“Uka-Uka” di Rumah Kembar Raja Kretek Diimpeni Sosok Perempuan Cantik Berbaju Serba Hijau

Rumah Kembar Nitisemito bagian timur

Tirtanews.id, KUDUS - Selama 18 tahun terakhir bertugas menjaga salah satu diantara rumah kembar di Kudus, Muhammad Sukir (72), banyak sekali menyaksikan dan merasakan hal hal yang tidak masuk akal manusia pada umumnya.

Rumah kembar itu adalah yang dikenal rumah kembar Nitisemito. Terletak di sebelah kanan kiri sungai-jembatan Gelis, di Jalan Sunan Kudus Kota Kudus. Telah ditetapkan sebagai salah satu diantara puluhan cagar budaya di Kudus

Sukir yang sehari-harinya penambal ban di seberang depan rumah yang dijaganya itu, tidak tahu menahu situasi dalam rumah, karena dikunci bos. Dan tidak seorang pun boleh membuka rumah itu tanpa ijin.


“Bos saya pernah cerita saat hendak menjual rumah ini, namun sempat dimpeni didatangi almarhum Nitisemito agar rumah itu tidak dijual. Dirawat saja.

Saya sendiri tambah Sukir juga sering diimpeni seorang perempuan cantik dengan baju serba kehijauan. Saya betah di sini karena tidak ada larangan dari bos, kecuali membuka rumah.

Ia leluasa menaruh barang, ambil air maupun menggunakan listrik untuk “rumah” ini,  ”sembari menunjukkan “rumah”nya yang berlantai keramik, namun hanya berukuran sekitar 3 x 5 meter saja. Rumah yang dimaksud berada di samping kiri belakang pintu gerbang rumah kembar.

Rumah kembar yang berada di tepi sungai Gelis bagian timur ini, pada awalnya dibeli oleh pemilik toko emas di Jalan Sunan Kudus dan pernah ditempati. “Namun karena terlilit banyak hutang dan berurusan dengan bank, dijualah rumah itu dan dibeli “bos” Cahaya Logam.

Rumah Kembar Nitisemito sisi timur (2)

Namun saat bos ini tengah mendapat proyek pembangunan jembatan Tanggulangin terkena musibah banjir. Bangkrut. Lalu dijual kepada bos saya ini - pemilik pabrik tahu di Prambatan ”tutur Sukir.

Simbul Kejayaan Raja Kretek

Menurut Yudhi Ernawan, salah satu cucu Nitisemito, Nitisemito yang dilahirkan di Kudus awal 1863 mempunyai 6 (enam) orang anak, empat diantaranya perempuan. Mereka adalah : Nahari, Nafiah, Chasanah, Soemadji, Soeprat dan Soelangsih.Sedang jumlah cucunya tercatat 29 orang dan satu diantaranya Yudhi.

Salah satu bangunan di rumah kembar bagian timur

Sedang Yudhi sendiri adalah, putra ke 12 dari 13 bersaudara dari pasangan Soemadji – Siti Chasinah Moeslich.

“Almarhum Bapak saya (Soemadji) memang digadang gadang – dijagokan sebagai pewaris dan penerus usaha rokok kretek. Namun tidak berhasil akibat berbagai faktor..”tuturnya.

Kembali berbicara tentang rumah kembar, menurut Yudhi adalah rumah yang dibangun khusus untuk anak pertama dan kedua Nitisemito dan terletak di tepi sungai Gelis. Sebuah sungai besar yang seakan akan membelah kota Kudus menjadi Kudus Kulon dan Kudus Timur.


Nahari sebagai anak pertama memperoleh rumah kembar di sebelah timur sungai dan Nafiah - anak kedua di sebelah barat. Sejak lebih dari 20 tahun terakhir rumah kembar di sisi timur sudah dijual belikan. Kali pertama dibeli seorang pemilik toko emas di Jalan Sunan Kudus. Kemudian dijual dan dibeli seorang pengusaha tahu. Sedang rumah kembar yang berada di sebelah barat sungai sampai sekarang belum laku dijual.

Rumah kembar nitisemito bagian barat sungai Gelis

Masih menurut penuturan Yudhi, rumah kembar itu sendiri terdiri dari rumah utama dengan dua kamar tidur, ruang makan dan dapur ukuran besar. Lalu disamping kanan kirinya berupa paviliun. Berciri khas, di puncak atap rumah terdapat lambang pabrik rokok. berupa tiga bulatan mirip bola. Dua diantaranya berhimpitan dan kemudian di atasnya diletakkan satu bola lagi.

Kemudian nampak tulisan M Nitisemito Koedoes melingkar di bagian tepi. Bola tiga yang juga merek dagang tersebut tercatat resmi pada 18 Februari 1908 dengan nomor pendaftaran 4642. 

“Rumah tersebut selain diberikan kepada dua putrinya, juga diprioritaskan untuk para tamu Nitisemito yang ingin menginap di Kudus. Beliau sendiri bertempat tinggal di seberang jalan depan rumah kembar bagian barat, atau yang sekarang kami tempati ini ”ujarnya.(Grace)

BERITA LAINYA