Bambang Sumantri Tukang Sampah Berpenghasilan Rp 8 juta, Menulis Puisi dan Viral

Bambang Sumantri saat nangkring di motor pengangkut sampah miliknya (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Kota Kudus Kelahiranku. Ku tak rela dikotori sampah yang berbau. Kan kujaga kecantikanmu. Kan kujaga kebersihanmu. Sampai akhir hayatku. Amin.

Itulah puisi dari Bambang Sumantri. Pria berusia 57 tahun. Penduduk Desa Cendono RT04/RW 04, Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Ia sudah delapan tahun terakhir menggeluti profesi barunya sebagai tukang sampah.

Setelah profesi lama di bidang angkutan dan terkena stroke ringan ditinggalkan. “Saya jalankan betul “puisi” saya tersebut dalam kehidupan berumah tangga, bertetangga, hingga seharinya bergelut dalam persampahan, ”ujarnya dalam perbincangan santai dengan Tirtanews, di teras rumahnya Jumat petang lalu (8/1/2012).

Lantai teras itu terlihat bersih. Di depannya juga ada sejumlah pot pot bunga. Lalu di samping depan terlihat sebuah kandang ayam yang juga terlihat rapi dan bersih. Begitu pula halaman rumahnya maupun rumah tetangganya.

Duduk santai di teras rumahnya (foto Grace)

”Itu kandang ayam milik mbakyu saya. Saya dulu yang sering membersihkan. Saya salah satu orang yang tidak suka dan jengkel saat melihat orang lain membuang sampah sembarangan. Saya turun tangan sendiri untuk memungut dan membuang pada tempat yang telah disediakan, ”tegasnya.

Awalnya ia memungut sampah tetangganya. Lalu dibuang di lokasi yang agak jauh dari pemukiman tidak di sungai atau tempat lain dan atas sepengetahuan pemerintahan desa. Namun ditentang warga seputar yang merasa terganggu.

Akhirnya setelah memperoleh banyak masukan dari berbagai pihak, lokasi pembuangan sampah menyatu dengan milik Pemkab Kudus di TPA Tanjungrejo Kecamatan Jekulo.

Persoalan muncul lagi, karena motor pengangkut miliknya sudah uzur. “Konsumen” semakin banyak. Medan jalan yang dilalui naik turun, banyak tikungan dan jaraknya juga lebih dari 15 kilometer.

“Saya ditawari kredit dari salah satu perbankan milik pemerintah. Saya setuju. Nominal kredit Rp 25 juta dengan bunga rendah. Sebulan angsurannya Rp 896.000. Ternyata harga motor roda tiga Rp 27 juta. Kekurangannya saya pinjam keluarga, ” ujarnya lagi.

Dengan motor 200 CC yang kemudian dimodifikasi untuk tempat mengangkut sampah terasa lebih nyaman pulang pergi Cendono – TPA Tanjungrejo. Ia pun selalu mengisi bahan bakar minyak (BBM) motornya dengan pertamax, ganti olie dan selalu dirawat dengan teratur.


“Motor itu sudah saya pakai sekitar 4 tahun dan tidak pernah rewel. Saya paham benar tentang seluk beluk kendaraan, karena cukup lama saya bekerja di bidang ini,”

Singkat ceritera, suami dari Siti Aminah ini telah dipercaya sekitar 500 konsumen warga empat pedukuhan Desa Cendono. Untuk sampah warga ia diberikan imbalan Rp 20.000/bulan/ rumah. Sedang untuk toko, warung, rumah makan bervariasi dari Rp 50.000 – Rp 100.000,- per bulan.

“Jadi penghasilan kotor saya sekitar Rp 8 juta/bulan. Kemudian setiap hari saya harus membeli pertamax sekitar Rp 50.000. Sebab saya harus dua kali pergi pulang Cendono - TPA Tanjungrejo. Makan di luar cukup sekali saja maksimal Rp 15.000/hari. ” Ujar bapak dari tiga orang anak. Tiga anaknya itu Eko Bagus Satriyo, Muhammad Triyan Noviyanto dan Bunga Maharani. Bambang juga telah memiliki satu cucu Omar Ibrahim Alghifari dan menantunya Alma Almira Safitri.

Dengan penghasilan sekitar Rp 8 juta tersebut, Bambang mampu membelikan sejumlah mesin untuk membantu anaknya yang bergerak di bidang usaha konfeksi. Ia juga mampu membeli mobil “mbrondol” tahun lama yang dipakai sebagai cadangan jika motor roda tiganya tengah “diistirahatkan”.

“Motor ini sekali tarik mampu mengangkut sampah sebanyak sekitar 1,5 ton. Saya mulai kerja sejak subuh. Lalu pagi harinya saya melaju ke TPA Tanjungrejo. Setelah kembali ke Cendono untuk memunguti sampah tahap ke dua. “Tengah hari atau paling lambat menjelang sore hari pekerjaan sudah selesai tinggal ngaso. ” ujarnya


Bambang Sumantri

Profesi tukang sampah seperti Bambang Sumantri ini di Kudus jumlahnya sekitar 37 orang dan ada wadah organisasinya. Namun seluruh armada (motor sampah) pemberian dari Pemkab Kudus (lewat Dinas Lingkungan Hidup) kondisinya sudah bobrok.

“Rekan rekan saya saya sudah mengusulkan pada pertengahan Desember 2020 lewat “Ibu Kabid LH” tapi sampai sekarang belum diketahui disetujui atau tidak. Teman teman pasti mampu mengangsur setiap bulan seperti saya dulu yang tepat waktu.”

Sebelum mengakhiri obrolan ringan dengan Tirtanews, Bambang Sumantri pun sempat menunjukkan video saat ia beraksi dengan puisinya di TPA Tanjungrejo yang kondisinya sudah sangat kritis. “Ku tak rela dikotori sampah yang berbau!.(Grace)

BERITA LAINYA