Mengenang “Kematian” Kuliner Matahari Kudus

Pedagang Kuliner

Tirtanews.id, KUDUS - Masih ingatkah Anda pusat kuliner di depan bekas komplek pusat perbelanjaan modern Matahari Kudus ?

Mari saya ajak sejenak untuk membuka kisahnya. Diawali dengan tarik ulur antara pemilik toko, polisi lalulintas Polres Kudus, dengan Pemkab Kudus sejak akhir Oktober 2012.

Pemilik toko khawatir dagangannya tidak laku, karena tertutup tenda dan segala bentuk aktivitas para pedagang kaki lima. Sedang pihak polisi lalulintas dari sisi jalan raya yang berada di depan Matahari adalah jalan negara. Termasuk jalan utama untuk menuju pusat perkantoran Pemkab Kudus maupun jalan utama menuju arah Pati-Rembang- Surabaya.

Namun akhirnya Pemkab Kudus yang “menang”. Pusat kuliner di halaman pusat pertokoan Matahari, dioperasikan Sabtu petang (9/8/2014) yang ditandai dengan hujan deras.


Selain itu dari 16 pedagang kuliner yang seharusnya mulai menjajakan dagangannya, hanya lima pedagang saja yang telah menempati lapaknya. Masing-masing pedagang membawa sebuah gerobak, tenda berbentuk payung warna merah yang bisa dibongkar pasang, meja bundar di bagian tiang tenda, serta sejumlah kursi warna hitam.

Selain itu juga disediakan tempat berbentuk kotak untuk menyimpan barang serta kran air secara permanen

Saya nongkrong di warung Pak Iwak, Sabtu malam (9/8/2014) pukul 22.00, tinggal kebagian menu nasi goreng atau cap je goreng dan kuah. Sedang bakmi goreng dan bakmi kuah sudah ludes terjual Sepiring nasi goreng dan segelas air teh, harganya Rp 12.000. “Tadi sudah banyak pembeli yang datang, seusai hujan deras. Mereka umumnya pembeli baru. Sehari-harinya saya berjualan nasi goreng, bakmi godhog (kuah), bakmi goreng, cap je di seputar Purwosari. Mulai sekarang kami membuka cabang di Matahari,” ujarnya.

Menurut Ketua Paguyuban Wisata Kuliner Matahari, Narso, dari 16 pedagang yang akan menempati lapak Matahari, masing-masing memiliki jenis dagangan yang berbeda satu dengan yang lain. Hal ini memang disengaja agar tidak memunculkan persaingan di antara pedagang dan banyak pilihan bagi pembeli.

Namun pusat kuliner Matahari ini tidak mampu bertahan lama. Satu persatu dari 16 pedagang kaki lima (PKL) tidak mampu bertahan. Alias bangkrut dan puncaknya setelah Matahari terbakar pada menjelang akhir Februari 2018.


Bangunan permanen yang disediakan Pemkab Kudus- dalam hal ini Dinas Perdagangan pada posisi Jumat (4/12/2020) masih utuh Tapi entah kemana “larinya” 16 pedagang kaki lima itu.

Masih utuh bekas peralatan kuliner matahari (foto grace)

Sedang kondisi jalannya dijadikan jalan alternatif banyak pihak. Pada menjelang tengah malam hingga merekahnya sinar matahari pagi hari dimanfaatkan untuk parkir truk yang membongkar muatan berupa aneka jenis sayuran dan buah buahan.

Inilah bekas lokasi kuliner Matahari Kudus (foto Grace)

Pemerhati budaya, Moh Rosyid, kuliner khas Kudus, seperti Kopi Colo, Kopi Padurenan, Kopi Jetak, Kopi Luwak Rahtawu, Lentok Tanjungkarang, Wedang Coro khas Undaan, Jenang Kaliputu, telah diakui Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) LIPI atas kualitasnya

Sedang menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu (saat itu), kuliner Indonesia mempunyai profil yang sangat unik dan berspektrum luas. Tidak ada negara lain di dunia yang mempunyai kekayaan kuliner seperti Indonesia.(Grace)

BERITA LAINYA