Gagal Pembangunan Jalur KA Semarang - Rembang 2020

Stasiun Wergu Kudus tampak dari depan (barat)

Tirtanews.id, KUDUS - Rencana pembangunan atau menghidupkan kembali jalur kereta api (KA) Semarang – Rembang 2020, dipastikan gagal terwujud. Meski demikan, masih ada harapan, karena dalam desain masterplan dokumen perkeretaapian Indonesia berlaku 2005-2030.

Ketua Forum Transporasi Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (FTP MTI), Djoko Setijowarno dalam seminar bertajuk “Membangun Sistem Transportasi Modern Jalur Kereta Api Semarang – Rembang sebagai Sarana Pelayanan Publik dan Penggerak Ekonomi di Jawa Tengah” di kampus Universitas Muria Kudus (UMK) Agustus 2011 menyatakan, jalur kereta api Semarang-Rembang yang melewati Kudus dan Pati akan kembali dioperasikan pada tahun 2020.

Stasiun wergu Kudus diambil dari samping depan kiri (selatan)

Pengoperasian kembali jalur kereta api Semarang-Rembang, tersebut sudah masuk dalam desain masterplan dokumen perkeretaapian Indonesia 2005-2030. Dalam dokumen tersebut, pemerintah melalui cetak biru Departemen Perhubungan pada 2003 berencana meningkatkan kapasitas dan pemanfaatan kembali jaringan rel yang tidak dioperasikan, salah satunya kawasan pantai utara (pantura) Jateng

Sedang sebagai uji coba, pemerintah melakukan pengoperasian kembali kereta api jalur Kedungjati Grobogan - Tuntang - Ambarawa Kabupaten Semarang.

Menurut Djoko, pihak swasta atau pemerintah daerah dapat ikut berperan membangun jalur perkeretaapian. Hal ini sebagaimana diatur dalam Undang-undang No.23/2007.Jika sebelumnya usaha perkeretaapian dimonopoli PT. KAI , kini pihak swasta atau pemerintah daerah dapat ambil bagian. Cara kerjanya hampir serupa dengan pembangunan jalan tol.

Menurut Djoko, pihak swasta atau pemerintah daerah dapat ikut berperan membangun jalur perkeretaapian. Hal ini sebagaimana diatur dalam Undang-undang No.23/2007. Jika sebelumnya usaha perkeretaapian dimonopoli PT. KAI , kini pihak swasta atau pemerintah daerah dapat ambil bagian. Cara kerjanya hampir serupa dengan pembangunan jalan tol.

Ia menambahkan, jalur kereta api menjadi solusi atas permasalahan kompleks akibat model transportasi jalan raya. Kereta api dinilai lebih efisien dan hemat biaya dari pada transportasi darat melalui jalan raya.

“Jadi masalah kemacetan, kecelakaan lalu lintas, besar anggaran subsidi BBM, pembangunan jalan tol, perawatan biaya jalan raya, dapat diatasi jika jaringan kereta api kembali dihidupkan, ”ujarnya.

Menurut Djoko, jalur KA Semarang-Rembang yang dibangun pada rentang 1883-1900 dimanfaatkan untuk mengangkut komoditas ekspor produk pertanian dan kehutanan, terutama gula, kapuk dan kayu jati.

 Stasiun Wergu Kudus tahun 1936

Sedang stasiun KA Wergu itu sendiri dibangun pada tahun 1883-1884, merupakan mata rantai jalur KA Semarang – Demak – Kudus – Pati – Rembang. yang ditangani perusahaan KA dan trem Semarang Stoom Maatshappij.


Namun pada tahun 1980 stasiun ini tidak berfungsi lagi, kalah bersaing dengan jenis transportasi lainnya. Beberapa tahun kemudian, komplek stasiun KA Wergu disewa Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Kudus untuk pasar.tradisional

Bahkan tidak hanya Pemkab Kudus, pihak desa Wergu Wetan (sebelum statusnya berubah menjadi kelurahan). dan perorangan, juga ikut-ikutan memanfaatkan sebagian lahan dan bangunan untuk pembangunan kios, jasa pembuatan bak truk, jasa cuci-seterika aneka jenis pakaian hingga peralatan rumah tangga lainnya.

Selain itu komplek perumahan karyawan PT KAI yang berada di depan perusahaan jamu tradisional “Nyah Mbancan” digusur habis untuk komplek pertokoan, warung makan, hingga sub terminal angkutan umum (mini bus) jurusan Kudus - Undaan dan Kudus - Demak.


Sedang rel KA yang berada di tepi jalan raya Kudus – Semarang secara bertahap lenyap. Sebagian dibongkar sendiri pihak PT KAI, juga “dikubur” dengan jalan ditutup melalui pengaspalan dan pelebaran jalan.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar