Obyek Wisata Baru Pintu Pembagi Banjir Wilalung, Dibangun Pemerintah Belanda 1908-1916

Pintu Pembagi Banjir Wilalung Desa Kalirejo Kecamatan Undaan Kudus dilihat dari arah sungai Juwana (foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Sosok pintu pembagi banjir Wilalung “bikin” pangling saja. Sosok yang kini dicat muda dan di depannya ada genangan air, menjadikannya nampak gagah dan anggun. Sabtu sore (26/12/2020) kebetulan cuaca cerah, sehingga sosok ini memang pantas jika dijadikan salah satu obyek wisata baru di Kabupaten Kudus.

Berlokasi sekitar 100 meter dari belakang Pasar Kalirejo Kecamatan Undaan. Atau juga bisa dicapai lewat samping kanan (dari arah kota Kudus) jembatan Kalirejo, juga hanya sekitar 100 meter dari jalan raya Kudus-Undaan-Purwodadi (Grobogan)

Apalagi di seputar lokasi terutama dari arah Pasar Kalirejo juga telah didirikan sejumlah warung dan tempat “nyantai”. Termasuk yang baru adalah papan nama Bendung Wilalung buatan Balai Besar Wilayan Sungai (BBWS) Pemali Juwana. Hanya saja jika musim hujan apalagi pintu Wilalung airnya penuh maka cukup riskan jika berkunjung ke sana.

Bangunanya tergolong unik dan bernilai sejarah tinggi. Dibangun pemerintah Belanda sejak tahun 2008-2016 (selama delapan tahun), namun baru dioperasikan pada tahun 2018. Sebelumnya, yaitu tahun 1892, Belanda terlebih dahulu membangun saluran air sejak dari pintu Wilalung hingga laut Jawa di wilayah Demak kini dikenal sebagai Sungai Wulan.

Pintu Wilalung memiliki 11 pintu. Sembilan pintu mengarah ke Sungai Juwana menuju Laut Jawa di wilayah Kecamatan Juwana Kabupaten Pati. Melalui wilayah Kecamatan Undaan, Mejobo, Jekulo (Kudus) - Margorejo - Juwana (Pati). Dua pintu mengarah ke Sungai Wulan, lewat Kecamatan Undaan-Jati (Kudus), Karanganyar -Mijen (Demak).

Pintu pembagi banjir Wilalung Desa Kalirejo Kecamatan Undaan Kudus diambil dari arah sungai Wulan (Foto Grace)

Pintu Wilalung berfungsi untuk membagi debit banjir yang datang dari arah Sungai Lusi dan Sungai Serang. Semula sebagian besar debit banjir dilewatkan sembilan pintu (ke sungai Juwana), dengan tujuan untuk “melumpuri” rawa di seputar Kecamatan Sukulilo (Pati). Sukses menimbun rawa dan dijadikan daerah pemukiman penduduk.

Lalu secara bertahap debit banjir ke Sungai Juwana dikurangi, sejalan dengan program normalisasi Sungai Wulan yang didesain mampu menampung debit banjir hingga 1.200 meter kubik per detik. Namun hanya mampu bertahan beberapa tahun saja, karena dengan debit seputar 800-1.000 meter kubik./detik, sungai ini sudah meluap dan menimbulkan banjir.

Pemotor melewati jembatan di pintu pembagi banjir wilalung Kalirejo Undaan Kudus (foto Grace)

Pengurangan debit banjir ke Sungai Juwana ditandai dengan penutupan satu pintu. Lalu secara bertahap pintu pintu lainnya, seiring dengan rusaknya pintu yang masing masing setinggi lebih dari lima meter. Pintu pintu tersebut sudah beberapa kali diperbaiki dan sekarang tinggal dua pintu yang masih berfungsi dengan baik.

Papan nama besar Bendung Wilalalung (Foto Grace)

Pintu Wilalung yang juga menjadi jalan pintas yang menghubungkan Kecamatan Undaan (Kudus) dengan Dempet-Karangnyar (Demak), kini sudah berumur 114 tahun dan masih menjadi bangunan sangat penting bagi keamanan (akibat banjir) dan kesejahteraan (pertanian) bagi Kabupaten Kudus, Pati dan Demak. Juga sebuah bangunan yang seharusnya sudah sangat layak untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.(Grace)

BERITA LAINYA