Dana Hibah Rp 1 Miliar Lonceng Kematian bagi KONI Kudus? (1)

Ilustrasi uang

Tirtanews.id, KUDUS - Pada tahun anggaran 2021, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus hanya memperoleh dana hibah Rp 1 miliar. Menurut Ketua DPRD Kudus Masan, penetapan anggaran tersebut sudah melalui mekanisme yang ada. Selain itu juga atas dasar kesepakatan bersama seluruh anggota Badan Anggaran DPRD dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Termasuk munculnya pertimbangan atas konflik internal yang terjadi pada tubuh KONI.

Ketua KONI Kudus Antonia atau biasa disapa Anton menyatakan : Olahraga di Kudus bisa mati suri. Untuk kesekretariatan saja tidak cukup. Saya tidak tahu yang salah siapa. Anton tidak berkomentar tentang adanya konflik internal di tubuh KONI.


Tanpa bermaksud untuk membela dan menyalahkan siapapun, Tirtanews membuka arsip berita sejak menjelang akhir masa jabatan Ketua KONI di tangan Ridwan- yang terpilih menjadi anggota DPRD Kudus

Pada tanggal 17/11/2016 Ridwan menyatakan : salah satu pedoman Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Kudus, untuk menggelontorkan dana kepada cabang olah raga adalah ada prestasi – ada dana. Artinya, ia tidak akan segan-segan memberikan dana cukup besar jika cabang olah raga yang bersangkutan memiliki prestasi. Baik prestasi di tingkat Provinsi Jawa Tengah dan apalagi di tingkat Nasional.


Pada tahun 2016 , KONI Kudus memperoleh anggaran sebesar Rp 11 miliar yang diterima dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) murni Kabupaten Kudus 2016 dan dana hibah Rp 6 miliar. “Memang ada yang mengatakan dana itu terlalu besar dan bagaimana pertanggung-jawabannya. Tapi bagi saya itu masih kurang banyak, karena untuk meningkatkan prestasi atlet di tingkat yang lebih tinggi butuh biaya besar. Sekarang ini saja saya harus pontang panting mencari dana untuk tim Persiku yang akan berlaga di Liga Nusantara (Linus) 2016, mulai Sabtu mendatang (19/11/2016). ”tuturnya

Persiku Macan Muria adalah salah satu cabang olahraga yang berprestasi dalam tahun 2016, setelah mampu menjadi juara Linus tingkat Provinsi Jawa Tengah dan kemudian berkompetisi di tingkat nasional, namun akhirnya tersingkir di tengah jalan.


Lalu cabang olah raga lainnya yang berprestasi adalah tim bola voli Porvit Kudus, yang meraih urutan ke empat dalam Kejuraan Nasional (Kejurnas) Voli Antarklub PGN Livoli Divisi Satu di Ungaran Kabupaten Semarang akhir pekan lalu, Kejurnas ini diikuti 13 peserta (putra) dan 11 peserta putri.

Ridwan menegaskan dengan dana Rp 11 miliar, pihaknya merasa sudah berusaha maksimal, sehingga menjadi salah satu diantara tiga kota/kabupaten di Jawa Tengah yang mampu memberikan kontribusi atletnya ke Pekan Olahraga Nasional (PON) 19 di Jawa Barat September lalu. Setelah Kota Semarang dan Solo. Jika dana alokasi yang diterima ditingkatkan lagi pada tahun anggaran mendatang, Ridwan berani mentargetkan tambahan prestasi yang lebih baik lagi.


Sedangkan Ketua Pengurus Cabang Olahraga Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kudus, Masud menyatakan pada tahun anggaran 2016 menerima kucuran dana dari KONI Rp 75 juta. Itu tidak mencukupi, hingga harus pandai pandai mencari tambahan biaya.

Nah dari penjelasan Ridwan dan Masud tersebut bisa ditarik kesimpulan, KONI Kudus butuh dana cukup besar agar bisa berprestasi. Dengan dana Rp 1 miliar apakah mampu berprestasi? Simak tulisan ke-2 besok (Grace)

BERITA LAINYA