Es Dawet Moro Seneng Ditekuni Secara Turun Temurun

Es dawet Moro seneng, dirintis turun temurun (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Penjual es dawet (cendhol) di Kudus banyak dijumpai di sejumlah tempat. Namun yang menekuni usaha ini secara turun temurun tergolong langka.

Salah satu diantaranya dawet Moro Seneng di Kota Kudus yang dirintis almarhum Sumitro sejak puluhan tahun lalu. Kemudian dilanjutkan kedua anaknya, Sugiyono dan Sugiarto.

Tempat mangkalnya tidak berubah, yaitu di dalam komplek Pasar Kliwon. Hanya saja telah dikembangkan, yang semula hanya menempati satu lokasi, kini menjadi dua lokasi.

“Ini merupakan salah satu bentuk upaya kami untuk tetap menekuni dan mengembangkan usaha secara turun temurun dari keluarga. Sekaligus untuk nguri-uri minuman khas Indonesia atau khas Jawa,” ujar Sugiyono Minggu siang (31/1/2021).

Warung es dawet Moro seneng akhir Januari 2021 (Foto Grace)

Menurut dia, kakak dari almarhum ayahnya (pak dhe) yang bernama Maslikan dan beberapa anaknya juga berjualan dawet di Pasar Kliwon, sehingga bagai mendominasi di pasar tradisional dan grosir terbesar wilayah pantai utara (pantura) bagian timur.

“Pelanggan kami tidak hanya warga Kudus, tetapi juga warga Jepara, Pati, Juwana maupun pedagang dari berbagai kota lain. Kami juga sering dipanggil dalam resepi pernikahan dan perhelatan lainnya. Biasanya minuman dawet untuk melengkapi acara tradisi siraman (salah satu rangkaian dari acara pernikahan). Terutama di kota Solo. ” tambahnya.

Sedang proses pembuatan dawet cukup sederhana. Dengan bahan baku berupa tepung aren Ditambah santan murni dari kelapa yang dicampur dengan daun pandan wangi. Lalu sirup gula pasir rasa prambos dan sirup gula Jawa

Sebelum muncul covid-19, setiap hari rata-rata mampu menjual 800 porsi dan bahkan setiap hari libur melonjak hingga dua kali lipat. “Pada menjelang akhir tahun 2014, harganya memang Rp 2.500/porsi Harga ini sama dengan harga ketika kami memperoleh pesanan Hanya saja transportasi dibebankan pada pengundang. Tapi pada saat ini, akhir Januari 2021 harganya sudah naik menjadi Rp 5.000 per porsi. Keuntungan bersih sekitar 20 persennya” ujar Sugiyono yang tinggal di Mlatinorowito Gang III.

Warung Es Dawet Moro seneng Akhir Novemver 2014

Lalu apa yang membedakan dawet Maraseneng dengan dawet yang diproduksi orang lain, menurut Sugiyono yang juga dikenal sebagai mantan pelatih penjaga gawang sepakbola di Kudus, tergantung cara meramu bahan-bahannya.

“Kami sama sekali tidak menggunakan bahan pengawet maupun pewarna. Semuanya alami. Khusus untuk santan, kami menggunakan santan matang, karena lebih higienes”

Ahmadi (45) asal Juwana, Supriyanto (35) dari Jepara dan Abu Bakar dari Kudus, yang ditemui terpisah, menyatakan sudah menjadi pelanggan sejak lebih dari lima tahun lalu.

“Rasanya enak, tempatnya bersih, harganya cukup terjangkau. Jadi ya kangeni. Paling lama seminggu sekali saya dan sejumlah teman pasti ke sini,” ujar Abu Bakar (Grace)

BERITA LAINYA