Misteri Gua Jepang di Desa Japan Gunung Muria Ditemukan Tahun 1993, Termasuk “bungkernya”

Gua jepang

Tirtanews.id, KUDUS - Pernah dengar ada gua Jepang di Gunung Muria? Inilah lokasinya: beberapa ratus meter belakang komplek wisata air tiga rasa dan makam Syeh sadzali Desa Japan Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Atau di atas air terjun Monthel, Desa Colo Kecamatan Dawe.


Menurut Bambang Kurrniawan (49) petani yang tinggal di RT02/RW 02 Desa Japan yang dihubungi Tirtanews Minggu (13/12/2020) pukul 13.45 WIB, gua tersebut ditemukan sejumlah penduduk sekitar tahun 1993.

“Seperti Pak Widodo, Kushari, saya dan bapak saya. Saat itu yang kelihatan hanya lobang sebesar buah kelapa, Setelah digali dan masuk ke dalam ternyata sebuah gua. Ukuran lebar sekitar 2,5 – 3 meter, tinggi 3-4 meter dan panjangnya sekitar 100 meter. ”tuturnya.

Gua jepang

Ia menambahkan, gua itu menurut cerita dari “mbah-mbah“ di bangun Jepang untuk menyimpan logistik dan peralatan lain Seperti kaos lampu untuk lampu petromak. Di bangun para tenaga “romusha” dan sebagian diantaranya warga Japan, Colo dan sekitarnya.

Setelah Indonesia Merdeka, warga sekitar goa tersebut masuk ke dalam gua dan mengambil isinya. Seperti beras, ikan teri/ikan asin, kaos lampu petromak ”Dulu gua itu di topang papan kayu jati tapi sdh di ambil masyarakat sekitar dan sebagian ada yg hanyut terbawa air sungai “ujarnya lagi.

Bambang juga menceriterakan, beberapa puluh meter dari lokasi gua, juga sempat ditemukan “bungker” (sejenis bangunan di bawah tanah yang umumnya untuk pertahanan militer.). Tingginya sekitar 2,5 meter. Kedalaman 4 meter. Pernah dibongkar oknum pemburu harta karun, tapi ternyata isinya kosong.

Bambang Kurniawan desa Japan Dawe Kudus

Berdasarkan hasil penesuluran Tirtanew langsung ke Gua Jepng tersebut, Tirtanews yang diantar dua warga setempat Sabtu (15/6/2019), mulut gua hanya berdiamater kurang dari dua meter, sehingga harus merunduk saat masuk ke dalam.

Setelah berada di dalam gua, ruangannya sedikit lapang. Lebarnya hampir dua meter. Ketinggiannya lebih dari satu meter. Lalu ada undhak-undhakan menuju ke atas. Namun akibat tidak membawa perlengkapan yang memadai. Lampu sorot hanya satu. Itupun sinarnya tidak begitu terang, sehingga tidak semua ruangan gua terkena sinar. Meski ada tambahan “lampu” dari hand phone.

Gua jepang

Selain itu selama beberapa menit di dalam gua, dikerubuti ribuan nyamuk dan ruangannya cukup pengab. tidak ada sirkulasi udara. Selanjutnya kembali ke luar gua tidak jadi melanjutkan perjalanan/menyusuri gua lebih jauh lagi.

Gua tersebut diduga kuat memang gua buatan. Bukan gua alam. Sebagian besar berlapiskan batu padas, batuan kecil kecil dengan kondisi sedikit basah.

Mulut gua berada di tepi sungai dengan “pelatarannya” hanya selebar sekitar dua meter persegi. Bagian atas, samping kanan kiri dipenuhi aneka jenis tumbuhan dan pohon berdaun lebat.

Guna mencapai mulut gua yang konon lebih dekat (dan bisa ditempuh/dicapai dari berbagai arah), menempuh perjalanan dari komplek air tiga rasa Rejenu/komplek makam sebagai makam Syeh Sadzali.


Dari komplek tersebut dilanjutkan berjalan menyusuri “jalan tikus” dan sungai yang dipenuhi batu besar, sedang, kecil. Airnya cukup bersih. Lebarnya rata-rata hanya sekitar 3-4 meter saja. Dengan waktu tempuh sekitar tiga jam pulang pergi (sudah termasuk beberapa kali istirahat).

Cukup menarik - berpotensi besar jika dijadikan salah satu obyek wisata dengan catatan: dibuatkan jalan dari komplek air tiga rasa Rejenu, karena jarak tempuhnya lebih dekat jika melalui tempat lain.

Pembuatan jalan berupa semen cor dengan sistem padat karya sekaligus menata sungai setempat. Meneliti lebih lanjut lagi tentang gua jepang dengan melibatkan tim ahli (sejarah, budaya, gua-gunung, arkeologi dan sebagainya).

Sebab nantinya bisa mengungkap lebih gamblang dan ilmiah, karena nyaris di semua wilayah di Indonesia dijumpai gua jepang yang ceriteranya tidak sama satu dengan yang lainnya.

Terutama menyangkut fungsinya apakah hanya sekedar lokasi perlindungan - pertahanan. Atau dimanfaatkan untuk tempat penyiksaan hingga pembantaian warga setempat, tempat menyimpan harta rampasan, logistik dan sebagainya..

Kondisi gua jepang tersebut per menjelang akhir November 2020 cukup berbeda seperti yang dilaporkan Bambang dan teman-temannya lewat foto dan video, “Kami harus ijin dahulu jika mau mengembangkan gua jepang tersebut untuk wisata, karena tanahnya lahannya milik Perum Perhutani. ”Jelas Bambang diakhir pembicaraan.

Kondisi Gua Jepang Japan Dawe Kudus akhir November 2020 (foto relawan)

Berdasarkan Keputusan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Provinsi Jawa Tengah, Drs Endjat Djaenuderajadjat, September 2005, “Gua Jepang” yang terletak sekitar 100 meter dari puncak Gunung Muria ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya (BCB) tak bergerak Kabupaten Kudus 2005.

Gua Jepang yang secara administratif  berada di wilayah Desa Japan Kecamatan Dawe tersebut termasuk periode kolonial. Selain itu merupakan salah satu diantara 89 BCB tak bergerak di Kabupaten Kudus yang ditetapkan BP3 Provinsi Jawa Tengah. Serta berdasarkan register nomor 88.11-19/Kud/55/TB/14.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar