memakan sepuas sepuasnya- tanpa ada yang mengusirnya.  

Tentu saja membuat Sunan Muria marah. Rinangku mengaku salah dan berjanji akan mengembalikan semuan butir padi yang telah dihabiskan ratusan burung kembali seperti semula. Ternyata Rinangku mampu melakukannya.

Sunan Muria ternyata malah tidak senang dengan “ulah” Rinangku yang dianggap malah menyaingi kesaktiannya. Seketika itu juga Sunan Muria mengambil busur dan anak panah, kemudian diarahkan ke Rinangku- dengan maksud menakut-nakuti. Namun anak panah itu terlepas dan mengenai perut lalu tembus ke punggung.

Rinangku roboh tertelungkup di tanah kemudian tewas. Melihat kekasihnya seperti itu, Nawangsih pun lalu menubruk pucuk panah yang ada di punggung Rinangku, sehingga putri Sunan Muria itu pun tewas pula.

Ini menjadikan suasana gempar di seputar Masin. Warga yang mengantarkan-mengiring dan mengikuti acara pemakaman dua sejoli yang menurut Umar Hasyim bagai Romeo dan Juliet, tertegun dan terpana.

Khusus tentang ceritera rakyat yang menyebutkan Sunan Muria merasa tersaingi ilmunya oleh Rinangku dianggap ingin menjatuhkan nama besar Sunan Muria. Sunan Muria adalah salah satu dari sembilan Wali Sanga. Ia dikenal pula sebagai mubalilgh dan seniman/pencipta lagu/tembang Sinom dan Kinanti.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar