Gethuk Asale Saka Tela, Mata Ngantuk Tambane Gethuk Goreng Kajar

Gethuk Gotreng Sela Kajar Kudus (Foto Grace)

Tirtanews.id, KUDUS - Gethuk asale saka tela, Mata ngantuk iku tambane apa? Gethuk asale saka tela, Yen ra pethuk, atine rada gela Aja ngono, Dhik. Itu sepenggal salah satu lagu populer almarhum Didi Kempot.

Di Kudus kini sedang bermunculan warung gethuk goreng. Terutama di seputar jalan raya Desa Kajar Kecamatan Dawe. Tapi Jauh sebelumnya “wong kudus” akrab dengan gethuk gotri. Berbentuk bulat dan besarannya nyaris sebesar bola tennis.

Salah satu warung gethuk goreng tersebut bernama : Sela. Entah dari bahasa Jawa atau Indonesia. Namun yang pasti ditangani dua keluarga dengan anggota inti lima orang.

Satu diantaranya cewek,.Namanya Anita baru kelas III SMP. Ia kebagian di bagian menggoreng dan sering yang mengantar hidangan ke para tamu. Satunya lagi cowok, yang bertugas “ndeplok“ dengan gagang kayu.

Menggoreng (foto Grace)

Lalu ada pula cowok, lulusan SMK di Jepara jurusan. Kebagian “nggodhok” (memasak/merebus) singkong di dalam kuali dan menggunakan bahan bakar kayu. Dia dipercaya sebagai jurubicara. 

Merebus ketela pohon singkong selama satu jam dengan bahan bakar kayu (foto Grace)

“Usaha ini sudah berjalan sejak awal 1918. Selepas saya merantau di Bali selama dua tahun, ”tutur Aris. Tiga personil lainnya : Teguh, Ayun dan Abi.

Menumbuk hingga halus dengan alu (foto Grace)

Dengan modal uang yang dikumpulkan selama di Bali ditambah dari pihak keluarga sebesar Rp 10-15 juta dimulailah perjalanan usaha gethuk goreng. Tentunya juga “terbantu” pengalaman selama di Bali sebagai personil pemasaran.

“Kami melihat pangsa pasar gethuk goreng masih terbuka lebar di Kudus. Bahan bakunya juga mudah didapat dan harganya juga terjangkau. ”tambahnya.

Dalam sehari rata-rata mampu menghasilkan delapan zak gethuk siap saji. Setiap zak sama dengan sekitar 150 piring gethuk, sehingga total 1.200 piring/porsi yang ludes terjual. Satu porsi harga rata-rata Rp 10.000,-. Atau mengantungi hasil penjualan sekitar Rp 1,2 juta.

Sedang proses produksi seluruhnya manual. Ketela pohon yang dipasok para tetangga, kemudian dikuliti, di potong jika terlalu panjang (disesuaikan ukuran kuali), dicuci bersih. Kemudian direbus dengan menggunakan bahar kayu selama sekitar satu jam.

Petani setor ketela (foto grace)

Setelah itu sebagian demi sebagian dimasukkan dalam tempat khusus. Lalu di “deplok” – ditumbuk dengan alu sehingga menjadi “halus”.

Proses berikutnya diaduk dengan tangan bersarung plastik, sehingga membentuk semacam bola kecil. Sembari membersihkan “sontrot” (seperti lidi lembek). Lalu digoreng di dalam wajan dengan menggunakan kompor gas.

“Proses akhir disesuaiakan dengan permintaan pembeli. Mau genthuk original, coklat, keju, mix (campuran coklat keju) dan gethuk urap kelapa ”ujar Aris sambil memperlihatkan satu persatu dari lima varian gethuk gorengnya. Sebagai pelengkap Aris menyediakan minuman aneka jenis kopi, gorengan dan “cilok” (makanan/cemilan khas Bandung-Jabar).

Bagi Abu Bakar dan San Toksin, dua sahabat yang akrab dengan kuliner ini, gethuk goreng selain enak, murah dan sekaligus mampu mendongkrak ekonomi kelas “rakyat”.

“Modalnya tidak besar. Tidak butuh tempat yang “mewah”. Cukup di lingkungan rumah. Pembeli juga bisa melihat langsung proses produksnya, Mampu memberikan “kehidupan” bagi petani singkong”/ketela. Usaha gethuk goreng ini juga memberi warna kehidupan kuliner di sepanjang jalan raya menuju obyek wisata Kajar dan Colo, ”ujarnya.(Grace)

BERITA LAINYA