Gereja Tua, Masih Ingatkah Gereja Kayuapu, Dibangun 1864

Gereja Tua - ini Gereja Injili di Tanah Jawa GITJ Kayuapu Kudus (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Lagu berjudul Gereja Tua yang dibawakan pemusik Panjaitan Bersaudara (Panbers) menjadi salah satu lagu populer, sehingga menyabet piringan emas pada tahun 1986, Syair lagunya merupakan kisah pribadi Benny Panjaitan semasa sekolah. Antara lain bercanda di samping gereja tua. Kala itu masih remaja senja itu di gereja tua.

Di Kabupaten Kudus pun punya gereja tua. Namanya Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ). Lokasinya di tepi jalan raya Dukuh Kayuapu Desa Gondangmanis, sekitar 3-4 kilometer utara pusat pemerintahan Kabupaten Kudus. Dibangun pada 1864.

Pada waktu yang bersamaan juga dibangun sebuah gereja di Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang (Jawa Timur) berdekatan atau berbatasan dengan situs Kerajaan Mojopahit di Kecamatan Trowulan Kabupaten Mojokerto Bangunan kedua gereja itu tergolong istimewa, karena berdinding tembok dan pada saat itu umumnya menggunakan bahan baku kayu.

Khusus untuk Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Kayuapu, persembahan dari Administratur pabrik gula Tanjungmojo Kecamatan Jekulo (Kudus) Selain pabrik gula Tanjungmojo di Kabupaten Kudus, berdiri pula pabri gula (PG) Besito Kecamatan Gebog dan PG Trangkil Kecamatan Kota Kudus. Namun tinggal PG Rendeng yang hingga sekarang masih tetap berproduksi. “Beberapa tahun kemudian di sampng belakang gereja dibangun sebuah poliklinik, ”tutur Ketua Majelis GITJ Kayuapu, Heri S.

Selain itu GITJ Kayuapu, merupakan rangkaian sejarah kristenisasi Jawa, seperti yang ditulis C Guillot dalam bukunya setebal 243 halaman (cetakan pertama 1985) berjudul Kia Sadrach Riwayat Kristenisasi di Jawa, buku Sejarah Gereja Injili di Tanah Jawa tulisan Sigis Herusukotjo dan L Yoder (1979), Jemaaat Kayuapu abad ke-19 dan awal ke-20 (Pendeta Karmito) Sejarah GITJ (Panitia Sarasehan Menelusuri Sejarah Gereja Kayuapu, September 2002).

Sebelum bangunan gereja berdiri, menurut C Guilot muncul Tunggul Wulung yang dilahirkan di Jepara awal abad XIX, dengan nama asli Ngabdullah

Ada dua versi Tunggul Wulung asal muasal ia masuk Kristen, tetapi yang pasti ia datang ke rumah Jellesma di Mojowarno dan diberikan sebuah Kitab Perjanjian Baru.

Setelah itu sempat beberapa bulan tinggal di rumah Jellesma dan selanjutnya ke Semarang bertemu dengan penginjil Bruckner, Hoezoo, Anthing dan Jansz.


Namun Jansz menolak membaptis, sehingga Tunggul Wulung kembali Mojowarno. Menemui Jellesma, yang kemudian mengajari membaca, menulis, mengajarkan pokok-pokok agama Kristen dan akhir dibaptis antara 1884 – 1855 dengan nama baptis Ibrahim.

Sejak itulah. Ibaratnya tanpa henti-hentinya mengelilingi Pulau Jawa selama dua puluh tahun memperkenalkan agama Kristen, sehingga tercacat sebagai sejarah Kristenisasi.

Desa Bondo Kecamatan Bangsri (Jepara) dan Kayuapu merupakan salah satu buktinya, yang hingga sekarang masih cukup banyak pemeluk agama Kristen.

Era 1904 hingga 1921 sempat terjadi kekosongan tenaga pelayanan di Kayuapu, sehingga untuk mengatasinya ditempuh pelayanan jarak jauh melalui misionaris berkebangsaan Rusia, Nikolai Thiessen yang tinggal di Margorejo Lalu dilanjutkan Johan Fast hingga 1928.

Periode 1929 – 1933 ditangani Hermann Schmitt dan Gersom Baru setelah itu, warga negara pribumi, dalam hal ini warga jemaat gereja Kayuapu sendri yang bernama Radija Nitiardjo mampu memberikan pelayanan.

Lalu dilanjutkan Wigeno Mororedjo yang bertugas hingga Gereja Kayuapu menjadi gereja mandiri penuh per 24 November 1940 dan pada saat diselenggarakan pemilihan umum kali pertama di Indonesia, jumlah jemaat yang telah dibaptis mencapai 65 dan ditambah 146 anak. Menjelang akhir 2008 total mencapai lebih dari 1.000 jiwa.

Selain itu, mengingat kondisi bangunan GITJ Kayuapu yang sudah uzur dan jumlah jemaat terus meningkat, maka dilakukan renovasi pada 2002. “Semua tiang-tiang penyangga yang telah keropos diganti dengan cor beton bertulang dan dilebarkan ke kanan dan ke kiri. 

Namun bagian atas (kerangka) yang terbuat dari kayu jati ukuran besar masih cukup kuat sehingga tidak diganti. Bekas poliklinik dimanfaatkan untuk kegiatan jemaat lanjut usia. Lalu membangun Sekolah Minggu 4 lokal, rumah pendeta, garasi, kantor dan sebagainya, ”tutur Heri S.

Guna membiayai perawatan bangunan, operasional, sarana, prasarana, GITJ Kayuapu ditopang dari 11 hektar lahan yang biasanya ditanami tebu (warisan misi Zending) dan persembahan warga.

Memiliki 13 kelompok pandonga dan setiap tahun baru menggelar tradisi undhuh-undhuh. Awalnya tradisi ini berupa persembahan jemaat berupa aneka jenis hasil bumi, khususnya pertanian dan perkebunan. “Namun dalam beberapa tahun terakhir diganti dalam bentuk uang, karena danggap lebih praktis dan menyesuaikan kondisi serta perkembangan jaman, ”tambah Heri S. Mennonit.

Pendeta GITJ Sunan Muria Kudus, Herin Kahadi Jayanto, selaku pengurus Sinode GITJ menjelaskan, Gereja Kayuapu maupun gereja lain yang berada di wilayah Kudus, Pati, Jepara atau lebih dikenal wilayah Muria, pada umumnya menganut aliran mennonit, yaitu sebuah gerakan Anabaptis era reformasi, dengan salah tokohnya Menno Simons.

Gereja Kayuapu yang semula dikenal sebagai Gereja Kristen Jawa Muria ini sudah tercatat sebagai anggota Konferensi Mennonit Sedunia atau Mennonite World Conferenc sejak sekitar 1960.

Sedang aliran mennonit sendiri secara ringkas diartikan membaptis atas dasar pengakuan iman seseorang yang telah dewasa. Namun pengertian secara luas, menekankan rahmat Allah dihayati dalam cara hidup yang baru seperti ajaran Yesus Kristus.

Masing masing anggota gereja bertanggung jawab bersama atas kehidupan dan pelayanan. Tidak tergantung pada negara dan fasilitasnya untuk mengatur soal iman. serta tidak memakai alat negara untuk mencapai tujuan

Gereja Kristen Jawa Muria ini akhirnya melebur diri menjadi Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) sejak 1965, menyesuaikan semangat gerakan kemerdekaan bangsa Indonesia yang saat itu mengutamakan bahasa Indonesia serta gereja Kristen Indonesia lainnya.

Pada saat ini GITJ tidak hanya terdapat di seputar Muria saja, melainkan telah meluas ke Semarang , Lampung dan Jambi dengan jumlah gereja 101 unit serta jumlah jemaat lebih dari 65.000 jiwa.(Grace)

BERITA LAINYA