Kerbau Bule, Masih Dikeramatkan

Mandi - seekor kerbau bule tengah mandi di persawahan seputar kandang ternak Maeso Suro Desa Pasuruhan Lor Jati Kudus (foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Setiap malam satu syuro, kerbau bule yang diberi nama Kyai Slamet selalu diikut-sertakan dalam tradisi ritual kirab keliling keraton Solo dan sudah berlangsung sejak Sinuwun Sri Susuhunan Paku Buwono II, sekitar 250 tahun lalu.

Disebut kerbau bule, karena sekujur tubuhnya, tanduk, kuku hingga bulunya berwarna “pink”. Sangat kontras dengan kerbau pada umumnya yang berwarna hitam.

Beda - antara kerbau bule (warna pink keputihan dan kerbau biasa warna hitam-gelap) di kandang ternak Maeso Suro Desa Pasuruhan Lor Jati Kudus (foto grace)

Sampai sekarang tradisi ritual itu masih tetap berjalan, termasuk sebagian warga Solo yang mengkeramatkan. Antara lain memanfaatkan kotorannya untuk berbagai keperluan. Menyembuhkan penyakit, melariskan dagangan dan sebagainya yang sebenarnya tidak masuk akal.

Sedang di lingkungan kraton Ngayogjakarta, binatang gajah sejak Hamengku Buwono VIII, dijadikan klangenan. Namun sejak tahun 2000 sudah punah, tetapi Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal Jogja, setiap kali menggelar tolak balak selalu menyembelih kerbau bule, beserta 9 ayam jago kurik kuning.

Sebaliknya bagi kalangan warga pedesaan di Kabupaten Kudus, Demak dan Grobogan yang populasi ternak kerbaunya lebih dominan, memilih daging kerbau bule khusus untuk upacara sedekah bumi, menggali kubur atau “yang berbau” mistik lainnya.

Lain lagi bagi blantik (pedagang hewan) maupun peternak, kerbau bule tidak diistimewakan. “Seperti ini umurnya sekitar tahun. Terjual dengan harga Rp 5.650.000, “ tutur Suharno, blantik dari Desa Wilalung Kecamatan Gajah Kabupaten Demak, ketika ditemui di Pasar Hewan Gulang Kecamatan Jati Kudus.

Beriringan - Dua kerbau bule di seputar kandang ternak Maeso Suro Desa Pasuruhan Lor Jati Kudus (Foto Grace)

Namun ia menambahkan, jumlah kerbau bule yang dijual-belikan di pasar hewan di Kudus, Demak, Grobogan, hanya bisa dihitung dengan jari dan tidak setiap saat ada. “Hari ini dari puluhan ekor kerbau yang dijual, hanya ada dua ekor kerbau bule. Dua-duanya sudah laku terjual, ”ujarnya. Mahmudi (50) peternak kerbau dari Desa Setrokalangan Kecamatan Kaliwungu (Kudus) yang sudah lama menginginkan memiliki kerbau bule, namun tidak pernah tercapai.

Ia tidak tahu caranya. Teman-teman lain juga berminat, tapi juga gagal. Meski sudah dikawinkan dengan penjantan kerbau bule, belum bisa dipastikan melahirkan anak berupa kerbau bule.

Di Provinsi Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Lebak dan Pandeglang, kerbau bule menjadi primadona. Selain sering menjadi finalis lomba ternak nasional, harganya cukup mahal dibanding dengan harga kerbau bule di Kudus dan sekitarnya, yaitu mencapai Rp 50 juta/ekor.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar