Natal 2020, Pieter Jansz dan Injil Bahasa Jawa Dimakamkan di Kayuapu Kudus

Cungkup rumah-rumahan makam suami isteri Pieter Jansz Wilhelmine Schmilau (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Banyak diantara jemaat tidak tahu jika Alkitab berbahasa Jawa yang hingga sekarang masih digunakan (dibaca) sekitar satu juta jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ), Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ), Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan (GKSBS), adalah karya Pieter Jansz.

Ia termasuk diantara 69 misionaris yang bertugas di Jawa pada periode 1813-1900. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, misionaris artinya orang yang melakukan penyebaran warta Injil kepada orang lain yang belum mengenal Yesus Kristus.

Pieter Jansz, di sela-sela tugas sehari-harinya mewartakan Injil, sempat melanjutkan menterjemahkan Alkitab berbahasa Belanda ke dalam bahasa Jawa, yang lebih dahulu dirintis misionaris Bruckner (bertugas mulai 1814) dan Gericke (bertugas mulai 1827).

Bukan sekedar menterjemahkan, tetapi sekaligus membetulkan tata-bahasanya. Proses penterjemahan tersebut dilanjutkan anaknya yang bernama PA Jansz “Karya bapak dan anak itu boleh disebut sebagai bapak dari kitab suci perjanjian lama dan perjanjian baru dalam bahasa Jawa yang hingga kini dipergunakan gereja-gereja di Indonesia yang berbahasa Jawa

Suatu kebanggan yang seharusnya tidak dilupakan jemaat Mennonit di seputar Muria, ”tulis Sigid Herusukotjo dan L.Yoder dalam bukunya Sejarah Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ).

Selain itu Pieter Jansz juga menulis dalam brosur berbahasa Jawa “Wektune wus tekan. Keratone Allah wus cedhak dan Landontginning en Evangelisatie op Java (Pembukaan tanah dan kristenisasi di Jawa).

Serta sebuah brosur dalam bahasa Jawa juga, yang antara lain menuliskan dialog antara seorang beragama Kristen dan seorang beragama lain. Ia berusaha mengetengahkan ide bahwa Ratu Adil itu adalah Messiah atau Yesus Kristus.

Misionaris kelahiran 25 September 1820 ini menginjakkan kakinya kali pertama di Jawa pada 1851 Meninggal pada 22 Maret 1904 dan dimakamkan di komplek pemakaman Dukuh Kayuapu Desa Gondangmanis Kecamatan Bae Kabupaten Kudus (Jawa Tengah).


Makam yang terbuat dari bahan baku batu pualam warna putih tersebut “dipayungi” dengan cungkup (bangunan beratap di atas makam berfungsi sebagai pelindung). Di samping kiri terdapat makam sang isteri, Wihelmina Frederika Schmilau.

Dua batu nisan dengan ukuran dan warna yang sama terbuat dari bahan batu marmer (Foto Grace)

Menurut brosur bertajuk “Jemaat Kayuapu abad ke-19 dan awal abad ke-20”, yang ditulis Pendeta Karmito (2006), Pieter Jansz, memang ditugaskan badan zending Doopsgezinde Zendings Vereeniging (DZV) yang berkantor pusat di Nederland. (Belanda)

Sebelum berangkat ke Indonesia, ia sempat kehilangan isteri tercinta yang meninggal pada usia muda. Kemudian belajar melalui buku pinjaman teman, kursus privat tentang ilmu bumi, sosial kebudayaan Hindia Belanda (Indonesia), bahasa Melayu dan bahasa Jawa Khusus untuk memperdalam pengetahuan dan bahasa Jawa ia dibimbing Prof Prasda.

Papan nama dalam tiga bahasa Jawa Indonesia Inggris di cungkup makam Pieter Jannsz Wilhelmine Jansz Schmilau (Foto Grace)

Sedang untuk memperdalam teologia, Pieter Jansz berpindah dari kota Delft ke Amsterdam. Selanjutnya mencari pasangan hidup dan memilih JWF Sekmilau (Schmilau).

Misionoris ini beserta isterinya kemudian berangkat dari tanah air menuju Indonesia dengan menumpang kapal layar Gelderland, 8 Agustus 1851 dan tiba di kota Batavia (sekarang Jakarta) 15 November 1851.

Pada 23 November 1851, ia beribadah di Gereja Protestan (Gereja Negara) dan sempat mengisahkan sebagian hidupnya dengan nada haru dan penuh tuntunan dari Tuhan. “Sungguh besar rahmat dan kebaikan Tuhan bagi kami. Tuhan sendiri yang telah membimbing kami melewati samodra yang demikian luas dan selamat sampai di Batavia ”tuturnya.

Meski secara resmi telah ditugaskan DZV, ternyata tidak mudah untuk mencari pekerjaan sebagai misionaris. Pieter Jansz pergi ke Banyumas, Tegal, Demak hingga Pasuruan (Jawa Timur).

Akhirnya merapat ke Jepara pada awal 1853, menjadi guru privat bagi anak-anaknya, Markar Soekias, golongan bangsawan keturunan Armenia, memiliki perkebunan tebu sangat luas dengan tenaga kerja sekitar 6.000 dan tentu saja kaya raya.

Sedang menurut Claude Guillot, dalam buku perdana yang memperoleh penghargaan Prix Jeane Cuisinier (1981) dari Institut National des Langues et Civilsations Oriientales Paris, berjudul Kiai Sadrach, Riwayat Kritenisasi di Jawa, sebelum menetap di Jepara, pernah beberapa waktu tinggal di Semarang, di rumah Hoezoo, juga termasuk salah satu misionaris

Namun ia dianggap kurang berhasil, bahkan dikatagorikan gagal dalam menjalankan misinya, karena dari segi jumlah hanya mampu membaptis 14, penduduk setempat dalam kurun waktu 1854-1856,. Kalah bersaing dengan penginjil lokal Kiai Tunggul Wulung.

Tunggul Wulung sendiri, menurut C Guillot, lahir pada permulaan abad ke-19, di kawedanan Juwana (sekarang masuk wilayah Kabupaten Pati), dengan nama asli Ngabdullah. Pekerjaan sehari-hari petani.

Kemudian meninggalkan desanya menuju Kediri (Jawa Timur), bertapa di Gunung Kelud selama 7 tahun dan menggati namanya menjadi Tunggul (artinya lurus atau di depan) Wulung (artinya warna dasar ungu).

Ia memeluk agama Kristen, setelah diberi pelajaran membaca, menulis, ajaran pokok agama Kristen, sebuah kitab Perjanjian Baru dari misionaris Jellesma. Sempat bertemu dengan Bruckner, Hoezoo , Anthing (Ketua Pengadilan Semarang) dan dibaptis pada 1854, dengan nama baptis (permandian) Ibrahim.

Setelah Pieter Jansz meninggal, penginjilan di seputar Jepara dan Kudus dilanjutkan anaknya yang juga dikenal sebagai misionaris maupun misionaris-misionaris lainnya, sehingga di seputar pantai utara Jawa Tengah bagian timur. Terutama di wilayah Jepara, Pati dan sebagian Kudus, dikenal sebagai kantung-kantung warga pemeluk agama Kristen beraliran mennonite.(Grace)

KOMENTAR

0 Komentar

0 Komentar