Malam Keramat Jumat Wage di Makam Dewi Nawangsih

Rumah makam RA Nawangsih - Bagus Rinangku (foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Kamis malam ini (3/12/2020) atau bertepatan dengan malam Jumat Wage komplek makam Raden Ayu (RA) Dewi Nawangsih - Raden Bagus Rinangku di Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus dipadati banyak pengunjung.

Baca Juga : Ceritera Rakyat Pohon Jati di Makam Masin Jelmaan Manusia Sudah Berumur Ratusan Tahun

Bagi sebagian warga malam Jumat Wage berziarah di pusara Den Bagus Rinangku dan Dewi Nawangsih dianggap hari keramat dan diyakini datangnya berkah. “Pada umumnya warga yang berziarah dan berdoa di makam ini dengan tujuan agar berkah Rizky lancar dan Jika orang menjadi sukses /sugih, maka ibaratnya ke mana mana saja bisa.

Berdoa di dalam makam RA Nawangsih

Tetapi saat sudah menjadi orang sugih/Rizky lancar jangan lupa harus beramal kepada orang lain (orang yang tidak mampu)” tutur juru pelihara (jupel) makam Masin, Anas Lirianto (37) saat ditemui Tirtanews di dalam ruang makam RA Dewi Nawangsih- Bagus Rinangku, Kamis tengah hari (3/12/2020)

Jupel makam Masin - Anas Lirianto (foto Grace)

Sempat terlihat rombongan dari Kadilangu Demak, yang mencarter tiga minibus. Sebagian besar adalah ibu ibu, sejumlah anak anak dan pria beragam umur. Mereka memasuki komplek makam melalui “jalan masuk” yang terbuat dari semen dan sedikit menanjak. Kemudian tiba di gapura pintu masuk.

Gapura di tepi jalan raya Desa Kandangmas (foto Grace)

Dari gapura ini masih harus menapaki jalan selebar sekitar dua meter dengan panjang sekitar 30 meter. Kemudian tiba di bangunan komplek makam. Terlihat dua bangunan memanjang untuk tempat beristirahat para peziarah dan sebuah mushola. Sedang makam RA Dewi Nawangsih - Bagus Rinangku berada di bagian depan dari bangunan lainnya.

Gapura jelang komplek makam Masin (foto Grace)

Sedang keharusan untuk bisa berdoa di pusara Den Bagus Rinangku dan Dewi Nawangsih ini, hanya membawa sebungkus bunga yang diberikan kepada Anas. Setelah itu ditanya keperluannya dan baru dipersilahkan masuk ke dalam makam. Sedang bunga yang diserahkan peziarah oleh Anas kemudian “dilempar” ke dalam nisan yang bagian tengahnya berlobang. Setelah bungkusnya (ada dari bahan plastik dan ada pula bungkus daun pisang). “Jika tidak membawa bunga saya tolak. Siapapun tidak terkecuali.” Tegasnya.

Jembatan depan komplek makam Masin (foto Grace)

Ruang makam itu terhitung sempit. Di bagian kanan hanya muat empat- enam orang yang duduk bersila. Di bagian ini selambu makam terbuka. Lalu di bagian belakang agak lebih lapang (memanjang). Sedang di bagian samping kiri juga tidak begitu luas- di bagian ini ada pintu ke luar.

Jalan menajang meunju gercang masuk (foto grace)

Di dalam pusara itu terlihat “papan” dengan tulisan Arab dan tulisan dalam bahasa Indonesia yang berbunyi Mohon Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wasilah Waliyah (berdoa melalui para wali/kekaasih Allah) RA Dewi Nawangsih - Raden Bagus Rinangku.

Sedang Anas yang merupakan generasi ke tiga dari juru kunci makam, duduk di atas kursi dan dihadapannya ada meja kecil. “Tidak ada ritual yang “aneh aneh”. Apalagi yang melanggar aturan perundangan hingga norma agama. Cukup datang – kulo nuwun - menyerahkan bunga dan mengutarakan maksudnya.

Tidak ada pula keharusan untuk membayar satu sen pun. Datang dan saksikan sendiri. Jangan menyebar luaskan berita bohong tentang ritual di sini. Itu dosa besar,” tegasnya.(Grace).

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar