3-6 Bulan ke Depan Indonesia Memasuki Masa Kritis Covid-19

Orang memakai masker

Tirtanews.id - Kondisi Indonesia saat ini dan dalam kurun waktu 3-6 bulan kedepan memasuki masa kritis mengingat semua indikator termasuk angka kematian semakin meningkat. Respon Test, Lacak, Isolasi (TLI) pemerintah dan 5M masyarakat dalam 3 bulan pertama ini akan menentukan arah dan pola pandemi di Indonesia.

Hal itu diungkapkan secara tertulis Dicky Budiman yang kemudian disebarkan melalui WA Jumat (8/1), Dokter lulusan FK Unpad Bandung, dan Master di bidang Epidemiologi Penyakit Menular Griffith University Australia tahun 2004. “Saya memiliki 20 tahun pengalaman di Kementerian Kesehatan, Bappenas, BPJS Kesehatan dan Lembaga Internasional seperti UNDP, ASEAN, Sekretariat, dan Organisasi Kerjasama Islam” tulisnya.

Selain itu ia terlibat dalam beragam isu kesehatan global, antara lain Pandemi Flu Burung, Misi Kesehatan di wilayah konflik.

Jejak karir dimulai dari Kepala Puskesmas Cisaruni di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat, hingga terakhir menjadi Sekretaris Dewan Pengawas BPJS Kesehatan RI tahun 2016-2018 ”Saat ini keseharian saya aktif dalam kajian dan masukan pakar terkait strategi penanganan pandemi Covid-19. Selain itu, saat ini saya sedang disibukkan dengan studi saya, PhD candidate Researcher & practitioner on Global Health Security & Pandemic at the Centre for Environmental and Population Health Griffith University Australia” tambahnya.

Menurut Dicky Budiman, pemahaman yang keliru jika masyarakat mengira dengan adanya vaksin semua akan selesai, karena :

1. Vaksin bukanlah solusi ajaib, tapi hanyalah salah satu cara utk membangun kekebalan individual dan perlindungan masyarakat.

Harus diketahui bahwa tidak ada vaksin yang sempurna memberi perlindungan. Sebagian kecil penerima vaksin masih memungkinkan untuk tertular Covid hanya saja diharapkan dampaknya tidak akan terlalu parah.

2. Sejauh ini, tidak ada pandemi yang langsung selesai dengan vaksin. Contohnya cacar, walau sudah ada vaksin, baru selesainya dalam 200 tahun, polio baru selesai dalam 50 tahun. Covid pun sama, bukan berarti setelah disuntikkan langsung hilang dari muka bumi ini. Akan perlu bertahun-tahun untuk mencapai tujuan herd immunity.

3. Penyuntikan vaksin terhadap seluruh masyarakat Indonesia dilakukan secara bertahap :- Pertama-tama harus menunggu dulu Emergency Use Authorization dari BPOM. Jika nanti keluar, diperkirakan baru pertengahan Januari 2021.

Dari 3 juta dosis yang sudah masuk ke Indonesia, tahap 1 diprioritaskan untuk tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Untuk vaksin mencapai pada seluruh masyarakat Indonesia mungkin butuh waktu 12 bulan atau bahkan lebih.


Meski telah menerima vaksinasi, kewajiban 5M tetap harus dilakukan, karena akan tetap ada sebagian masyarakat yang tidak terproteksi akibat kondisi kesehatan dan keterbatasan dari vaksin itu sendiri.

4. Keberhasilan vaksinasi lebih mudah terjadi pada kondisi kurva pandemi yang sudah melandai (angka Covid sudah menurun). Fakta yang terjadi, di Indonesia kurva masih terus naik, belum terlihat tanda- tanda penurunan. Hal ini dapat dikhawatirkan menjadi tidak efektif atau butuh waktu lebih lama untuk menciptakan herd immunity.

5. Selama menunggu vaksin yang akan disuntikkan secara bertahap, penyebaran virus sudah dalam kondisi tidak terkendali di Indonesia. Dari hari ke hari ini dapat menyebabkan kondisi Indonesia semakin memburuk.

Akibat terburuk pandemi yang tidak terkendali, selain dikuatirkan menimbulkan banyaknya kematian bukan tidak mungkin dapat memunculkan strain baru yang merugikan.

Ditambah, dengan semakin banyak orang yang positif di tengah masyarakat mengakibatkan orang usia lanjut dan komorbid akan semakin terancam jiwanya.


Dengan tingkat hunian RS yang sudah penuh, belum tentu mereka bisa terselamatkan. Inilah yang akan meningkatkan angka kematian di Indonesia.

Orang tidak bergejala bukan berarti tidak sakit, karena ada riset menyatakan 50% diantaranya memiliki kerusakan organ. Hal ini dikhawatirkan akan berpotensi memiliki masalah kesehatan pada jangka panjang.

Untuk itu perlu pemahaman dan kerjasama dari seluruh masyarakat dengan Membatasi mobilitas dan Menjauhi kerumunan/keramaian disamping Mencuci tangan, Memakai masker dan Menjaga jarak (5 M) ”3 M saja sudah tidak cukup, tapi sudah harus 5M” Kita tidak boleh egois, merasa diri akan baik baik saja jika terinfeksi...!?! 

Meski kita tetap merasa sehat tapi bisa jadi kitalah yang menyebabkan kematian saudara, keluarga atau sahabat-sahabat kita karena kelalaian kita dalam menerapkan protokol kesehatan. Selalu jaga diri, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi. Demikian sharing dari saya sebagai pencerahan bagi semua, semoga bermanfaat. Salam Sehat dari Brisbane ”tutur Dicky Budiman, Peneliti Pandemi Griffith University, Australia/Grace).

BERITA LAINYA