Misteri di Desa Wisata Colo Watu Puter Makam Ronggokusuma

Watu puter Desa wisata Colo (foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Ini misteri yang belum terpecahkan di desa wisata Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Berupa sebongkah batu kecil berdiamater sekitar 30-40 centimeter. Dikenal sebagai Watu Puter Dikelilingi pagar tembok setinggi sekitar setengah meter.

Lokasinya dari arah kota Kudus-masuk ke gerbang desa wisata Colo. Lalu beberapa puluh meter ke depan arah kiri, nampak sebuah pertigaan jalan kecil berbeton. Belok kiri lurus ke depan- mentok, belok kanan dengan jalan menanjak. Beberapa puluh meter ke depan mentok lagi, sedikit berbelok ke kiri- menanjak puluhan meter. Mentok lagi- masuk ke kawasan Watu Puter.

Sebelum memasuki lokasi watu puter terlihat sebuah bangunan memanjang yang direncanakan untuk tempat pengunjung. Lalu di samping kiri pagar watu puter terlihat mushola dan disamping kiri agak berjauhan bangunan kamar mandi-WC.

Di seberang depan pagar dinding watu puter terlihat satu kursi panjang ukuran besar. Panjangnya sekitar empat meter, Tinggi tempat duduknya sekitar setengah meter. Terdapat sandaran di bagian belakang, samping kanan dan samping kiri. “Semuanya dari bahan kayu.

Kursi ukuran besar di komplek watu puter desa Colo (foto Grace)

Terutama kayu pinus yang sudah tua dari seputar sini. Ini tempat duduk sambil menikmati panorama alam sekitarnya. Sedang di seputar komplek banyak ditemukan batu ukuran sedang dan besar. Lalu ada puluhan pohon pinus. “ujar Ridho, dan Bambang Santoso, warga Desa Colo saat bersama Tirtanews mengunjungi tempat misteri ini, Senin sore (14/12/2015).

Namun menurut mbah putri Saripah (93), di watu puter itulah diyakini sebagai makam Ronggokusumo. Seorang sosok yang juga diyakini lebih “sepuh” dari Sunan Muria. “Sebelum saya dan suami dipercaya “menjaga” komplek watu puter, maka bapak ibu juga melakukan hal yang sama. 

Mbah putri Saripah juru kunci Watu Puter desa wisata Colo Dawe Kudus (foto Grace)

Saya pribadi pun pernah didatangi seorang perempuan, kemudian menggandeng saya lalu menunjukkan tangannya ke arah watu puter. Saya diminta untuk menjaganya, Termasuk satu tanaman gading kuning yang berada “pepetan” dengan watu puter” ujarnya serius.


Mbah putri menambahkan, sejak dipercaya menjaga watu puter dan melaksanakan sesuai yang diperintahkan, kehidupan keluarga mbah putri sekeluarga tidak pernah kekurangan dalam banyak hal. Ia secara rutin “mempersembahkan” sega nuk, endhog, pitik putih mulus (nasi dalam ukuran kecil, telor, se-ekor ayam putih mulus).

Berdoa di depan watu puter (foto Grace)

Kepala Desa Colo, MC Destari Andryasmoro yang kebetulan “mertamu” di rumah mbah putri, membenarkan pihak pemerintahan desa berusaha untuk “nguri uri” berbagai macam peninggalan yang ada di desanya. Sekaligus juga menjadi bagian untuk semakin banyak menampilkan obyek wisata. “Kami benahi secara bertahap. Mushola dan kamar-mandinya termasuk bangunan paling baru. Sedang jalan beton kami benahi dan sempurnakan agar warga, pengunjung tidak mengalami hambatan/kesulitan saat naik dan turun menuju lokasi watu puter. ”ujarnya.

Kepala Desa Colo MC Destari Andryasmoro (foto Grace)

Dengan adanya obyek baru watu puter, maka bertambahlah jumlah obyek wisata di desa wisata Colo yang sangat disayangkan jika tidak disambangi satu persatu. Meski tidak bisa bermobil, justru dengan naik motor atau jalan kaki malah lebih pas dan leluasanya. Monggo dibuktikan. (Grace)

BERITA LAINYA