“Keanehan” Dana Alokasi Khusus SD 2 Jepang dan SD 3 Jepang Pakis

Pembangunan ruang kelas baru - satu lokal SD 3 Jepang Pakis Jati Kudus (foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - “Keanehan” terjadi antara data yang disodorkan Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Kudus tentang Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan 2020 dengan data yang ada di lapangan.

Berdasarkan pelacakan yang dilakukan Tirtanews sepanjang tiga hari terakhir di komplek sekolah dasar (SD) 2 Jepang Kecamatan Mejobo dan SD 3 Jepang Pakis Kecamatan Jati. Meski berlainan kecamatan, namun lokasi kedua SD tersebut nyaris menjadi satu. Terletak di depan Kantor-Balai Desa Jepang Pakis.

Begitu memasuki gerbang bagian selatan SD 3 Jepang Pakis, terlihat sebuah bangunan baru. Berdampingan dengan mushola. Dua-tiga meter dari bangunan baru ini (tembok pojok bawah) terpasang sebuah papan proyek. Bertuliskan antara lain : pembangunan ruang kelas baru (RKB) , sumber dana DAK 2020 dikerjakan secara swakelola dengan anggaran/biaya Rp 275 juta. Tetapi dalam daftar DAK terakhir/tidak ada perubahan lagi dari DPPKAD biayanya Rp 240 juta.

Papan nama proyek DAK SD 3 jepang Pakis Kecamatan Jati Kudus (foto Grace) 

Lalu papan nama proyek pembangunan SD 2 Jepang – entah disengaja atau tidak/ tidak tahu arahnya justru menghadap ke arah komplek sekolahan, sehingga warga umum tidak bisa melihat dan membacanya.

Papan nama proyek DAK 2020 SD 2 Jepang Kecamatan Mejobo Kudus (foto Grace)

Pada papan nama proyek itu antara lain tertulis : rehab sedang/berat ruang kelas. Biaya Rp 189 juta. Pelaksana CV Restu Bumi. Dalam daftar DAK DPPKAD tertulis di SD 2 Jepang adalah : pembangunan ruang kelas baru (RKB) Rp 240 juta. Lalu peralatan mesin mebel Rp 35 juta, mebel ruang guru rehab Rp 20 juta dan rehab ruang guru Rp 100 juta.

Saat Tirtanews “kula nuwun” SD 2 Jepang, Rabu (2/12/2020) sekitar pukul 10.30, kali pertama ditemui seorang pria baya. Namun tidak mau memberikan jawaban. Kemudian muncul seorang perempuan, yang menolak untuk memberitahu nama kepala sekolah, nomor kontak dan tentang DAK. “ Kepala sekolah sedang pergi rapat. Saya takut dan saya dilarang untuk memberikan nama kepala sekolah kepada siapapun. Besok saja datang ke sini, ”ujarnya dengan nada tidak ramah.

Namun saat Tirtanews memotret papan nama yang ada di ruang tamu, kemudian baru perempuan yang tidak mau memberikan identitas nama maupun profesinya (guru atau tata usaha) membenarkan nama kepala sekolahnya adalah Endang Nugrowati. Selain itu juga terlihat seorang perempuan yang tengah berada duduk menghadapi komputer.

Kepala DPPKAD Kudus, Eko Jumantoro tidak mau memberikan banyak komentar dan mempersilahkan Tirtanews untuk menghubungi/menemui pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan Olahraga (Disdikpora), Harjuno Widada. Namun saat dikontak via telepon tidak direspon.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar