Warung Makan Raja King Jalan Lingkar Barat Kudus, Srundeng, Lele, Bebek, Enthok, Ayam Goreng

Satu diantara dua lokal warung makan Raja King (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Warung makan Raja King yang menempati tepi jalan raya lingkar barat Kabupaten Kudus memiliki kelebihan dibanding dengan warung makan sejenis.

Meski sama sama menyajikan lele, bebek, Enthok dan ayam kampong goreng, tapi Raja King yang ditangani satu keluarga Yatman ini, menyodorkan srundeng. Ini untuk melengkapi sambal, daun kemangi, mentimun dan kol/kobis, yang umumnya sebagai kebutuhan pelengkap pada setiap warung makan dengan menu ikan lele. bebek, menthokl dan ayam goreng.

Srundeng dalam toples merupakan salah satu kelebihan menu warung makan ikan lele, bebek, menthok, ayam kampung Raja King (Foto Grace)

“Srundeng adalah parutan kelapa yang digoreng “sangan” (nyaris tanpa minyak/minyaknya sedikit sekali, Kemudian kami tempatkan di “toples”. Jika tidak doyan sambal, dengan srundengnya saja sudah enak. ”ujar Ny Mardiah, isteri Yatman.

Kelebihan yang kedua, warung dibuka sejak sore hingga tengah malam. Berada di jalan lingkar barat Kudus yang relatif ramai sepanjang hari dan malam. Sepanjang ruas jalan lingkar yang melintang sejak dari perempatan jalan Jetak, hingga perempatan jalan Peganjaran – Panjang - Besito, satu satunya warung lele, bebek, enthok, ayam goreng.


Selain itu dekat perempatan jalan arah menuju Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus (Jalan raya Kudus- Jepara) – Desa Klumpit - Getasrabi. Jalur terdekat yang menghubungkan kota Kudus dengan Jepara “Tempat parkirnya juga lumayan luas, Keamanan terjamin. ” tambah Yatman.

Bahkan menurut Andre, anak kedua pasangan Yatman – Mardiah ini, “ukuran” lele, bebek, enthok dan ayam yang disajikan juga lebih besar. Sebab untuk satu ekor bebek, menthok dan ayam, dipotong menjadi empat bagian saja. “Satu bagian sama dengan satu porsi. Lele pun kami memilih ukuran besar, ”ujarnya.

Lalu untuk harganya pun dibuat sesuai pasaran umum. Yaitu untuk satu porsi lele Rp 15.000,- dan untuk bebek, menthok dan ayam sama, Rp 25.000,-/porsi. Dengan catatan nasinya puk-we – njupuk dhewe- ambil sendiri. ”Banyak teman teman sopir yang menjadi langganan kami. Begitu warga lainnya, ”tambah Andre.

Usaha buka warung makan ini untuk menyiasati situasi usaha keluarga - terutama Yatman yang bergerak di bidang jasa galian C yang mulai tidak menentu.

“Kami sekeluarga sepakat untuk membuka warung ini. Lahannya untuk sementara masih menempati tanah desa. Pengerjaan bareng-bareng. Sebelum ada “bencana” Covid-19 usaha kami tergolong laris manis. Setelah itu mulai merosot. Tapi toh kami masih mampu bertahan. “ujar Yatman yang bertempat tinggal sekitar 500 meter dari warung - masuk wilayah Desa Karangampel.

Yatman - Mardiyah - Andre di warungnya Raja King Jalan Linkar Barat Kudus (Foto Grace)

Saat ini rata rata sekali buka warung menghabiskan sekitar 15 kilogram ikan lele, bebek 8 ekor, menthok 4 ekor dan ayam 7 ekor. Sedang untuk kebutuhan nasi, menghabiskan sekitar lima kilogram lebih.

Mengakhiri perbincangannya dengan Tirtanews, pada Sabtu malam (19/12/2020), tentang nama warung makan Raja King, dilatar - belakangi dengan kecintaan Andre terhadap motor lawas Yamaha King- yang disebut sebut sebagai raja jalanan.

“Meski saya tidak senang ngebut dan sekarang malah senang sekali membuka warung ini dengan keluarga saya. Apalagi sedikit banyak saya senang juga “mengotak atik” bumbu-bumbu masakan, ”tutur pemuda yang masih “sorangan” ini.(Grace)

BERITA LAINYA